Kamis, 08 Januari 2015

PENDIDIKAN KARAKTER



Pendidikan karakter menjadi urgent karena peranannya yang sangat vital dalam membentuk karakter  anak didik dalam pembentukan pribadi yang memiliki sikap dan mentalitas yang matang. Membentuk siswa yang berkarakter memang tak semudah membalikkan telapak tangan tapi butuh yang namanya proses yang berlangsung secara kesinambungan, tak hanya sekedar teori saja tapi lebih kepada praktikal. Karena karakter ini harus terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari , maka diperlukan kesungguhan tidak hanya dari pihak pelaksana pendidikan tapi juga dari para peserta didik. Salah satu bentuk karakter yang hendak di kembangkan adalah mencapai karakter peserta didik yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan kesadaran untuk mendisiplinkan diri dalam kehidupan sehari-hari.
            Mengenai pendidikan karakter  bagi anak lebih baik dilakukan semenjak kecil sebagaimana  disebutkan aqil zainal dalam bukunya pendidikan karakter  bahwa untuk menanamkan nilai karakter pada anak akan lebih mudah diberikan pada anak usia dini dan juga bisa dilakukan 50% dari keluarga dan 50% melalui sekolah.  Sedangkan menurut daniel goldman  dalam bukunya kecerdasan ganda menyebutkan bahwa kecerdasan sosial dan emosial dalam kehidupan dibutuhkan 80%  sedangkan kecerdasan intelektual hanya 20%. Oleh karena itu menenamkan karakter  lebih mudah melalui jalur pendidikan, salah satunya pendidikan nonformal karena kecerdasan sosial lebih membawa dampak pada perjalanan hidup kedepan.Didalam indonesia haritage  foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter, dan karakter tanggung jawab adalah berada diurutan kedua setelah cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya.
            Pengertian tanggung jawab itu sendiri menurut kamus besar bahasa indonesia adalah keadaan dimana wajib menanggung segala sesuatu sehngga berkewajiban menanggung, memanggul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab atau menanggung akibatnya. Tanggung jawab menjadi  suatu hal yang penting yang harus dibiasakan dalam diri anak didik, karena peranan tanggung jawab adalah penentu setiap tindakan dan sesuatu yang akan dilakukan. Dengan memiliki tanggung jawab segala sesuatu akan mengalami proses  penimbangan dan merasa segala sesuatu yang dikerjakannya memiliki hal yang harus dipertanggung jawabkan, boleh jadi tanggung jawab adalah karakter yang  harus ditanamkan terlebih dahulu, karena dengan adanya rasa tanggung jawab yang dimiliki maka akan munculah rasa kesadaran yang akan melahirkan sikap-sikap karakter yang positif yang lain.  
            Dalam ranah apapun sangat diperlukan rasa tanggung jawab, agar setiap anak memiliki kepekaan terhadapa apa yang dimiliki. Korelasi antara rasa tanggung jawab dengan disiplin adalah seperti satu paket yang  satu sama lain saling berkaitan erat, keduanya merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Karena dimasa anak-anak yang sebenarnya belum memiliki tanggung jawab yang begitu besar, namun bibit tersebut harus disemai dan dipupuk sejak kecil sehingga menjadi terbiasa dan tertanam kuat di tiap anak. Tanggung jawab adalah modal dasar dalam segala hal, memegang peranan yang penting  dalam berperilaku setiap harinya.
            Tanggung jawab tidak ada dengan sendirinya dalam diri anak, karena anak lahir tanpa ada kesadaran bertanggung jawab, oleh karena itu menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak adalah tugas dari banyak pihak terutama pihak terkait yaitu orang tua dalam hal ini lingkungan keluarga, dan juga kontribusi pendidikan anak yang didalamnya terdapat pendidikan karakter. Namun sebagian orang tua berpikir bahwa tanggung jawab yang ditumbuhkan dalam diri anak adalah tugas sekolahan, ini adalah perspektif yang keliru karena sebenarnya pendidikan karakter adalah fasilitator dalam pembentukan karakter yang bertanggung jawab. Lebih daro itu orang tua dalam hal ini lingkungan keluarga yang harus memberikan kontribusi lebih dalam membemtuk karakter anak yang bertanggung jawab.
            Dengan perlahan-lahan pendidikan karakter untuk membentuk anak yang memiliki rasa tanggung jawab bisa dimulai dari pendidikan oleh  orang tua, perlakuan didalam rumah menjadi cara untuk mendidik yang bisa diterapkan setiap hari seperti mengajari dari sesuatu yang kecil dan yang harus menjadi tanggung jawabnya.  Dalam praktikalnya orang tua harus lebih ke menumbuhkan kesadaran dalam diri anak terhadap hak dan kewajibannya. Karena tanggung jawab itu tak ada tanpa disadari dengan kesadaran terlebih dulu. Menanamkan karakter tanggung jawab sudah sepantasnya tidak menunggu anak tersebut beranjak dewasa , karena masa kecil adalah masa efektif dan anak adalah investasi yang sangat penting dimasaa yang akan datang.
            Dalam perspektif tanggung jawab terdapat dua macam jenis tanggung jawab yaitu daintaranya adalah tanggung jawab internal dalam hali ini adalah keluarga khususnya orang tua yang harus berperan aktif dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri anak, selain itu tanggung jawab eksternal dalam artian adalah yang bersumber dari pihak luar atau non keluarga, dalam hal ini adalah lingkungan sekolah yang didalamnya meliputi para guru, teman bermain dan sebagainya. Kesemua itu adalah unit yang berperan aktif dalam menumbuh kembangkan rasa tanggung jawab dalam diri peserta didik. Mengajari anak-anak akan rasa tanggung jawab sama saja dengan mengajarinya mengenai realitas kehidupan dan berani mengakui perbuatannya, ini menjadikan sebuah tolak ukur yang penting sekali.
Contoh yang bisa diterapkan dalam lingkungan rumah guna mencapai tanggung jawab adalah dengan memberikannya pekerjaan yang bisa disertai dengan tanggung jawab seperti memberikannya pekerjaan pekerjaan yang ringan, jangan lupa untuk mengamati sikap anak terhadap pekerjaannya,  bukan hanya hasil akhir saja. Hal tersebut guna melatih kepekaan dan kesadaran terhadap apa yang dilakukan, tidak semata-mata hanya menggugurkan kewajiban.  Dengan memberikan pekerjaan secara  bersamaan akan tumbuh rasa tanggung jawab. Banyak contoh yang bisa dilakukan unuk merangsang tumbuhnya rasa tanggung jawab anak seperti tanggung jawab terhadap uang saku, belajar dan kewajiban yang harus anak lakukan dirumah.
Selanjutnya adalah tanggung jawab secara eksternal yang dikomandoi oleh peran pendidikan khususnya sekolah dimana pada masa ini anak-anak diharuskan belajar. Memberikan stimulus kepada anak guna menanamkan rasa tanggung jawab bisa melalui para guru dan segala hal yang ada disekolah, kesadaran akan pentingnya sekolah dan belajar adalah langkah awal untuk membibitkan rasa tanggung jawab. Dalam keseharian dikelas dan sekolahan adalah sarana yang ikut berkontribusi besar dalam membentuk karakter anak disekolahan. Selain itu tugas-tugas yang diberikan guru adalah cara yang bisa menstimulus perkembangan pembentukan karakter anak yang bertanggung jawab.
Jadi menumbuhkan tanggung jawab pada anak adalah proses , sebagai suatu proses, penumbuhan tanggung jawab tentu saja ada dititik awalnya. Sebenarnya tidak ada patokan yang baku kapan orangtua harus mendidik anaknya tanggung jawab, namun sebenarnya tanggung jawab itu harus diterapkan atau didikkan semenjak dini. Sedini mungkin maksudnya adalah sejak anak bisa berinteraksi dengan orang tuanya, mendengarkan atau mendapat stimulus dari orangtuanya serta dapat mengkomunikasikan dirinya dengan orangtua. Tanggung jawab itu sama dengan kemandirian, kedisiplinan serta serangkaian kompetensi interpersonal lainya adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan dan komponen yang ada dilingkungan tersebut.
Didalam mengembangkan rasa tanggung jawab ada beberapa prinsip yang harus dijadikan pertimbangan diantaranya; pertama, memberikan teladan, Sebagai hasil belajar dari lingkungan anak bertanggung jawab dengan cara mengamati perilaku orang dewasa yang ada disekitarnya. Orang tua atau orang dewasa yang ada disekitarnya adalah model atau contoh dari anak. Kedua, memulai dari hal sederhana , menumbuhkan tanggung jawab pada anak bersifat progresif dan bertahap. Artinya tanggung jawab dimulai dari hal-hal yang sederhana, lalu meningkat kehal yang lebih kompleks. Dengan kata lain kemampuan memberikan tanggung jawab disesuaikan dengan umur dan kemampuan anak sehingga orangtua perlu mengenali kemampuan anak-anaknya. Ketiga, penuh kesabaran, sebagai suatu proses rasa tanggung jawab anak tidak akan muncul secara singkat.
Rasa tanggung jawab pada anak muncul karena latihan yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang atau konsisten. Hal ini berarti antara anak dan orangtua diharapkan bersabar dan menahan diri. Orang tua perlu memperhatikan apakah anak melakukan pekerjaannya dengan segenap hati dan tekun. Sangatlah penting bagi orangtua  untuk memberikan perhatian terhadap tugas yang tengah dilakukan anak. Orang tua juga harus menahan diri untuk tidak menuntut sehingga tidak sewenang-wenang dalam memberikan tanggung jawab. Berilah tanggung jawab secara setahap demi setahap sehingga orang tua tidak mengutamakan emosi sendiri tetapi lebih mengutamakan emosi anak. Orang tua perlu memperhatikan, apakah yang dilakukan anak sudah sesuai dengan kemampuannya. Jika anak berhasil berilah ia pujian, sebaliknya jika anak melakukan kesalahan orang tua diharapkan untuk menahan diri untuk tidak menyalahkan anak atau memberikannya hukuman. Sebaliknya carilah cara yang lembut  bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut.  Kegagalan dalam menjalankan tugasnya akan menjadikan guru  yang baik baginya.
Dalam buku “on becoming a personal excelent “ tahun 2006 hal 104 oleh Drs. Waidi MBA.ed yang dikutip dari buku quantum teaching, debby deporter dkk menyebutkan bahwa salah satu keberhasilan mendidik anak adalah dengan cara memberinya tanggung jawab. Demikian pula soemarno soedarsono dalam bukunya “CHARACTER BUILDING” mengatakan bahwa karakter seseorang dapat dibentuk dengan pemberian tanggung jawab.
Selanjutnya adalah karakter disiplin pada anak. Meningkatkan disiplin pada anak diperlukan guna menjadikan kehidupan anak yang teratur dan bisa menghargai waktu. Pengertian disiplin itu sendiri adalah berasal dari bahasa inggris discipline yang berati “training to act in accordance with rules” melatih seseorang  untuk bertindak sesuai dengan aturan. Itulah disiplin dimana dengan disiplin peraturan yang dibuat adalah untuk ditaati bukan untuk dilanggar. Menurut poerwadinata dalam kamus besar bahasa indonesia disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya selalu mentaati tata tertib disekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian. Mendisiplinkan  dapat berati langsung menanamkan  norma  sebagai input dengan berupa instruksi.
Sedangkan kostelnik dan kawan-kawan dalam bukunya developmentally appropiate practice,self dicipline is voluntary, internal regulation of behavior. Jadi menurut kosneltik dan kawan-kawan disiplin adalah perilaku sukarela (tanpa ada paksaan) yang menunjukkan keteraturan internal akan peraturan-peraturan yang ada. Menurut mereka seseorang dapat dikatakan memiliki kedisiplinan jika mereka dapat menaati peraturan dengan baik tanpa harus ada reward dan punishment.  Sikap demikian akan membuat seseorang mudah diterima oleh lingkungannya karena kedisiplinan dapat membentuk interaksi sosial yang positif.
Menurut charles schaefer disiplin adalah sesuatu yang mencakup pengajaran, bimbingan,atau dorongan yang dilakaukan oleh orang dewasa yang bertujuan untuk menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembanganmereka yang optimal.
Dalam bahasa latin disiplin (discere) berarti belajar, dari kata ini timbul kata disiplina yang berarti pengajaran atau  pelatihan. Sekarang pengertian disiplin mengalami perkembangan makna. Pertama, disiplin diartikan  sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan dan pengendalian. Kedua  disiplin sebagai latihan yang bertujuan untuk mengembangkan diri agar dapat berperilaku lebih tertib. Sedangkan pengertian yang lebih dasar tentang disiplin ada dua macam yaitu; pertama, ketaatan pada tata tertib. Kedua, latihan batin dan watak dengan maksud untuk mentaati peraturan. Arti disiplin dari definisi tersebut adalah  kepatuhan seseorang dalam mengikuti  peraturan tata tertib karena didorong oleh kesadran yang ada didalam hatinya.
Dilihat dari sudut pandang sosiologis dan psikologis, disiplin adalah suatu proses belajar mengembangkan kebiasaan, penugasan diri dan mengakui  tanggung jawab dirinya terhadap masyarakat. Maka kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pun akan menimbulkan rasa tanggung jawab atau disiplin dalam menghadapi pelajaran atau dalam belajarnya. Disiplin adalah proses bimbingan yang bertujuan menanamkan perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu  atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu. Terutama yang meningkatkan kualitas moral dan mental, jadi inti dari disiplin adalah  membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang sesuai  dengan aturan yang ada dilingkungannya.
Untuk itu disiplin dapat diartikan secara luas disiplin dapat mencakup pengajaran, bimbingan atau dorongan yang diberikan orang tua kepada anaknya. Menerapkan disiplin kepada anak bertujuan agar anak belajar sebagai makhluk sosial. Sekaligus, supaya anak mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tujuan awal dari disiplin ialah membuat anak terlatih dan terkontrol. Untuk mencapai itu orang tua harus mengajarkan kepada anak bentuk tingkah laku yang pantas dan tidak pantas atau yang asing bagi anak. Sampai pada akhirnya anak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diketahui bahwa disiplin merupakan cara masyarakat dalam mengajarkan anak mengenai perilaku moral yang disetujui kelompok dimana dalam diperlukan unsur kesukarelaan dan kesadaran diri.artinya, kemauan dan kemampuan untuk berperilaku sesuai aturan yang disetujui kelompok muncul dari dalam diri tanpa ada paksaan. Oleh karena itu sebaiknya dalam mengajarkan disiplin tidak ada paksaan dari orang tua maupun guru sebagai pemimpin. Sehingga anak akan berdisiplin karena adanya kesadran dalam diri anak itu sendiri tanpa paksaan.  Dengan demikian anak akan mengetahui dan tujuan dari disiplin adalah untuk kehidupan yang lebih baik dan berguna untuk kebahagiaannya sendiri, terutama karena berhubungan dengan ketrampilan sosial dan self-esteem atau konsep diri anak.
Adapun tujuan  anak usia disiplin anak usia dini adalah membentuk perilaku sedemikian rupa sehingga ia akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat individu itu diidentifikasikan. Orang tua ataupun guru diharapkan   dapat menerangkan terlebih dahulu apa kegunaan atau manfaat disiplin bagi anak sebelum mereka melakukan pendisiplinan kepada anak. Hal ini dilakukan supaya anak memahami maksud dan tujuan berdisiplin pada saat mereka menjalaninya. Dan pada akhirnya hal tersebut akan berbuah manfaat yang positif bagi perkembangan anak tersebut.
Ketika sudah berdisiplin anak dapat mengarahkan dirinya sendiri tanpa pengaruh atau disuruh orang lain. Dalam pengaturan ini berarti anak sudah mampu menguasai tingkah lakunya sendiri dengan berpedoman pada norma-norma yang jelas, standart-standart dan aturan-aturan  yang sudah menjadi milik sendiri. Disiplin juga menumbuhkan rasa tanggung jawab  dalam diri anak. Untuk itu orang tua harus aktif dan secara terus menerus melakukan pendisiplinan itu atau secara bertahap melakukan pengendalian dan pengarahan diri sendiri  itu kepada anak. Cara yang baik dalam mendisiplinkan anak adalah dengan menggunakan pendekatan yang positif  misal memberikan dorongan, teladan, berkomunikasi, pujian dan hadiah. Sedangkan cara negatif untuk mendisiplinkan adalah dengan memarahinya, memukul dan membuat anak marah sehingga proses belajarnya kurang maksimal.
Namun yang namanya sesuatu jika negatif maka akan memiliki efek samping, sebagaimana disiplin jika diterapkan atau dilaksanakan dengan cara yang negatif seperti memarahi dan lain sebagainya justru akan membentuk kepribadian anak yang immoral dan bisa menyebabkan uncharacter. Menjadikan perilaku anak yang menyimpang  dan berperilaku kurang baik. Alih alih ingin mendisiplikan anak, justru yang ada anak berubah menjadi pemberontak karena disiplin diterapkan dengan tekanan dan amarah. Ini adalah bentuk penerapan karakter yang tidak sehat dan menyebabkan implikasi terhadap tindakan lain yang kurang baik. Maka sudah seharusnya jika hendak menerapkan disiplin positif maka kita harus menggunakan pola penerapan yang positif juga. Karena disiplin adalah landasan dasar agar anak bisa teratur menjalani setiap kegitan dan peranannya dalm kehidupan.
Didalam penerapan disiplin ada beberapa dasar yang harus diperhatikan diantaranya;  tentukan perilaku khusus yang ingin dirubah, katakan dengan tepat apa yang ingin dilakukan dan jangan segan-segan untuk memuji anak jika ia melakukan tugasnya dengan baik dan tetaplah m,emuji jika perilaku anak tetap konsisten dalam perilaku yang baik. Jangan lupakan untuk melakukan pengawasan , melakukan pengawasan dapat diartikan pengawasan yang terus menerus namun bukan berati melakukan pengawasan kepada anak setiap saat.  Selain itu jangan mengingatkan anak pada kesalahan terdahulu, karena jika diungkit hanya akan menimbulkan kemarahan. Tindakan ini malah akan meningkatkan perilaku buruk. Mengungkit kesalahan yang telah lalu hanya menjadikan kesalahan itu sebagai contoh  yang tidak boleh dilakukan tidak menunjukkan yang harus dilakukan. Mengingatkan anak akan kesalahannya  hanya latihan untuk membuat kesalahan yang baru. Maka dari itu hendaknya pola bertahap dan berkelanjutan juga dasar-dasar penerapannya harus diperhatikan betul guna mencapai karakter disiplin yang diinginkan.
Didalam penerapan disiplin pada anak lingkungan keluraga adalah sarana yang efektif untuk melatih sikap disiplin terutama peran orang tua. Didalam buku disiplin pada anak direktorat pendidikan anak usia dini menjelaskan langkah-langkah yang harus dipahami diantaranya;
1.tenang
Jika ingin mendisiplinkan anak sebaiknya orangtua juga dalam keadaan tenang. Jangan dalam keadaan cemas atau marah. Ketika sedang tenang maka pesan yang akan disampaikan akan mudah diterima oleh anak.
2. percaya pada intuisi
Orang tua adalah orang yang paling mengerti anak-anaknya sehingga mengetahui perilaku dan sifat anak-anaknya.ini akan lebih mudah untuk mendisiplinkan anak.
3.pemilihan waktu yang tepat
Mendisiplinkan anak harus pada waktu yang tepat dan terus berulang secara teratur. Pemilihan waktu yang tepat tanpa menunda-nunda  akan membuat anak memahami bahwa ia harus melakukan apa yang diminta orang tua kepadanya.
4. percaya pada kemampuan orang tua
Untuk mendisiplinkan anak butuh percaya diri dari orang tua bahwa mereka mampu. Orang tua diharapkan tidak terpancing dengan perilaku anak yang menyebabkan kemarahan. Dan percaya jika anak didisiplikan satu atau dua kali gagal bukan berarti anak tidak dapat disiplin. Percayalah bahwa perubahan perilaku pada anak  pasti anak akan terjadi karena anak mampu untuk belajar disiplin. Dan untuk mengajarkan disiplin pada anak sebaiknya tidak hanya dengan perintah dan marah-marah. Bisa jadi anak tidak memahami keinginan orang tua untuk menerapkan kedisiplin.
Orang tua harus memberikan manfaat dan penjelasan mengenai disiplin karena jika hanya memberikan contoh tanpa menerangkan maksudnya,  membuat anak tidak mengerti mengapa ia harus bertingkah laku baik. Anak hanya melakukan sekedar mengikuti orang tuanya saja, sehingga terkadang salah mengartikan contoh yang dilihat. Selanjutnya yaitu memberikan penjelasan disertai tanya jawab dengan memberikan penjelasan apa yang harus anak lakukan jangan lupa untuk menyampaikan alasannya.jelaskan pula manfaatnya jika anak bertingkah laku baik dan penjelasan harus dilakukan berulang-ulang kali  sampai anak betul-betul bisa melakukan perbuatan tersebut dan mengerti kenapa harus dilakukan.
Selanjutnya jika anak sudah menguasai perilaku tersebut orang tua tidak usah berada didekat anak agar perilaku yang baik itu muncul. Anak akan dengan senag hati memunculkan perilaku tersebut karenaa telah mengerti manfaatnya. Sebagai contoh anak harus tidur siang, jelaskan kepada anak mengapa ia harus tidur siang maka sore hari ia akan mengantuk. Anak akan bisa bermain dan lain sebagainya jika ia telah tidur disiang hari sehingga ketika sore hari dia bisa beraktivitas tanpa mengantuk.
Ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan untuk menerapkan  kedisiplinan  pada anak diantaranya yang harus diingat adalah harus bersikap tenang  dan tahu keadaan anak sehingga tahu kapan waktu yang tepat untuk mendisiplinkan anak. Selain itu orang tua juga harus percaya bahwa mereka mampu mendisiplinkan anak dan anak dapat didisiplinkan. Berikut contoh tahapan yang dapat dilakukan, kita ambil contoh yaitu menyuruh anak untuk membereskan mainannya setelah digunakan. Tahap pertama, tentukan perilaku yang diinginkan: mainan yang tadinya berantakan dibereskan masuk kekotak kembali. Tahap kedua, katakan kepada anak apa yang sudah ditentukan pada tahapan pertama dan katakan kepadanya kegunaan bila anak membereskan mainannya yaitu anak tidak akan kehilangan mainannya dan mudah untuk mencarinya kembali jika ia hendak menggunakannya kembali (tahap kedua ini bisa dilakukan secara berulang-ulang dan disertai dengan tanya jawab). Tahap ketiga, puji anak jika tingkah lakunya sudah baik, yaitu membereskan mainannya dan memasukannya kedalam kotak. Tahap keempat, bisa terus diulang sampai kedisiplinan yang diinginkan menjadi menetap pada pribadi anak.
Didalam buku yang diterbitkan oleh direktorat pembianaan  pendidikan anak usia dini menyebutkan ada beberapa tip yang dapat dilakukan bagi orang tua yang menginginkan anaknya menjadi disiplin seperti;  untuk menerapkan disiplin pada anak ada aturan yang jelas, namun tetap ada kelenturan dari aturan disesuaikan dengan sesuatu saat itu. Orang tua dan anak harus memperluas pengetahuanya melalui buku, televisi, majalah atau media yang lainnya. Orang tua juga tidak memaksakan kehendak  atau keinginan tetapi lebih mengajar dan berkomunikasi kepada anak dan disesuaikan dengan usia anak. Mendisiplinkan anak tidak hanya bukup dengan ancaman atau hukuman namun dengan membantu anak memahami tujuan dan keuntungannya bila ia melakukan perbuatan itu. Dan yang terakhir jangan sering  mencela anak sehingga anak menjadi sedih dan malu dikhawatirkan nanti anak tidak bisa percaya diri. Sehingga dalam menggapai sikap disiplin pada anak dibutuhkan peran orangtua yang peka terhadap perilaku anak.     
Menurut harlock agar disiplin mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai standart yang ditetapkan oleh kelompok sosial mereka maka disiplin harus memiliki empat unsur pokok. Diantaranya ada; peraturan yaitu pola yang ditetapkan untuk tingkah laku dimana pola tersebut ditetapkan oleh guru, orang tua, atau teman bermain. Tujuannya dalah untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Peraturan itu sendiri mempunyai dua fungsi yaitu peraturan yang mempunyai nilai pendidikan sebab peraturan memperlakukan anak perilaku yang disetujui anggota kelompok tersebut dan peraturan mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi tersebut maka peraturan itu haruslah dapat dimengerti , diingat dan diterima oleh si anak. Anak kecil lebih banyak butuh peraturan daripada anak yang lebih besar sebab menjelang remaja anak dianggap telah belajar dariapa yang diharapkan dari kelompok sosial mereka.
Unsur yang kedua yaitu hukuman, hukuman memiliki tiga fungsi dalam pembentukan moral anak diantaranya a) menghalangi,hukuman dapat menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat, b)mendidik, sebelum anak memahami konsep peraturan mereka akan mempelajari manakah tindakan yang benar dan tidak. c)motivasi adalah untuk menghindari perilaku yang tidak diterima oleh masyarakat.selanjutnya  Unsur yang ketiga yaitu penghargaan  karena penghargaan mempunyai peranan penting dalam mengajarkan anak berperilaku disiplin karena penghargaan mempunyai nilai mendidik dan sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujiu oleh masyarakat. Unsur selanjutnya adalah adanya konsistensi yang berarti tingkat keseragaman atau stabilitas yang berfungsi mendidik dan memotivasi dan anak yang cenderung diberi pendidikan yang konsistensi cenderung lebih matang disiplin dirinya dibanding dengan anak yang tidak diberi disiplin secara konsisten.
Dalam menerapkan disiplin orang tua atau guru hendaknya menggunakan metode atau cara yang dapat menambah motivasi anak untuk berperilaku baik. Jadi peraturan atau disiplin itu dilakukan oleh semua orang baik itu anak, siswa, orang tua maupun guru. Dalam menerapkan disiplin yang paling penting adalah tidak adanya sikap permusuhan yang ada hanyalah keinginan untuk membentuk anak menjadi anak yang berguna dan baik. Maka sudah seharusnya jika hendak meningkatkan disiplin pada anak harus diperlukan kesinergian antara komponen yang bersangkutan. Apabila disiplin tersebut telah terbentuk maka akan terwujudlah disiplin pribadi yang kuat, yang setelah dewasa akan terwujudkan pula dalam setiap aspek kehidupan antara lain dalam bentuk disiplin kerja, disiplin mengatur keuangan rumah tangga,  dan disiplin dalam menunaikan perintah serta meninggalkan larangan Allah swt.
Dalam keadaan disiplin  itu mampu dilaksanakan oleh semua anggota masyarakat atau warga negara terutama berupa kepatuhan dan ketaatan terhadap ketentuan-ketentuan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maka akan terwujud disiplin nasional dan disiplin umat bersumber dari disiplin warga negara dan pemeluk agama. Bertolak dari hal-hal dimuka, zakiah daradjat berpendapat bahwa salah satu wadah untuk mendidik disiplin generasi penerus bangsa adalah melalui sekolah. Menurutnya hendaknya sekolah dapat diusahakan menjadi lapangan yang baik bagi pertumbuhan dan perkrmbangan mental dan moral anak didik, disamping sebagai tempat pengembangan bakat dan kecerdasan dengan kata lain supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak didik dimana pertumbuhan mental, moral dan sosial dan segala aspek kepribadian dapat berjalan dengan baik.
Pengembangan disiplin pada siswa disekolah, dalam hal ini guru sebagai pendidik harus bertanggung jawab mengarahkan apa yang baik, menjadi tauladan, sabar dan penuh pengertian.guru harus mampu menumbuhkan dalam peserta didik, terutama disiplin diri. Untuk kepentingan tersebut guru mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :
1.      Membantu mengembangkan pola perilaku dalam dirinya
2.      Membantu peserta didik meningkatkan standart perilakunya
3.      Menggunakan pelaksanaan peraturan sekolah sebagai alat untuk menegakkan disiplin.
Dengan disiplin anak bersedia untuk tunduk dan mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu kesediaan semacam ini harus dipelajari dan harus secara sadar diterima dalam rangka memelihara kepentingan bersama atau memelihara tugas-tugas sekolah. Hanya dengan menghormati aturan sekolah anak belajar menghormati aturan-aturan umum lainnya, belajar mengembangkan kebiasaan mengekang dan mengekang dan mengendalikan diri. Jadi, inilah fungsi yang sebenarnya dari disiplin bukan prosedur sederhana yang dimaksud untuk membuat anak bekerja dengan merangsang kemauannya untuk mentaati instruksi, dan menghemat tenaga guru.
Latihan untuk mendisiplinkan diri sebenarnya harus dilakukan secara terus menerus kepada anak didik. Upaya ini benar-benar merupakan suatu cara yang efektif anak mudah mengerti arti kedisiplinan dalam hidup. Anak diajari dengan konsekuensi logis dan konsekuensi alami dari perbutannya, berbagai umpan balik layak diberikan kepada si anak baik secara lisan maupun tulisan.agar anak dengan semangat bisa melakukan disiplin diri dengan senang hati, bukan karena paksaan atau suruhan dari orang lain. Karena disiplin harus diajarkan dan di berikan sejak anak masih kecil maka tidak boleh dengan paksaan, tapi biarkan itu mengalir dengan sendirinya tapi tentu saja dengan stimulus yang diberikan pihak-pihak terkait yaitu orang tua dirumah dan para guru disekolah. Pengalaman utama dari para guru dan orang tua dalam pelaksanaan disiplin akan memberikan keteraturan dalam hidup “disiplin diri sendiri hanya akan tumbuh dalam suasana dimana guru dan peserta didik terjalin sikap persahabatan yang berakar pada dasar rasa saling hormat menghormati dan saling mempercayai”.
Untuk menerapkan disiplin pada anak ada beberapa hal yang harus dihindari dan  jangan sekali-kali untuk dilakukan kepada anak, seperti halnya menggunakan kekerasan kepada anak yang justru akan melahirkan disiplin semu maksudnya anak hanya akan patuh karena ada dororngan rasa takut, bukan karena kesadaran dalam dirinya sendiri. Jangan pula bersikap lemah karena disiplin akan sulit untuk ditegakkan jika para orang tua dan guru berlaku lemah yang berakibat anak akan  bersikap acuh tak acuh dan cenderung menyepelekan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Orang tua dan guru harus terlibat penuh dalam upaya meningkatkan disiplin anak.
KESIMPULAN
Melihat begitu kompleknya permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia terutama karakter atau moral dari para pelajarnya yang mengalami uncharacter dan berbagai kenakalan remaja lainnya maka sudah sepatutnya jika pendidikan karakter digalakkan baik itu di institusi pendidikan maupun keluarga. Pendidikan karakter harus diajarkan dan dikembangkan sejak dini secara kesinambungan dan bertahap, terutama karakter mengenai tanggung jawab dan pila hidup disiplin.
Tanggung jawab dan disiplan adalah dua hal yang saling menopang satu sama lain, dengan belajar hidup disiplin maka akan tercipta keteraturan dalam keseharian anak. Mengajarkan anak tanggung jawab adalah menyiapkan anak-anak menjadi seseorang yang mempunyai kepekaan terhadap segala sesuatu yang dia lakukan. Karena anak-anak adalah generasi di masa depan yang akan melanjutkan estafet perjuangan bangsa indonesia maka patutlah jika dibangun dari pendidikannya. Pendidikan tidak hanya mencetak generasi yang intelektual saja, tapi harus lebih dari itu membentuk karakter bangsa melalui anak-anak.
Jadi sebenarnya ada banyak cara untuk menjadikan nasib bangsa dan karakter para pelajarnya menjadi lebih baik, lebih bermoral dan memiliki karakter yang khas. Salah satu alternatifnya yaitu melalui ranah pendidikan sebagai pembentuk insan cendekia, dan pendidikan dalam keluarga yaitu orang tua sebagai pembimbing langsung. Sehingga meningkatkan tanggung jawab dan disiplin anak akan tercapai dan terbentuk.

wallahu'alam bi showab



           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar