PENDIDIKAN SADAR BACA
I.
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Penelitian dari The Progress of International Reading Literacy Study tahun 2011 menempatkan
prestasi membaca anak Indonesia pada peringkat ke-42 dari 45 negara. Penelitian
dilakukan terhadap siswa kelas empat untuk mengukur prestasi membaca anak-anak
dan mengumpulkan data tentang pengalaman belajar membaca anak-anak disekolah.
Dalam penelitian tersebut Indonesia menempati urutan ketiga paling
belakang diantara negara-negara yang juga dijadikan objek dalam penelitian.
Tentunya sebagai bangsa Indonesia kita tidak bisa menggugat hasil dari
penelitian tersebut, karena faktanya Indonesia kalah dengan negara tetangga
seperti Singapura, dan Malaysia. Berbicara mengenai hasil penelitian dari PIRLS
tersebut erat kaitannya dengan minat baca. Hasil penelitian dari UNESCO tahun
2012 tentang indeks minat baca orang Indonesia menjelaskaan bahwa minat baca
orang Indonesia baru 0.001 % yang berati jika ada 1000 orang hanya 1 orang yang
mempunyai minat baca. Sungguh ironi, dan tentu saja hasil penelitian tersebut
tidak bisa dinafikan begitu saja memperhatikan realita yang ada juga seperti
itu adanya.
Bagaimana dengan nasib anak bangsa yang sedang menempuh pendidikan
disekolah dasar, padahal merekalah penerus kehidupan bangsa dan negara.
Negara-negara didunia menjadi negara maju juga karena aktivitas membacanya yang
tinggi. Jika Indonesia menginginkan
menjadi negara maju maka Indonesia harus mulai dengan cara yang berpendidikan
dan berperadaban yaitu membaca. Dimulai dan dibiasakan dari sejak dini, sejak
anak-anak disekolah dasar.
B. RUMUSAN MASALAH
a.
Bagaimana
keterkaitan antara Minat dengan
aktivitas membaca?
b.
Bagaimana
Perkembangan membaca anak usia Sekolah Dasar?
c.
Bagaimana
meningkatkan minat membaca kepada anak?
d.
Bagaimana
peran guru dan orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak?
C.
TUJUAN
Adapun
tujuan penulisan artikel ini adalah
sebagai berikut:
a.
Untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah bahasa dan sastra dikelas tinggi.
b.
Sebagai
refleksi terhadap realitas pendidikan di Indonesia khususnya mengenai minat
anak dalam membaca.
II.
PEMBAHASAN
A.
HUBUNGAN MINAT DENGAN AKTIVITAS MEMBACA ANAK
Hilgard dalam daryanto, memberi rumusan tentang minat, yaitu interest
is persisting tendency to pay attention to and enjoy same activity or content. Minat
adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati beberapa
kegiatan. Minat adalah rasa tertarik terhadap suatu hal atau kegiatan. Minat
bukanlah bawaan lahir sebagaimana bakat yang telah ada pada seseorang. Minat
bisa dibuat dan dibangkitkan.
Membaca adalah salah satu ketrampilan dasar dalam tahapan seseorang
belajar bahasa. Apalagi pada masa usia anak-anak, membaca adalah salah satu
sarana mereka mengenal dunia dan membantu mereka untuk mencapai jenjang
pendidikan yang lebih lanjut.
Karakteristik anak-anak usia sekolah dasar adalah anak-anak yang
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sering mempertanyakan segala sesuatu dan
memiliki minat atau ketertarikan yang tinggi terhadapa suatu hal. Anak pada
usia sekolah memiliki daya eksplorasi yang besar sehingga alangkah lebih
baiknya ketika minat dan rasa bereksplorasi yang sangat besar tersebut
tersalurkan dengan tepat dan pada aktivitas yang bermanfaat. Keinginan tahuan
anak yang besar bisa dialihkan untuk bereksplorasi mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaaannya pada sebuah buku.
Penyaluran minat pada aktivitas yang bermakna dan sarat dengan
pengetahuan bagi anak adalah membiasakannya membaca di kesehariannya baik
disekolah dan dirumah. Minat terhadap membaca bisa dimodifikasi dan
dibangkitkan dengan menggunakan berbagai varian cara, menyesuaikan dengan
karakteristik anak sekolah dasar. Umumnya anak sekolah dasar menyukai buku yang
ada gambarnya, maka dalam penyajian membaca alangkah lebih baiknya jika
dikaitkan dengan mendongeng, sehingga imajinasi anak juga akan muncul.
B.
PERKEMBANGAN MEMBACA ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Menurut Anderson : Membaca adalah melafalkan
lambang-lambang bahasa tulis.Sedangkan menurut A.S. Broto Membaca adalah
mengucapkan lambang bunyi.Henry Guntur Tarigan
memberikan definisi membaca adalah proses pemerolehan pesan yang
disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan.
Membaca adalah tujuan fundamental yang anak-anak harus kuasai agar
bisa berhasil di sekolah dan dalam kehidupan. Sebagai seorang pendidk harus
menyadari itu. Bagi banyak orang, membaca telah menjadi ‘’sebuah angka yang
Cuma menggambarkan satu level prestasi, daripada suatu proses yang kompleks. Kegiatan
membaca adalah satu bidang canggih dari banyak ketrampilan individu yang
berbeda. Termasuk kemampuan dalam memecahkan masalah dan menguraikan kata-kata
yang tidak familier dan tidak diketahui.
Kemampuan
anak dalam membaca memiliki tahapan :
a. Usia 6-7 tahun : belajar
membaca dan menulis
Pada
tahun pertama SD, makin banyak kata yang dibaca oleh anak. Anak mulai dapat
mengenali kata tanpa harus mengeja terlebih dahulu dan mengerti makna sebagian
besar kata dan kalimat yang dibacanya. Pada pertengahan tahun pertama, ia dapat
membaca sendiri buku-buku sederhana. Pada usia ini, sediakan untuk anak bacaan
yang bervariasi, dapat berupa buku atau majalah. Manfaatkan perpustakaan
sekolah semaksimal mungkin. Pada usia ini anak sudah mahir memegang pensil atau
pena. Pada akhir masa ini, anak sudah mahir menulis, dengan tulisan yang dapat
dibaca.
b.
Usia 7-8 tahun : belajar membaca tingkat lanjut
Makin
banyak kata dan kalimat yang telah dibaca oleh anak usia ini. Dengan membaca,
anak memperluas kosakata dan pengetahuannya tentang dunia di sekitarnya. Anak
dapat membaca keras-keras dengan ekspresi dan sudah memiliki preferensi buku
atau cerita yang disenanginya. Bila membaca cerita, anak sudah dapat
mengidentifikasi tokoh, setting, dan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Pada
akhir masa ini, biasanya anak sudah dapat membaca sendiri dengan lancar.
c.
Usia 8 tahun ke atas
Setelah
usia 8 tahun, anak sudah mahir mempergunakan keterampilan membacanya untuk
belajar baik di dalam maupun di luar sekolah. Pada usia remaja, anak sudah
mengerti sepenuhnya apa yang dibacanya. Jenis bacaannya pun bervariasi, mulai
dari fiksi hingga nonfiksi.
Ketika anak sudah memasuki fase 8 tahun keatas inilah
masa-masa yang pas yang bisa digunakan guru dan orang tua untuk membawa
anak-anak pada kesempatan mengenal dunia lebih luas dengan aktivitas membaca.
C.
MENINGKATKAN MINAT MEMBACA
ANAK
Aktivitas membaca memang harus dibiasakan sejak dini dan dijadikan
kebiasaan sejak anak memasuki masa sekolah. Anak-anak pada usia sekolah adalah
masa-masa emas untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik. Menurut teori
belajar sosial albert bandura anak adalah peniru yang handal. Mereka akan
meniru apa saja yang mereka lihat. Maka sudah sepatutnya, memanfaatkan moment
meniru anak, sebagai guru dan juga orang tua dituntut untuk menunjukan teladan
yang meliputi sikap, ucapan juga kebiasaan yang baik.
Anak cenderung mengamati apa saja yang ada dihadapannya,
mengeksplorasi segalanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Membangun suasana didalam kelas yang
menyenangkan adalah tugas guru dan dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan
minat baca anak-anak. Penyajian atau kemasan pembelajaran yang menarik dengan
berbagai variasi adalah salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk
mencapainya.
Ketika anak-anak usia sekolah dasar sudah bisa membaca dengan
lancar, maka yang selanjutnya yang tidak kalah penting adalah membangkitkan
minatnya dalam mebaca. Jadi aktivitas membaca tidak hanya berhenti pada tahapan
‘’bisa’’ namun juga ‘’terbiasa’’.
Dari pihak sekolah hendaknya menciptakan perpusatkaan yang memadai
dan bersih akan mebuat banyak siswa tertarik untuk mengunjunginya dan membuat
siswa lebih nyaman membaca. Dengan cara itu banyak siswa yang akan suka membaca
di perpustakaan.
Perpustakaan sekolah diperlukan untuk membiasakan peserta didik mendekatkan
diri dengan ilmu pengetahuan yang tersebar luas diluar text book yang
disediakan sekolah. Terdapat dua model yang dapat diterapkan, yaitu:
Force : Guru memberi tugas bacaan dengan halaman/bab/buku
tertentu yang tersedia di perpustakaan, kemudia meminta siswa/siswi untuk
meringkas dan mempresentasikan hasil bacaan.
Persuasive : Menjadikan
perpustakaan sebagai tempat terindah dan ternyaman di sekolah dengan
menempelkan poster, lukisan, atau gambar yang menarik sehingga suasana
perpustakaan tidak kaku dan menarik
Mencontoh dari singapura, salah satu sekolah dasar di singapura
yaitu nanyang elementary school of singapura menerapkan program membaca selama
tiga puluh menit sebelum kelas dimulai. Kegiatan tersebut cukup memberikan
dampak yang positif dalam mebiasakan membaca bagi anak-anak.
Langkah selanjutnya
berikanlah hadiah untuk mereka yang rajin membaca. Caranya bisa dilakukan
dengan kerjasama antara pihak perpustakaan dan kepala sekolah melalui
kebijakan. Hadiah tersebut bisa diberikan misalnya untuk siswa paling sering
meminjam buku di perpustakaan. Namun perlu dicatat bahwa pemberian hadiah ini
juga harus dilihat bukan hanya pelajar yang hanya suka meminjam buku
perpustakaan saja tapi harus dilihat prestasinya.
Ini penting supaya
pelajar tidak hanya mengejar supaya dapat hadiah kemudian mereka hanya sering
pinjam buku tapi tidak pernah membacanya. Jadi ada semacam ketentuan berlaku
disini bahwa yang mendapatkan hadiah adalah mereka yang rajin meminjam buku
yang kemudian diikuti dengan peningkatan prestasi setelah rajin membaca. Jenis
hadiah sendiri bisa dalam bentuk pulsa (yang disukai pelajar), Uang saku, dan
sejenisnya yang pasti disukai siswa.
Mungkin sebenarnya di
setiap sekolah yang paling tahu terkait dengan kondisi di sekolah adalah diri
anda sendiri dan ketiga tips ini merupakan hanya sebagian kecil tips yang diharapkan
bisa membantu untuk meningkatkan minat baca pelajar di seluruh Indonesia.
Jangan terus salahkan pelajar bahwa minat baca mereka
rendah tapi teruslah berfikir dan berfikir serta lakukan inovasi dan strategi
bagaimana supaya minat baca pelajar di negeri ini meningkat.Setiap masalah
rendahnya minat baca memang sudah menjadi masalah kita semua, penyebabnya juga
teramat sangat beragam.
Kita harus terus
lakukan sesuatu untuk mencari solusi atas masalah yang terjadi. Pada saatnya
nanti kita akan menikmati hasilnya jika para siswa kita sudah menjadikan
membaca sebagai budaya mereka.
D.
PERAN GURU DAN ORANG TUA
DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK
Makna guru mengalami perkembangan definisi, tidak hanya sebagai
agen yang mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga
sebagai motivator dan fasilitator.
Guru sebagai motivator adalah yang bisa membangkitkan motivasi
siswa dalam membaca. Siswa adalah individu yang membutuhkan untuk dibangkitkan
semangatnya dalam belajar dan dalam melakukan segala hal. Reward adalah perlu
ketika siswa tersebut berhasil menjalankan instruksi yang diberikan oleh guru.
Guru sebagi fasilitator adalah penyedia akan adanya kebutuhan bahan
bacaan baik di ruang lingkup sekolah maupun diluar sekolah. Guru adalah agent
of change dalam erubah budaya membaca di masyarakat indonesia. dimulai dari
anak-anak didiknya guru bisa membangun sebuah peradaban. Sebuah peradaban
tentang ilmu pengetahuan yang dimulai sejak dini, yang dibiasakan sejak
anak-anak. Adalah suatu hal yang amat mulia manakala guru bisa menularkan
kebiasaan membaca kepada siswanya, karena dengan itu guru telah membukaakan
pintu menuju cakrawala dunia. Dengan
Didalam teori belajar sosial yang dicetuskan oleh Albert Bandura
menyebutkan bahwa anak-anak adalah peniru yang handal. Sebagai seorang peniru,
anak-anak tentunya harus memiliki model yang bisa ditirunya. Anak-anak sebagai
peniru dan guru sebagai model adalah sinergi yang ada di ranah sekolah. Anak
mengamati guru dan menyerapa apa yang ditampilkan oleh guru, baik sikap
perbuatan maupun tingkah laku.
Maka menjadi guru, harus sepatutnya bisa menjadi model atau contoh,
lebih tepatnya adalah teladan bagi anak didiknya. Kaitannya dengan membaca maka
dari diri guru itulah kebiasaaan membaca harus ditumbuh kembangkan. Guru tdak
hanya cukup menjadi motivator yang hanya memotivasi siswanya untuk rajin
membaca padahal dirinya pun jarang mmbaca maka sama saja nonsense. Guru sebagai
fasilitator yang menyediakan akan ketersediaan sumber bacaan yang ada disekolah
maupun diluar sekolah.
Selain disekolah, peran orang tua juga diharapkan maksimal ketika
mengajarkan anak-anaknya untuk rajin membaca. Apalagi jika kita melihat pern
ibu didalam rumah. Mengutip pepatah arab yang mengatakan bahwa ‘’al-ummu
madrasatul ‘ula’’ ibu adalah madrasah yang pertama. Ibu adalah madrasah yang
mengajarkan dan mendidik anak-anaknya, mengajarkan segalanya termasuk
menumbuhkan minat dan menciptakan kebiasaan membaca.
Orang tua lah yang hendaknya memprakarsai untuk pertama kalinya
dalam keluarga untuk membiasakan membaca. Keseharian dirumah hendaknya
disetting sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang ramah baca.
Memperbanyak koleksi buku, membiasakan mendongeng dan mengajak anak-anak ke
toko buku adalah beberapa cara untuk merangsang minat baca anak dan memulai
untuk menciptakan kebiasaan membaca.
III.
KESIMPULAN
Membaca bagi anak-anak adalah memberikan kepadanya pintu untuk
mengetahui cakrawala dunia. Dengan membaca anak-anak bisa berexplorasi tentang
dunianya, tentang rasa ingin tahunya yang besar. Membaca melatih perbendaharaan
anak, sehingga anak akan memiliki kosakata bahasa yang banyak. Membaca melatih
kesabaran dan kekreatifitasan anak.
Kebiasaan membaca pada anak adalah mutlak dan perlu, karena berawal
dari anak-anaklah sebuah peradaban besar sedang dibangun. Anak-anak akan
terbiasa dengan aktivitas yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Berawal
dari memabca, maka ketrampilan menulisa akan terbentuk karena anak-anak sudah
kaya dengan pengetahuan katanya. Dalam
ranah berbicara puna anak-anak makin
aktif karena ia banyak pengetahuan dan tentu saja akan meningkatkan hasil
prestasi belajarnya.
IV.
SARAN
Demikian artikel yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan
sampaikan kepada kami.
Apabila ada terdapat
kesalahan mohon dapat mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba
Allah yang tak luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.
Waallhu ‘alamu bi showab.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar