Rabu, 07 Januari 2015

PENDIDIKAN SADAR BACA


PENDIDIKAN SADAR BACA 
I.              PENDAHULUAN
A.       LATAR BELAKANG
Penelitian dari The Progress of International Reading Literacy Study tahun 2011 menempatkan prestasi membaca anak Indonesia pada peringkat ke-42 dari 45 negara. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas empat untuk mengukur prestasi membaca anak-anak dan mengumpulkan data tentang pengalaman belajar membaca anak-anak disekolah.
Dalam penelitian tersebut Indonesia menempati urutan ketiga paling belakang diantara negara-negara yang juga dijadikan objek dalam penelitian. Tentunya sebagai bangsa Indonesia kita tidak bisa menggugat hasil dari penelitian tersebut, karena faktanya Indonesia kalah dengan negara tetangga seperti Singapura, dan Malaysia. Berbicara mengenai hasil penelitian dari PIRLS tersebut erat kaitannya dengan minat baca. Hasil penelitian dari UNESCO tahun 2012 tentang indeks minat baca orang Indonesia menjelaskaan bahwa minat baca orang Indonesia baru 0.001 % yang berati jika ada 1000 orang hanya 1 orang yang mempunyai minat baca. Sungguh ironi, dan tentu saja hasil penelitian tersebut tidak bisa dinafikan begitu saja memperhatikan realita yang ada juga seperti itu adanya.
Bagaimana dengan nasib anak bangsa yang sedang menempuh pendidikan disekolah dasar, padahal merekalah penerus kehidupan bangsa dan negara. Negara-negara didunia menjadi negara maju juga karena aktivitas membacanya yang tinggi.  Jika Indonesia menginginkan menjadi negara maju maka Indonesia harus mulai dengan cara yang berpendidikan dan berperadaban yaitu membaca. Dimulai dan dibiasakan dari sejak dini, sejak anak-anak disekolah dasar.

B.       RUMUSAN MASALAH
a.         Bagaimana keterkaitan antara Minat dengan  aktivitas membaca?
b.        Bagaimana Perkembangan membaca anak usia Sekolah Dasar?
c.         Bagaimana meningkatkan minat  membaca kepada anak?
d.        Bagaimana peran guru dan orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak?

C.       TUJUAN
Adapun tujuan penulisan artikel  ini adalah sebagai berikut:
a.         Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah bahasa dan sastra dikelas tinggi.
b.        Sebagai refleksi terhadap realitas pendidikan di Indonesia khususnya mengenai minat anak dalam membaca.

II.              PEMBAHASAN
A.       HUBUNGAN MINAT DENGAN AKTIVITAS MEMBACA ANAK
Hilgard dalam daryanto, memberi rumusan tentang minat, yaitu interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy same activity or content. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati beberapa kegiatan. Minat adalah rasa tertarik terhadap suatu hal atau kegiatan. Minat bukanlah bawaan lahir sebagaimana bakat yang telah ada pada seseorang. Minat bisa dibuat dan dibangkitkan.
Membaca adalah salah satu ketrampilan dasar dalam tahapan seseorang belajar bahasa. Apalagi pada masa usia anak-anak, membaca adalah salah satu sarana mereka mengenal dunia dan membantu mereka untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih lanjut.
Karakteristik anak-anak usia sekolah dasar adalah anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sering mempertanyakan segala sesuatu dan memiliki minat atau ketertarikan yang tinggi terhadapa suatu hal. Anak pada usia sekolah memiliki daya eksplorasi yang besar sehingga alangkah lebih baiknya ketika minat dan rasa bereksplorasi yang sangat besar tersebut tersalurkan dengan tepat dan pada aktivitas yang bermanfaat. Keinginan tahuan anak yang besar bisa dialihkan untuk bereksplorasi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaaannya pada sebuah buku.
Penyaluran minat pada aktivitas yang bermakna dan sarat dengan pengetahuan bagi anak adalah membiasakannya membaca di kesehariannya baik disekolah dan dirumah. Minat terhadap membaca bisa dimodifikasi dan dibangkitkan dengan menggunakan berbagai varian cara, menyesuaikan dengan karakteristik anak sekolah dasar. Umumnya anak sekolah dasar menyukai buku yang ada gambarnya, maka dalam penyajian membaca alangkah lebih baiknya jika dikaitkan dengan mendongeng, sehingga imajinasi anak juga akan muncul.

B.       PERKEMBANGAN MEMBACA ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Menurut Anderson : Membaca adalah melafalkan lambang-lambang bahasa tulis.Sedangkan menurut A.S. Broto Membaca adalah mengucapkan lambang bunyi.Henry Guntur Tarigan  memberikan definisi membaca adalah proses pemerolehan pesan yang disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan.
Membaca adalah tujuan fundamental yang anak-anak harus kuasai agar bisa berhasil di sekolah dan dalam kehidupan. Sebagai seorang pendidk harus menyadari itu. Bagi banyak orang, membaca telah menjadi ‘’sebuah angka yang Cuma menggambarkan satu level prestasi, daripada suatu proses yang kompleks. Kegiatan membaca adalah satu bidang canggih dari banyak ketrampilan individu yang berbeda. Termasuk kemampuan dalam memecahkan masalah dan menguraikan kata-kata yang tidak familier dan tidak diketahui.
Kemampuan anak dalam membaca memiliki tahapan :
a.       Usia 6-7 tahun : belajar membaca dan menulis
Pada tahun pertama SD, makin banyak kata yang dibaca oleh anak. Anak mulai dapat mengenali kata tanpa harus mengeja terlebih dahulu dan mengerti makna sebagian besar kata dan kalimat yang dibacanya. Pada pertengahan tahun pertama, ia dapat membaca sendiri buku-buku sederhana. Pada usia ini, sediakan untuk anak bacaan yang bervariasi, dapat berupa buku atau majalah. Manfaatkan perpustakaan sekolah semaksimal mungkin. Pada usia ini anak sudah mahir memegang pensil atau pena. Pada akhir masa ini, anak sudah mahir menulis, dengan tulisan yang dapat dibaca.
b.      Usia 7-8 tahun : belajar membaca tingkat lanjut
Makin banyak kata dan kalimat yang telah dibaca oleh anak usia ini. Dengan membaca, anak memperluas kosakata dan pengetahuannya tentang dunia di sekitarnya. Anak dapat membaca keras-keras dengan ekspresi dan sudah memiliki preferensi buku atau cerita yang disenanginya. Bila membaca cerita, anak sudah dapat mengidentifikasi tokoh, setting, dan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Pada akhir masa ini, biasanya anak sudah dapat membaca sendiri dengan lancar.


c.       Usia 8 tahun ke atas
Setelah usia 8 tahun, anak sudah mahir mempergunakan keterampilan membacanya untuk belajar baik di dalam maupun di luar sekolah. Pada usia remaja, anak sudah mengerti sepenuhnya apa yang dibacanya. Jenis bacaannya pun bervariasi, mulai dari fiksi hingga nonfiksi.
Ketika anak sudah memasuki fase 8 tahun keatas inilah masa-masa yang pas yang bisa digunakan guru dan orang tua untuk membawa anak-anak pada kesempatan mengenal dunia lebih luas dengan aktivitas membaca.
C.       MENINGKATKAN MINAT  MEMBACA ANAK
Aktivitas membaca memang harus dibiasakan sejak dini dan dijadikan kebiasaan sejak anak memasuki masa sekolah. Anak-anak pada usia sekolah adalah masa-masa emas untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik. Menurut teori belajar sosial albert bandura anak adalah peniru yang handal. Mereka akan meniru apa saja yang mereka lihat. Maka sudah sepatutnya, memanfaatkan moment meniru anak, sebagai guru dan juga orang tua dituntut untuk menunjukan teladan yang meliputi sikap, ucapan juga kebiasaan yang baik.
Anak cenderung mengamati apa saja yang ada dihadapannya, mengeksplorasi segalanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya.  Membangun suasana didalam kelas yang menyenangkan adalah tugas guru dan dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Penyajian atau kemasan pembelajaran yang menarik dengan berbagai variasi adalah salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk mencapainya.
Ketika anak-anak usia sekolah dasar sudah bisa membaca dengan lancar, maka yang selanjutnya yang tidak kalah penting adalah membangkitkan minatnya dalam mebaca. Jadi aktivitas membaca tidak hanya berhenti pada tahapan ‘’bisa’’ namun juga ‘’terbiasa’’.
Dari pihak sekolah hendaknya menciptakan perpusatkaan yang memadai dan bersih akan mebuat banyak siswa tertarik untuk mengunjunginya dan membuat siswa lebih nyaman membaca. Dengan cara itu banyak siswa yang akan suka membaca di perpustakaan.
Perpustakaan sekolah diperlukan untuk membiasakan peserta didik mendekatkan diri dengan ilmu pengetahuan yang tersebar luas diluar text book yang disediakan sekolah. Terdapat dua model yang dapat diterapkan, yaitu:
Force : Guru memberi tugas bacaan dengan halaman/bab/buku tertentu yang tersedia di perpustakaan, kemudia meminta siswa/siswi untuk meringkas dan mempresentasikan hasil bacaan.
Persuasive : Menjadikan perpustakaan sebagai tempat terindah dan ternyaman di sekolah dengan menempelkan poster, lukisan, atau gambar yang menarik sehingga suasana perpustakaan tidak kaku dan menarik
Mencontoh dari singapura, salah satu sekolah dasar di singapura yaitu nanyang elementary school of singapura menerapkan program membaca selama tiga puluh menit sebelum kelas dimulai. Kegiatan tersebut cukup memberikan dampak yang positif dalam mebiasakan membaca bagi anak-anak.
Langkah selanjutnya berikanlah hadiah untuk mereka yang rajin membaca. Caranya bisa dilakukan dengan kerjasama antara pihak perpustakaan dan kepala sekolah melalui kebijakan. Hadiah tersebut bisa diberikan misalnya untuk siswa paling sering meminjam buku di perpustakaan. Namun perlu dicatat bahwa pemberian hadiah ini juga harus dilihat bukan hanya pelajar yang hanya suka meminjam buku perpustakaan saja tapi harus dilihat prestasinya.
Ini penting supaya pelajar tidak hanya mengejar supaya dapat hadiah kemudian mereka hanya sering pinjam buku tapi tidak pernah membacanya. Jadi ada semacam ketentuan berlaku disini bahwa yang mendapatkan hadiah adalah mereka yang rajin meminjam buku yang kemudian diikuti dengan peningkatan prestasi setelah rajin membaca. Jenis hadiah sendiri bisa dalam bentuk pulsa (yang disukai pelajar), Uang saku, dan sejenisnya yang pasti disukai siswa.
Mungkin sebenarnya di setiap sekolah yang paling tahu terkait dengan kondisi di sekolah adalah diri anda sendiri dan ketiga tips ini merupakan hanya sebagian kecil tips yang diharapkan bisa membantu untuk meningkatkan minat baca pelajar di seluruh Indonesia.
Jangan terus salahkan pelajar bahwa minat baca mereka rendah tapi teruslah berfikir dan berfikir serta lakukan inovasi dan strategi bagaimana supaya minat baca pelajar di negeri ini meningkat.Setiap masalah rendahnya minat baca memang sudah menjadi masalah kita semua, penyebabnya juga teramat sangat beragam.
Kita harus terus lakukan sesuatu untuk mencari solusi atas masalah yang terjadi. Pada saatnya nanti kita akan menikmati hasilnya jika para siswa kita sudah menjadikan membaca sebagai budaya mereka.
D.       PERAN GURU DAN ORANG TUA  DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK
Makna guru mengalami perkembangan definisi, tidak hanya sebagai agen yang mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator.
Guru sebagai motivator adalah yang bisa membangkitkan motivasi siswa dalam membaca. Siswa adalah individu yang membutuhkan untuk dibangkitkan semangatnya dalam belajar dan dalam melakukan segala hal. Reward adalah perlu ketika siswa tersebut berhasil menjalankan instruksi yang diberikan oleh guru.
Guru sebagi fasilitator adalah penyedia akan adanya kebutuhan bahan bacaan baik di ruang lingkup sekolah maupun diluar sekolah. Guru adalah agent of change dalam erubah budaya membaca di masyarakat indonesia. dimulai dari anak-anak didiknya guru bisa membangun sebuah peradaban. Sebuah peradaban tentang ilmu pengetahuan yang dimulai sejak dini, yang dibiasakan sejak anak-anak. Adalah suatu hal yang amat mulia manakala guru bisa menularkan kebiasaan membaca kepada siswanya, karena dengan itu guru telah membukaakan pintu menuju cakrawala dunia. Dengan
Didalam teori belajar sosial yang dicetuskan oleh Albert Bandura menyebutkan bahwa anak-anak adalah peniru yang handal. Sebagai seorang peniru, anak-anak tentunya harus memiliki model yang bisa ditirunya. Anak-anak sebagai peniru dan guru sebagai model adalah sinergi yang ada di ranah sekolah. Anak mengamati guru dan menyerapa apa yang ditampilkan oleh guru, baik sikap perbuatan maupun tingkah laku.
Maka menjadi guru, harus sepatutnya bisa menjadi model atau contoh, lebih tepatnya adalah teladan bagi anak didiknya. Kaitannya dengan membaca maka dari diri guru itulah kebiasaaan membaca harus ditumbuh kembangkan. Guru tdak hanya cukup menjadi motivator yang hanya memotivasi siswanya untuk rajin membaca padahal dirinya pun jarang mmbaca maka sama saja nonsense. Guru sebagai fasilitator yang menyediakan akan ketersediaan sumber bacaan yang ada disekolah maupun diluar sekolah.
Selain disekolah, peran orang tua juga diharapkan maksimal ketika mengajarkan anak-anaknya untuk rajin membaca. Apalagi jika kita melihat pern ibu didalam rumah. Mengutip pepatah arab yang mengatakan bahwa ‘’al-ummu madrasatul ‘ula’’ ibu adalah madrasah yang pertama. Ibu adalah madrasah yang mengajarkan dan mendidik anak-anaknya, mengajarkan segalanya termasuk menumbuhkan minat dan menciptakan kebiasaan membaca.
Orang tua lah yang hendaknya memprakarsai untuk pertama kalinya dalam keluarga untuk membiasakan membaca. Keseharian dirumah hendaknya disetting sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang ramah baca. Memperbanyak koleksi buku, membiasakan mendongeng dan mengajak anak-anak ke toko buku adalah beberapa cara untuk merangsang minat baca anak dan memulai untuk menciptakan kebiasaan membaca.


















III.              KESIMPULAN
Membaca bagi anak-anak adalah memberikan kepadanya pintu untuk mengetahui cakrawala dunia. Dengan membaca anak-anak bisa berexplorasi tentang dunianya, tentang rasa ingin tahunya yang besar. Membaca melatih perbendaharaan anak, sehingga anak akan memiliki kosakata bahasa yang banyak. Membaca melatih kesabaran dan kekreatifitasan anak.
Kebiasaan membaca pada anak adalah mutlak dan perlu, karena berawal dari anak-anaklah sebuah peradaban besar sedang dibangun. Anak-anak akan terbiasa dengan aktivitas yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Berawal dari memabca, maka ketrampilan menulisa akan terbentuk karena anak-anak sudah kaya dengan  pengetahuan katanya. Dalam ranah berbicara puna  anak-anak makin aktif karena ia banyak pengetahuan dan tentu saja akan meningkatkan hasil prestasi belajarnya.

IV.              SARAN
Demikian artikel  yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami.
Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, Alfa dan lupa.

Waallhu ‘alamu bi showab.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar