Kamis, 08 Januari 2015

PENGARUH MOTIVASI TERHADAP HASIL BELAJAR ANAK





I. PENDAHULUAN

Didalam dunia pendidikan, belajar adalah suatu kata yang sudah akrab bagi semua lapisan. Bagi para civitas akademika dari berbagai jenjang pendidikan ''belajar'' merupakan kata yang tidak asing bahkan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu. Didalam dunia psikologi, belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga. yang dengan melalui proses belajar tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan  tingkah laku.
Anak didik adalah individu dengan segala perbedaaanya dan guru sebagai pribadi kunci yang mengetahui keadaan psikologi tiap anak didik. Banyak anak didik yang mengalami kesulitan dalam belajar dan guru harus berusaha untuk memaksimalkan belajar mereka dengan harapan dapat meraih prestasi dan aktif dalam pembelajaran. Diantara kesulitan belajar anak adalah rendahnya minat anak dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan kurangnya motivasi yang diberikan guru didalam kelas.
Padahal peranan motivasi amat signifikan dalam proses belajar siswa. Banyak anak dengan minat yang minimal dan tingkat intelegensi yang rendah disebabkan tidak adanya motivasi atau dorongan dalam belajar. Keberhasilan peserta didik dalam belajar memang ditunjang berbagai hal, salah satunya adalah motivasi baik motivasi dalam diri maupun dari luar. Maka dalam karya tulis ilmiah ini saya mengangkat permasalahan mengenai minimalnya motivasi yang diberikan guru kepada siswa sehingga berimplikasi terhadap psikologi belajar siswa.

II. PEMBAHASAN

Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Kata motivasi sering diartikan dalam bentuk kata kerja atau rangsangan, dorongan yang menyebabkan sesuatu terjadi. Mc. Donald mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (oemar hamalik, 1992 : 173). perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata  berupa kegiatan fisik.
Dalam proses belajar bagi siswa motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar takkan mungkin bisa melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa segala sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat bagi orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya.Menurut bigg dan tefler dalam dimyati dan mujiono (1994) motivasi belajar siswa dapat menjadi lemah, lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi dalam belajar akan melemahkan kegiatan sehingga mutu belajar menjadi rendah.
Psikologi belajar itu sendiri adalah sebuah frase yang terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan belajar. yang dalam perkembangannya memunculkan definisi psikologi yang berbagai macam seperti psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life), psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind), dan psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behaviour).  Sedangkan menurut crow and crow, psichology of human behaviour and human relationship. Dari batasan tersebut diatas jelas bahwa yang dipelajari oleh psikologi adalah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia lain (human relationship) maupun yang bukan manusia seperti hewan, iklim, kebudayaan dan sebagainya. Sedangkan dalam pembelajaran psikologi yang terkait disini adalah psikologi tentang tingkah laku anak dalam aktivitas belajar. Aktivitas disini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik, menuju keperkembangan pribadi individu seutuhnya yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (afektif), karsa (psikomotorik).
Didalam penelitian yang kami lakukan saya rasa guru dalam sangat minimal dalam memberikan motivasi belajar kepada siswa, terlihat pada awal pembukaan kelas  dan akibatnya dalam pembelajaran dimana kurang antusiasnya siswa dalam mengikuti pembelajaran. Seharusnya guru memberikan motivasi yang cukup guna menumbuhkan minat dan rangsangan agar peserta didik semangat dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini tentunya menumbuhkan motivasi terhadap peserta didik siswa SD/MI yang secara karakteristik anak usia sekolah dasar adalah 6 tahun sampai selesai pada 12 tahun. Tentunya anak-anak dengan usia seolah ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Ia senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu hendaknya guru mengembangkan motivasi yang mengandung unsur permainan, mengusahakan siswa berpindah atau bergerak, bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan untuk terlibat langsung yang semuanya terangkum dalam proses sebelum dan selama pembelajaran.
Memang keberhasilan dalam pembelajaran ditunjang dengan berbagai faktor salah satunya adalah motivasi dimana fungsi motivasi sebagai pendorong, penggerak, dan pengarah perbuatan belajar agar bisa diperankan dengan baik.  Karena didalam kegiatan belajar dan mengajar ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan, seorang atau dua orang anak duduk dengan santainya dikursi mereka dengan alam pemikirannya yang jauh entah kemana. Sedikitpun mereka tidak termotivasi untuk ikut pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru atau mengerjakan tugas.
Sebagaimana yang diungkapkan Tyson dan carrol (1970) mengatakan bahwa “one of the most common problems encountered by teachers involves motivating the student to learn. Too frequently the teacher finds himself  confronted with a student who will not become an active participant in the proces or education, who will not enter the area of learning and engage in the instructional dialogue, and who will not focus his mind on the problem or goal under counsideration in the classroom. Such a student is motivated to learn, it is likelythat he will learn. By the same token, to the degree that a student is not motivated to learn it is unlikely he will do so”.
Kita lihat bahwa pernyataan kedua tokoh diatas memang beralasan, karena keadaanya ada diantara anak didik yang tidak termotivasi untuk belajar atau terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar dikelas. Sebagian anak didik aktif belajar bersama  dan sebagian anak didik dengan berbagai sikap dan perilaku yang terlepas dari kegiatan belajar dikelas. Kedua kegiatan anak didik yang bertentangan ini sebagai gambaran keadaan kelas yang kurang kondusif dan guru tidak boleh tinggal diam dengan keadaan tersebut tetapi harus langsung mengambil alih.
Keadaan tersebut bisa jadi karena Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran yang menjadi pangkal penyebab kenapa kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah dijelaskan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Kemiskinan motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan penanganan yang tidak bisa ditunda-tunda. Guru harus memberikan suntikan motivasi ekstrinsik sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.
Bila motivasi ekstrinsik yang diberikan guru dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi dapat diperankan dengan baik oleh guru. Peranan yang dimainkan oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik.
Baik motivasi instrinsik maupun ekstrinsik sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi perbuatan. Keiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar.
Sedangkan belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar siswa. Itu berarti belajar tidak berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan dalam. Motivasi itu sendiri adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi belajar adalah keadaan psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.
Motivasi memiliki peranan yang sangat signifikan dalam mensukseskan belajar siswa, oleh itu kenapa diawal sebelum pembelajaran guru diharapkan memberikan motivasi kepada siswa, karena diharapkan dari faktor psikologis tersebut siswa terangsang untuk mengikuti pembelajaran dan memperhatikan penjelasan dari guru serta fokus didalam kelas dan meridukan untuk senantiasa hadir dikelas keesokan harinya. Memang hal tersebut adalah tujuan yang ingin digapai setelah pemberian motivasi, namun karena berbagai faktor yang melatar belakangi siswa dalam psikologinya belajar menjadikan motivasi saja terkadang kurang mendukung. Namun dengan motivasi adalah sedikit upaya dalam menangani kesulitan belajar siswa.
Maka didalam kegiatan rutin dikelas sehari-hari guru harus menghindari hal-hal yang bersifat monoton dan membosankan. Guru harus bisa membangkitkan gairah anak didik dalam belajar dengan memberikannya berbagai macam motivasi seperti memberikan permainan yang bervariasi disetiap sebelum pembelajaran dimulai, memberikan angka agar siswa bergairah dalam belajar. Memberi hadiah juga bisa dijadikan sebagai alat motivasi, menumbuhkan kesadaran kepada peserta didik atauego-involvement agar anak didik merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga akan termotivasi untuk bekerja jeras dalam belajar, dan berbagai macam motivasi termasuk pemberian pujian dan hukuman.
Tidak diragukan lagi bahwa motivasi memiliki kontribusi yang signifikan dalam upaya mensukseskan belajar siswa. Mengelola motivasi dengan baik adalah tugas guru yang tidak hanya sebagai fasililtator tetapi juga motivator bagi anak didik. Guru harus memposisikan diri sebagai motivator handal dan membayangkan bahwa anak didiknya individu yang harus dimotivasi untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menjadi kewajibannya sebagai penuntut ilmu dan sebagai siswa disekolah.
Memang menggairahkan dan memancing minat anak didik agar tertarik dengan apa yang guru berikan tidak mudah , karena dunia anak adalah dunia bermain. Maka alangkah lebih baik jika uru menjadi lebih kreatif dalam mengemas motivasi dalam bentuk permainan yang disukai anak-anak. Tentunya karena dalam dunia pendidikan, maka permainan tersebut diharapkan berbentuk permainan yang edukatif dan mendidik, tidak hanya sekedar permainan yang memberikan efek senang saja. Apalagi peran guru diharapkan menjadi guru yang kreatif sehingga menjadikan anak didiknya menjadi anak didik yang aktif didalam pemebelajaran dikelas.

III. PENUTUP
Dengan ini motivasi menjadi faktor yang penting bagi setiap siswa dalam memaksimalkan proses belajarnya. Motivasi menjadi begitu urgen manakala siswa mengalami kesulitan belajar dan mengalami kekrang-gairahan dalam mengikuti setiap mata pelajaran. Motivasi memberikan dampak psikologis bagi siswa itu sendiri, yang berakibat menambah minat dia dalam belajar. Guru diharapakan menjadi motivator yang handal yang bisa memotivasi anak didiknya untuk menjadi siswa yang bersemangat dan memiliki antusiasme yang tinggi terhadap mata pelajaran dan kegiatan pembelajaran.
Semoga dengan makin variatifnya guru dalam memberikan motivasi kepada para peserta didik akan menghasilkan pembelajaran yang diminati siswa dan sukses dalam proses belajar para siswa maupun pembelajaran didalam kelas. Besar harapan kami semoga karya tulis ini menjadi manfaat bagi kita semua. Demikian yang bisa kami sampaiakan semoga bermanfaat. Aamiin









Tidak ada komentar:

Posting Komentar