Pendidikan karakter menjadi urgent karena peranannya yang sangat
vital dalam membentuk karakter anak
didik dalam pembentukan pribadi yang memiliki sikap dan mentalitas yang matang.
Membentuk siswa yang berkarakter memang tak semudah membalikkan telapak tangan
tapi butuh yang namanya proses yang berlangsung secara kesinambungan, tak hanya
sekedar teori saja tapi lebih kepada praktikal. Karena karakter ini harus
terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari , maka diperlukan kesungguhan
tidak hanya dari pihak pelaksana pendidikan tapi juga dari para peserta didik.
Salah satu bentuk karakter yang hendak di kembangkan adalah mencapai karakter
peserta didik yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan kesadaran untuk
mendisiplinkan diri dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenai
pendidikan karakter bagi anak lebih baik
dilakukan semenjak kecil sebagaimana
disebutkan aqil zainal dalam bukunya pendidikan karakter bahwa untuk menanamkan nilai karakter pada
anak akan lebih mudah diberikan pada anak usia dini dan juga bisa dilakukan 50%
dari keluarga dan 50% melalui sekolah. Sedangkan menurut daniel goldman dalam bukunya kecerdasan ganda menyebutkan
bahwa kecerdasan sosial dan emosial dalam kehidupan dibutuhkan 80% sedangkan kecerdasan intelektual hanya 20%.
Oleh karena itu menenamkan karakter
lebih mudah melalui jalur pendidikan, salah satunya pendidikan nonformal
karena kecerdasan sosial lebih membawa dampak pada perjalanan hidup
kedepan.Didalam indonesia haritage
foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan
pendidikan karakter, dan karakter tanggung jawab adalah berada diurutan kedua
setelah cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya.
Pengertian
tanggung jawab itu sendiri menurut kamus besar bahasa indonesia adalah keadaan
dimana wajib menanggung segala sesuatu sehngga berkewajiban menanggung,
memanggul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab atau
menanggung akibatnya. Tanggung jawab menjadi
suatu hal yang penting yang harus dibiasakan dalam diri anak didik,
karena peranan tanggung jawab adalah penentu setiap tindakan dan sesuatu yang
akan dilakukan. Dengan memiliki tanggung jawab segala sesuatu akan mengalami
proses penimbangan dan merasa segala
sesuatu yang dikerjakannya memiliki hal yang harus dipertanggung jawabkan,
boleh jadi tanggung jawab adalah karakter yang harus ditanamkan terlebih dahulu, karena
dengan adanya rasa tanggung jawab yang dimiliki maka akan munculah rasa
kesadaran yang akan melahirkan sikap-sikap karakter yang positif yang lain.
Dalam ranah apapun
sangat diperlukan rasa tanggung jawab, agar setiap anak memiliki kepekaan
terhadapa apa yang dimiliki. Korelasi antara rasa tanggung jawab dengan
disiplin adalah seperti satu paket yang
satu sama lain saling berkaitan erat, keduanya merupakan satu kesatuan
yang saling mempengaruhi satu sama lain. Karena dimasa anak-anak yang
sebenarnya belum memiliki tanggung jawab yang begitu besar, namun bibit
tersebut harus disemai dan dipupuk sejak kecil sehingga menjadi terbiasa dan tertanam
kuat di tiap anak. Tanggung jawab adalah modal dasar dalam segala hal, memegang
peranan yang penting dalam berperilaku
setiap harinya.
Tanggung jawab
tidak ada dengan sendirinya dalam diri anak, karena anak lahir tanpa ada
kesadaran bertanggung jawab, oleh karena itu menumbuhkan rasa tanggung jawab
pada anak adalah tugas dari banyak pihak terutama pihak terkait yaitu orang tua
dalam hal ini lingkungan keluarga, dan juga kontribusi pendidikan anak yang
didalamnya terdapat pendidikan karakter. Namun sebagian orang tua berpikir
bahwa tanggung jawab yang ditumbuhkan dalam diri anak adalah tugas sekolahan,
ini adalah perspektif yang keliru karena sebenarnya pendidikan karakter adalah
fasilitator dalam pembentukan karakter yang bertanggung jawab. Lebih daro itu
orang tua dalam hal ini lingkungan keluarga yang harus memberikan kontribusi
lebih dalam membemtuk karakter anak yang bertanggung jawab.
Dengan
perlahan-lahan pendidikan karakter untuk membentuk anak yang memiliki rasa
tanggung jawab bisa dimulai dari pendidikan oleh orang tua, perlakuan didalam rumah menjadi
cara untuk mendidik yang bisa diterapkan setiap hari seperti mengajari dari
sesuatu yang kecil dan yang harus menjadi tanggung jawabnya. Dalam praktikalnya orang tua harus lebih ke
menumbuhkan kesadaran dalam diri anak terhadap hak dan kewajibannya. Karena
tanggung jawab itu tak ada tanpa disadari dengan kesadaran terlebih dulu.
Menanamkan karakter tanggung jawab sudah sepantasnya tidak menunggu anak
tersebut beranjak dewasa , karena masa kecil adalah masa efektif dan anak
adalah investasi yang sangat penting dimasaa yang akan datang.
Dalam perspektif
tanggung jawab terdapat dua macam jenis tanggung jawab yaitu daintaranya adalah
tanggung jawab internal dalam hali ini adalah keluarga khususnya orang tua yang
harus berperan aktif dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri anak,
selain itu tanggung jawab eksternal dalam artian adalah yang bersumber dari
pihak luar atau non keluarga, dalam hal ini adalah lingkungan sekolah yang
didalamnya meliputi para guru, teman bermain dan sebagainya. Kesemua itu adalah
unit yang berperan aktif dalam menumbuh kembangkan rasa tanggung jawab dalam
diri peserta didik. Mengajari anak-anak akan rasa tanggung jawab sama saja
dengan mengajarinya mengenai realitas kehidupan dan berani mengakui
perbuatannya, ini menjadikan sebuah tolak ukur yang penting sekali.
Contoh yang bisa diterapkan dalam lingkungan rumah guna mencapai
tanggung jawab adalah dengan memberikannya pekerjaan yang bisa disertai dengan
tanggung jawab seperti memberikannya pekerjaan pekerjaan yang ringan, jangan
lupa untuk mengamati sikap anak terhadap pekerjaannya, bukan hanya hasil akhir saja. Hal tersebut
guna melatih kepekaan dan kesadaran terhadap apa yang dilakukan, tidak
semata-mata hanya menggugurkan kewajiban.
Dengan memberikan pekerjaan secara
bersamaan akan tumbuh rasa tanggung jawab. Banyak contoh yang bisa
dilakukan unuk merangsang tumbuhnya rasa tanggung jawab anak seperti tanggung
jawab terhadap uang saku, belajar dan kewajiban yang harus anak lakukan
dirumah.
Selanjutnya adalah tanggung jawab secara eksternal yang dikomandoi
oleh peran pendidikan khususnya sekolah dimana pada masa ini anak-anak
diharuskan belajar. Memberikan stimulus kepada anak guna menanamkan rasa
tanggung jawab bisa melalui para guru dan segala hal yang ada disekolah,
kesadaran akan pentingnya sekolah dan belajar adalah langkah awal untuk
membibitkan rasa tanggung jawab. Dalam keseharian dikelas dan sekolahan adalah
sarana yang ikut berkontribusi besar dalam membentuk karakter anak disekolahan.
Selain itu tugas-tugas yang diberikan guru adalah cara yang bisa menstimulus
perkembangan pembentukan karakter anak yang bertanggung jawab.
Jadi menumbuhkan tanggung jawab pada anak adalah proses , sebagai
suatu proses, penumbuhan tanggung jawab tentu saja ada dititik awalnya.
Sebenarnya tidak ada patokan yang baku kapan orangtua harus mendidik anaknya
tanggung jawab, namun sebenarnya tanggung jawab itu harus diterapkan atau
didikkan semenjak dini. Sedini mungkin maksudnya adalah sejak anak bisa
berinteraksi dengan orang tuanya, mendengarkan atau mendapat stimulus dari
orangtuanya serta dapat mengkomunikasikan dirinya dengan orangtua. Tanggung
jawab itu sama dengan kemandirian, kedisiplinan serta serangkaian kompetensi
interpersonal lainya adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan dan
komponen yang ada dilingkungan tersebut.
Didalam mengembangkan rasa tanggung jawab ada beberapa prinsip yang
harus dijadikan pertimbangan diantaranya; pertama, memberikan teladan, Sebagai
hasil belajar dari lingkungan anak bertanggung jawab dengan cara mengamati
perilaku orang dewasa yang ada disekitarnya. Orang tua atau orang dewasa yang
ada disekitarnya adalah model atau contoh dari anak. Kedua, memulai dari hal
sederhana , menumbuhkan tanggung jawab pada anak bersifat progresif dan
bertahap. Artinya tanggung jawab dimulai dari hal-hal yang sederhana, lalu
meningkat kehal yang lebih kompleks. Dengan kata lain kemampuan memberikan
tanggung jawab disesuaikan dengan umur dan kemampuan anak sehingga orangtua
perlu mengenali kemampuan anak-anaknya. Ketiga, penuh kesabaran, sebagai suatu
proses rasa tanggung jawab anak tidak akan muncul secara singkat.
Rasa tanggung jawab pada anak muncul karena latihan yang dilakukan
secara terus menerus dan berulang-ulang atau konsisten. Hal ini berarti antara
anak dan orangtua diharapkan bersabar dan menahan diri. Orang tua perlu
memperhatikan apakah anak melakukan pekerjaannya dengan segenap hati dan tekun.
Sangatlah penting bagi orangtua untuk
memberikan perhatian terhadap tugas yang tengah dilakukan anak. Orang tua juga
harus menahan diri untuk tidak menuntut sehingga tidak sewenang-wenang dalam
memberikan tanggung jawab. Berilah tanggung jawab secara setahap demi setahap
sehingga orang tua tidak mengutamakan emosi sendiri tetapi lebih mengutamakan
emosi anak. Orang tua perlu memperhatikan, apakah yang dilakukan anak sudah
sesuai dengan kemampuannya. Jika anak berhasil berilah ia pujian, sebaliknya
jika anak melakukan kesalahan orang tua diharapkan untuk menahan diri untuk
tidak menyalahkan anak atau memberikannya hukuman. Sebaliknya carilah cara yang
lembut bagaimana memperbaiki kesalahan
tersebut. Kegagalan dalam menjalankan
tugasnya akan menjadikan guru yang baik
baginya.
Dalam buku “on becoming a personal excelent “ tahun 2006 hal 104
oleh Drs. Waidi MBA.ed yang dikutip dari buku quantum teaching, debby deporter
dkk menyebutkan bahwa salah satu keberhasilan mendidik anak adalah dengan cara
memberinya tanggung jawab. Demikian pula soemarno soedarsono dalam bukunya
“CHARACTER BUILDING” mengatakan bahwa karakter seseorang dapat dibentuk dengan
pemberian tanggung jawab.
Selanjutnya adalah karakter disiplin pada anak. Meningkatkan
disiplin pada anak diperlukan guna menjadikan kehidupan anak yang teratur dan
bisa menghargai waktu. Pengertian disiplin itu sendiri adalah berasal dari
bahasa inggris discipline yang berati “training to act in accordance with
rules” melatih seseorang untuk
bertindak sesuai dengan aturan. Itulah disiplin dimana dengan disiplin
peraturan yang dibuat adalah untuk ditaati bukan untuk dilanggar. Menurut
poerwadinata dalam kamus besar bahasa indonesia disiplin adalah latihan batin
dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya selalu mentaati tata tertib
disekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian. Mendisiplinkan dapat berati langsung menanamkan norma sebagai input dengan berupa instruksi.
Sedangkan kostelnik dan kawan-kawan dalam bukunya developmentally
appropiate practice,self dicipline is voluntary, internal regulation of
behavior. Jadi menurut kosneltik dan kawan-kawan disiplin adalah perilaku
sukarela (tanpa ada paksaan) yang menunjukkan keteraturan internal akan
peraturan-peraturan yang ada. Menurut mereka seseorang dapat dikatakan memiliki
kedisiplinan jika mereka dapat menaati peraturan dengan baik tanpa harus ada
reward dan punishment. Sikap demikian
akan membuat seseorang mudah diterima oleh lingkungannya karena kedisiplinan
dapat membentuk interaksi sosial yang positif.
Menurut charles schaefer disiplin adalah sesuatu yang mencakup
pengajaran, bimbingan,atau dorongan yang dilakaukan oleh orang dewasa yang
bertujuan untuk menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan
untuk mencapai pertumbuhan dan perkembanganmereka yang optimal.
Dalam bahasa latin disiplin (discere) berarti belajar, dari kata
ini timbul kata disiplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Sekarang pengertian disiplin
mengalami perkembangan makna. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau
tunduk pada pengawasan dan pengendalian. Kedua
disiplin sebagai latihan yang bertujuan untuk mengembangkan diri agar
dapat berperilaku lebih tertib. Sedangkan pengertian yang lebih dasar tentang
disiplin ada dua macam yaitu; pertama, ketaatan pada tata tertib. Kedua,
latihan batin dan watak dengan maksud untuk mentaati peraturan. Arti disiplin
dari definisi tersebut adalah kepatuhan
seseorang dalam mengikuti peraturan tata
tertib karena didorong oleh kesadran yang ada didalam hatinya.
Dilihat dari sudut pandang sosiologis dan psikologis, disiplin
adalah suatu proses belajar mengembangkan kebiasaan, penugasan diri dan
mengakui tanggung jawab dirinya terhadap
masyarakat. Maka kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pun akan
menimbulkan rasa tanggung jawab atau disiplin dalam menghadapi pelajaran atau
dalam belajarnya. Disiplin adalah proses bimbingan yang bertujuan menanamkan
perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu
atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu. Terutama yang
meningkatkan kualitas moral dan mental, jadi inti dari disiplin adalah membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang
sesuai dengan aturan yang ada
dilingkungannya.
Untuk itu disiplin dapat diartikan secara luas disiplin dapat
mencakup pengajaran, bimbingan atau dorongan yang diberikan orang tua kepada
anaknya. Menerapkan disiplin kepada anak bertujuan agar anak belajar sebagai
makhluk sosial. Sekaligus, supaya anak mencapai pertumbuhan dan perkembangan
yang optimal. Tujuan awal dari disiplin ialah membuat anak terlatih dan
terkontrol. Untuk mencapai itu orang tua harus mengajarkan kepada anak bentuk
tingkah laku yang pantas dan tidak pantas atau yang asing bagi anak. Sampai
pada akhirnya anak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diketahui bahwa disiplin
merupakan cara masyarakat dalam mengajarkan anak mengenai perilaku moral yang
disetujui kelompok dimana dalam diperlukan unsur kesukarelaan dan kesadaran
diri.artinya, kemauan dan kemampuan untuk berperilaku sesuai aturan yang
disetujui kelompok muncul dari dalam diri tanpa ada paksaan. Oleh karena itu
sebaiknya dalam mengajarkan disiplin tidak ada paksaan dari orang tua maupun
guru sebagai pemimpin. Sehingga anak akan berdisiplin karena adanya kesadran
dalam diri anak itu sendiri tanpa paksaan.
Dengan demikian anak akan mengetahui dan tujuan dari disiplin adalah
untuk kehidupan yang lebih baik dan berguna untuk kebahagiaannya sendiri,
terutama karena berhubungan dengan ketrampilan sosial dan self-esteem atau
konsep diri anak.
Adapun tujuan anak usia
disiplin anak usia dini adalah membentuk perilaku sedemikian rupa sehingga ia
akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat individu
itu diidentifikasikan. Orang tua ataupun guru diharapkan dapat menerangkan terlebih dahulu apa
kegunaan atau manfaat disiplin bagi anak sebelum mereka melakukan pendisiplinan
kepada anak. Hal ini dilakukan supaya anak memahami maksud dan tujuan
berdisiplin pada saat mereka menjalaninya. Dan pada akhirnya hal tersebut akan
berbuah manfaat yang positif bagi perkembangan anak tersebut.
Ketika sudah berdisiplin anak dapat mengarahkan dirinya sendiri
tanpa pengaruh atau disuruh orang lain. Dalam pengaturan ini berarti anak sudah
mampu menguasai tingkah lakunya sendiri dengan berpedoman pada norma-norma yang
jelas, standart-standart dan aturan-aturan
yang sudah menjadi milik sendiri. Disiplin juga menumbuhkan rasa
tanggung jawab dalam diri anak. Untuk
itu orang tua harus aktif dan secara terus menerus melakukan pendisiplinan itu
atau secara bertahap melakukan pengendalian dan pengarahan diri sendiri itu kepada anak. Cara yang baik dalam
mendisiplinkan anak adalah dengan menggunakan pendekatan yang positif misal memberikan dorongan, teladan,
berkomunikasi, pujian dan hadiah. Sedangkan cara negatif untuk mendisiplinkan
adalah dengan memarahinya, memukul dan membuat anak marah sehingga proses
belajarnya kurang maksimal.
Namun yang namanya sesuatu jika negatif maka akan memiliki efek
samping, sebagaimana disiplin jika diterapkan atau dilaksanakan dengan cara
yang negatif seperti memarahi dan lain sebagainya justru akan membentuk
kepribadian anak yang immoral dan bisa menyebabkan uncharacter. Menjadikan
perilaku anak yang menyimpang dan
berperilaku kurang baik. Alih alih ingin mendisiplikan anak, justru yang ada
anak berubah menjadi pemberontak karena disiplin diterapkan dengan tekanan dan
amarah. Ini adalah bentuk penerapan karakter yang tidak sehat dan menyebabkan
implikasi terhadap tindakan lain yang kurang baik. Maka sudah seharusnya jika
hendak menerapkan disiplin positif maka kita harus menggunakan pola penerapan
yang positif juga. Karena disiplin adalah landasan dasar agar anak bisa teratur
menjalani setiap kegitan dan peranannya dalm kehidupan.
Didalam penerapan disiplin ada beberapa dasar yang harus
diperhatikan diantaranya; tentukan
perilaku khusus yang ingin dirubah, katakan dengan tepat apa yang ingin
dilakukan dan jangan segan-segan untuk memuji anak jika ia melakukan tugasnya
dengan baik dan tetaplah m,emuji jika perilaku anak tetap konsisten dalam
perilaku yang baik. Jangan lupakan untuk melakukan pengawasan , melakukan
pengawasan dapat diartikan pengawasan yang terus menerus namun bukan berati
melakukan pengawasan kepada anak setiap saat.
Selain itu jangan mengingatkan anak pada kesalahan terdahulu, karena
jika diungkit hanya akan menimbulkan kemarahan. Tindakan ini malah akan
meningkatkan perilaku buruk. Mengungkit kesalahan yang telah lalu hanya
menjadikan kesalahan itu sebagai contoh
yang tidak boleh dilakukan tidak menunjukkan yang harus dilakukan.
Mengingatkan anak akan kesalahannya
hanya latihan untuk membuat kesalahan yang baru. Maka dari itu hendaknya
pola bertahap dan berkelanjutan juga dasar-dasar penerapannya harus
diperhatikan betul guna mencapai karakter disiplin yang diinginkan.
Didalam penerapan disiplin pada anak lingkungan keluraga adalah
sarana yang efektif untuk melatih sikap disiplin terutama peran orang tua.
Didalam buku disiplin pada anak direktorat pendidikan anak usia dini
menjelaskan langkah-langkah yang harus dipahami diantaranya;
1.tenang
Jika ingin mendisiplinkan anak sebaiknya orangtua juga dalam
keadaan tenang. Jangan dalam keadaan cemas atau marah. Ketika sedang tenang
maka pesan yang akan disampaikan akan mudah diterima oleh anak.
2. percaya pada intuisi
Orang tua adalah orang yang paling mengerti anak-anaknya sehingga
mengetahui perilaku dan sifat anak-anaknya.ini akan lebih mudah untuk
mendisiplinkan anak.
3.pemilihan waktu yang tepat
Mendisiplinkan anak harus pada waktu yang tepat dan terus berulang
secara teratur. Pemilihan waktu yang tepat tanpa menunda-nunda akan membuat anak memahami bahwa ia harus
melakukan apa yang diminta orang tua kepadanya.
4. percaya pada kemampuan orang tua
Untuk mendisiplinkan anak butuh percaya diri dari orang tua bahwa
mereka mampu. Orang tua diharapkan tidak terpancing dengan perilaku anak yang
menyebabkan kemarahan. Dan percaya jika anak didisiplikan satu atau dua kali
gagal bukan berarti anak tidak dapat disiplin. Percayalah bahwa perubahan
perilaku pada anak pasti anak akan
terjadi karena anak mampu untuk belajar disiplin. Dan untuk mengajarkan
disiplin pada anak sebaiknya tidak hanya dengan perintah dan marah-marah. Bisa
jadi anak tidak memahami keinginan orang tua untuk menerapkan kedisiplin.
Orang tua harus memberikan manfaat dan penjelasan mengenai disiplin
karena jika hanya memberikan contoh tanpa menerangkan maksudnya, membuat anak tidak mengerti mengapa ia harus
bertingkah laku baik. Anak hanya melakukan sekedar mengikuti orang tuanya saja,
sehingga terkadang salah mengartikan contoh yang dilihat. Selanjutnya yaitu memberikan
penjelasan disertai tanya jawab dengan memberikan penjelasan apa yang harus
anak lakukan jangan lupa untuk menyampaikan alasannya.jelaskan pula manfaatnya
jika anak bertingkah laku baik dan penjelasan harus dilakukan berulang-ulang
kali sampai anak betul-betul bisa
melakukan perbuatan tersebut dan mengerti kenapa harus dilakukan.
Selanjutnya jika anak sudah menguasai perilaku tersebut orang tua
tidak usah berada didekat anak agar perilaku yang baik itu muncul. Anak akan
dengan senag hati memunculkan perilaku tersebut karenaa telah mengerti
manfaatnya. Sebagai contoh anak harus tidur siang, jelaskan kepada anak mengapa
ia harus tidur siang maka sore hari ia akan mengantuk. Anak akan bisa bermain
dan lain sebagainya jika ia telah tidur disiang hari sehingga ketika sore hari
dia bisa beraktivitas tanpa mengantuk.
Ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan untuk menerapkan kedisiplinan
pada anak diantaranya yang harus diingat adalah harus bersikap
tenang dan tahu keadaan anak sehingga tahu
kapan waktu yang tepat untuk mendisiplinkan anak. Selain itu orang tua juga
harus percaya bahwa mereka mampu mendisiplinkan anak dan anak dapat
didisiplinkan. Berikut contoh tahapan yang dapat dilakukan, kita ambil contoh
yaitu menyuruh anak untuk membereskan mainannya setelah digunakan. Tahap
pertama, tentukan perilaku yang diinginkan: mainan yang tadinya berantakan
dibereskan masuk kekotak kembali. Tahap kedua, katakan kepada anak apa yang
sudah ditentukan pada tahapan pertama dan katakan kepadanya kegunaan bila anak
membereskan mainannya yaitu anak tidak akan kehilangan mainannya dan mudah
untuk mencarinya kembali jika ia hendak menggunakannya kembali (tahap kedua ini
bisa dilakukan secara berulang-ulang dan disertai dengan tanya jawab). Tahap
ketiga, puji anak jika tingkah lakunya sudah baik, yaitu membereskan mainannya
dan memasukannya kedalam kotak. Tahap keempat, bisa terus diulang sampai
kedisiplinan yang diinginkan menjadi menetap pada pribadi anak.
Didalam buku yang diterbitkan oleh direktorat pembianaan pendidikan anak usia dini menyebutkan ada
beberapa tip yang dapat dilakukan bagi orang tua yang menginginkan anaknya
menjadi disiplin seperti; untuk
menerapkan disiplin pada anak ada aturan yang jelas, namun tetap ada kelenturan
dari aturan disesuaikan dengan sesuatu saat itu. Orang tua dan anak harus
memperluas pengetahuanya melalui buku, televisi, majalah atau media yang
lainnya. Orang tua juga tidak memaksakan kehendak atau keinginan tetapi lebih mengajar dan
berkomunikasi kepada anak dan disesuaikan dengan usia anak. Mendisiplinkan anak
tidak hanya bukup dengan ancaman atau hukuman namun dengan membantu anak
memahami tujuan dan keuntungannya bila ia melakukan perbuatan itu. Dan yang
terakhir jangan sering mencela anak
sehingga anak menjadi sedih dan malu dikhawatirkan nanti anak tidak bisa
percaya diri. Sehingga dalam menggapai sikap disiplin pada anak dibutuhkan
peran orangtua yang peka terhadap perilaku anak.
Menurut harlock agar disiplin mampu mendidik anak untuk berperilaku
sesuai standart yang ditetapkan oleh kelompok sosial mereka maka disiplin harus
memiliki empat unsur pokok. Diantaranya ada; peraturan yaitu pola yang
ditetapkan untuk tingkah laku dimana pola tersebut ditetapkan oleh guru, orang
tua, atau teman bermain. Tujuannya dalah untuk membekali anak dengan pedoman
perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Peraturan itu sendiri mempunyai
dua fungsi yaitu peraturan yang mempunyai nilai pendidikan sebab peraturan
memperlakukan anak perilaku yang disetujui anggota kelompok tersebut dan
peraturan mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Agar peraturan dapat
memenuhi kedua fungsi tersebut maka peraturan itu haruslah dapat dimengerti ,
diingat dan diterima oleh si anak. Anak kecil lebih banyak butuh peraturan
daripada anak yang lebih besar sebab menjelang remaja anak dianggap telah
belajar dariapa yang diharapkan dari kelompok sosial mereka.
Unsur yang kedua yaitu hukuman, hukuman memiliki tiga fungsi dalam
pembentukan moral anak diantaranya a) menghalangi,hukuman dapat menghalangi pengulangan
tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat, b)mendidik, sebelum anak
memahami konsep peraturan mereka akan mempelajari manakah tindakan yang benar
dan tidak. c)motivasi adalah untuk menghindari perilaku yang tidak diterima
oleh masyarakat.selanjutnya Unsur yang
ketiga yaitu penghargaan karena
penghargaan mempunyai peranan penting dalam mengajarkan anak berperilaku
disiplin karena penghargaan mempunyai nilai mendidik dan sebagai motivasi untuk
mengulangi perilaku yang disetujiu oleh masyarakat. Unsur selanjutnya adalah
adanya konsistensi yang berarti tingkat keseragaman atau stabilitas yang
berfungsi mendidik dan memotivasi dan anak yang cenderung diberi pendidikan
yang konsistensi cenderung lebih matang disiplin dirinya dibanding dengan anak
yang tidak diberi disiplin secara konsisten.
Dalam menerapkan disiplin orang tua atau guru hendaknya menggunakan
metode atau cara yang dapat menambah motivasi anak untuk berperilaku baik. Jadi
peraturan atau disiplin itu dilakukan oleh semua orang baik itu anak, siswa,
orang tua maupun guru. Dalam menerapkan disiplin yang paling penting adalah
tidak adanya sikap permusuhan yang ada hanyalah keinginan untuk membentuk anak
menjadi anak yang berguna dan baik. Maka sudah seharusnya jika hendak
meningkatkan disiplin pada anak harus diperlukan kesinergian antara komponen
yang bersangkutan. Apabila disiplin tersebut telah terbentuk maka akan
terwujudlah disiplin pribadi yang kuat, yang setelah dewasa akan terwujudkan
pula dalam setiap aspek kehidupan antara lain dalam bentuk disiplin kerja,
disiplin mengatur keuangan rumah tangga,
dan disiplin dalam menunaikan perintah serta meninggalkan larangan Allah
swt.
Dalam keadaan disiplin itu
mampu dilaksanakan oleh semua anggota masyarakat atau warga negara terutama
berupa kepatuhan dan ketaatan terhadap ketentuan-ketentuan hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara maka akan terwujud disiplin nasional dan disiplin umat
bersumber dari disiplin warga negara dan pemeluk agama. Bertolak dari hal-hal
dimuka, zakiah daradjat berpendapat bahwa salah satu wadah untuk mendidik
disiplin generasi penerus bangsa adalah melalui sekolah. Menurutnya hendaknya
sekolah dapat diusahakan menjadi lapangan yang baik bagi pertumbuhan dan
perkrmbangan mental dan moral anak didik, disamping sebagai tempat pengembangan
bakat dan kecerdasan dengan kata lain supaya sekolah merupakan lapangan sosial
bagi anak didik dimana pertumbuhan mental, moral dan sosial dan segala aspek
kepribadian dapat berjalan dengan baik.
Pengembangan disiplin pada siswa disekolah, dalam hal ini guru
sebagai pendidik harus bertanggung jawab mengarahkan apa yang baik, menjadi
tauladan, sabar dan penuh pengertian.guru harus mampu menumbuhkan dalam peserta
didik, terutama disiplin diri. Untuk kepentingan tersebut guru mampu melakukan
hal-hal sebagai berikut :
1.
Membantu
mengembangkan pola perilaku dalam dirinya
2.
Membantu
peserta didik meningkatkan standart perilakunya
3.
Menggunakan
pelaksanaan peraturan sekolah sebagai alat untuk menegakkan disiplin.
Dengan disiplin anak bersedia untuk tunduk dan mengikuti peraturan
tertentu dan menjauhi larangan tertentu kesediaan semacam ini harus dipelajari
dan harus secara sadar diterima dalam rangka memelihara kepentingan bersama
atau memelihara tugas-tugas sekolah. Hanya dengan menghormati aturan sekolah
anak belajar menghormati aturan-aturan umum lainnya, belajar mengembangkan
kebiasaan mengekang dan mengekang dan mengendalikan diri. Jadi, inilah fungsi
yang sebenarnya dari disiplin bukan prosedur sederhana yang dimaksud untuk
membuat anak bekerja dengan merangsang kemauannya untuk mentaati instruksi, dan
menghemat tenaga guru.
Latihan untuk mendisiplinkan diri sebenarnya harus dilakukan secara
terus menerus kepada anak didik. Upaya ini benar-benar merupakan suatu cara
yang efektif anak mudah mengerti arti kedisiplinan dalam hidup. Anak diajari
dengan konsekuensi logis dan konsekuensi alami dari perbutannya, berbagai umpan
balik layak diberikan kepada si anak baik secara lisan maupun tulisan.agar anak
dengan semangat bisa melakukan disiplin diri dengan senang hati, bukan karena
paksaan atau suruhan dari orang lain. Karena disiplin harus diajarkan dan di
berikan sejak anak masih kecil maka tidak boleh dengan paksaan, tapi biarkan
itu mengalir dengan sendirinya tapi tentu saja dengan stimulus yang diberikan
pihak-pihak terkait yaitu orang tua dirumah dan para guru disekolah. Pengalaman
utama dari para guru dan orang tua dalam pelaksanaan disiplin akan memberikan
keteraturan dalam hidup “disiplin diri sendiri hanya akan tumbuh dalam suasana
dimana guru dan peserta didik terjalin sikap persahabatan yang berakar pada
dasar rasa saling hormat menghormati dan saling mempercayai”.
Untuk menerapkan disiplin pada anak ada beberapa hal yang harus
dihindari dan jangan sekali-kali untuk
dilakukan kepada anak, seperti halnya menggunakan kekerasan kepada anak yang
justru akan melahirkan disiplin semu maksudnya anak hanya akan patuh karena ada
dororngan rasa takut, bukan karena kesadaran dalam dirinya sendiri. Jangan pula
bersikap lemah karena disiplin akan sulit untuk ditegakkan jika para orang tua
dan guru berlaku lemah yang berakibat anak akan
bersikap acuh tak acuh dan cenderung menyepelekan apa yang seharusnya
menjadi tanggung jawabnya. Orang tua dan guru harus terlibat penuh dalam upaya
meningkatkan disiplin anak.
KESIMPULAN
Melihat begitu kompleknya permasalahan dalam dunia pendidikan di
Indonesia terutama karakter atau moral dari para pelajarnya yang mengalami
uncharacter dan berbagai kenakalan remaja lainnya maka sudah sepatutnya jika
pendidikan karakter digalakkan baik itu di institusi pendidikan maupun
keluarga. Pendidikan karakter harus diajarkan dan dikembangkan sejak dini
secara kesinambungan dan bertahap, terutama karakter mengenai tanggung jawab
dan pila hidup disiplin.
Tanggung jawab dan disiplan adalah dua hal yang saling menopang
satu sama lain, dengan belajar hidup disiplin maka akan tercipta keteraturan
dalam keseharian anak. Mengajarkan anak tanggung jawab adalah menyiapkan
anak-anak menjadi seseorang yang mempunyai kepekaan terhadap segala sesuatu
yang dia lakukan. Karena anak-anak adalah generasi di masa depan yang akan
melanjutkan estafet perjuangan bangsa indonesia maka patutlah jika dibangun
dari pendidikannya. Pendidikan tidak hanya mencetak generasi yang intelektual
saja, tapi harus lebih dari itu membentuk karakter bangsa melalui anak-anak.
Jadi sebenarnya ada banyak cara untuk menjadikan nasib bangsa dan
karakter para pelajarnya menjadi lebih baik, lebih bermoral dan memiliki
karakter yang khas. Salah satu alternatifnya yaitu melalui ranah pendidikan
sebagai pembentuk insan cendekia, dan pendidikan dalam keluarga yaitu orang tua
sebagai pembimbing langsung. Sehingga meningkatkan tanggung jawab dan disiplin
anak akan tercapai dan terbentuk.
wallahu'alam bi showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar