Kamis, 08 Januari 2015

MAKALAH TASAWUF AMALI



       I.            PENDAHULUAN
Era industrial mengakibatkan terkjadinya kehidupan yang serba modern. Kehidupan modern ditandai dengan terciptanya sarana hidup yang serba canggih. Ada dampak negatif yang sering ditimbulkan oleh kemajuan industri ; yaitu semakin kuatnya paham materialistik, dimana manusia selalu mengejar nilai materi dengan melupakan bahwa nilai spiritual juga sangat besar artinya  dalam kehidupan manusia. Keberhasilan ini sering menimbulkan gangguan rohani karena tuntutan agama kurang mendapat perhatian lagi, hingga mencapai  puncaknya; yaitu timbulnya berbagai macam gangguan kejiwaan yang diderita oleh masyarakat.
Makalah ini kami kaji dengan menggunakan tasawuf amali; yaitu tasawuf yang nti ajarannya menekankan pembahasannya mengenai cara-cara yang harus dilalui oleh hamba, untuk dapat mendekatkan diri kepada Tuhan-nya, dengan meningkatkan ibadah sunahnya, menekankan kecenderungan hawa nafsunya  (al-mujahadah) dan melatih rohaninya dengan memperbanyak dzikir kepada Allah (Al-Riyadah). 
Al-kalabaziy mengatakan bahwa tasawuf amali tergolong ilmu tentang keadaan hati (‘ulum al-ahwal). Dan tergolong juga sebagai ilmu hikmah; yaitu ilmu yang mempelajari faktor penyebab terjadinya penyakit jiwa serta cara-cara melakukan latihan-latihan kerohanian untuk mengobatinya. [1]
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apakah Pengertian tasawuf amali?
B.     Apakah istilah-istilah dalam tasawuf amali?
C.     Siapa saja tokoh aliran tasawuf amali?

 III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tasawuf Amali
Tasawuf amali adalah tasawuf yang menekankan pada amaliah berupa wirid dan amaliah lainnya. Tasawuf amali/haddah, menghapuskan sifat-sifat yang tercela, melintasi semua hambatan itu, dan menghadapi total dari segenap esensi diri hanya kepada Allah SWT. [2]

B.     Istilah-Istilah dalam Tasawuf Amali
Beberapa istilah penting dalam tasawuf
Apabila dilihat dari tingkatan dalam komunitas itu, terdapat beberapa istilah sebagai berikut:
a.       Murid
Munurut Al-Kallabazi dlaam bukunya “At-Taarruf li al-Madshabi Ahli ash-shaufiyah, menyatakan bahwa murid yaitu orang yang mencari pengetahuan dan bimbingan dalam melaksanakan amal ibadahnya, dengan memusatkan segala perhatian dan usahanya kearah itu, melepas segala kemauannya dengan menggantungkan diri dan nasibnya kepada iradah Allah. (Al-kalabazi: 167)
Murid dalam dunia tasawuf ada tiga klas yaitu:
1)      Mubtadi atau Permula
Yaitu mereka yang baru mempelajari syar’at. Jiwanya masih terikat pada kehidupan duniawi, klas pemula ini berlatih melakukan amalan-amalah zhahir secara tetap dengan cara dalam waktu tertentu
2)      Mutawassith, atau menengah
Yaitu tingkatan menengah, orang yang sudah dapat melewati kelas pemula telah mempunyai pengetahuan yang cukup tetang syari’at. Klas ini sudah mulai memasuki pengetahuan dan amalan yang bersifat bathiniyah. Tahap ini adalah tahap belajar dan berlatih mensucikan bathin agar tercapai akhlak yang baik
3)      Muntahi, atau Atas
Tingkatan atas yaitu yang telah matang ilmu syar’atnya, sudah menjalani thariqat dan mendalami ilmu bathiniah. Sudah bebas dari perbuatan maksiat sehingga jiwanya bersih, orang yang sudah sampai kepada tingkat ini disebut orang ‘arif, yaitu orang yang sudah diperkenakan mendalam ilmu hakikat. Setelah itu ia pun bebas dari bimbingan guru, berjalan sendiri
Bagi orang yang sudah matang dalam fase ini masih ada kelanjutan untuk mendapatkan tingkatan yang lebih tinggi yaitu dengan mendalami ilmu ma’rikah.
b.      Syekh
Yaitu seorang pemimpin kelompok kerohanian, pengawas murid-murid dalam segala kehidupannya, penunjuk jalan dan sewaktu-waktu dianggap sebagai perantara antara seorang murid dengan Tuhannya. Syekh ini disebut mursyid, yaitu orang yang sudah melalui tingkat khalifah. Ia adalah seorang yang mempunyai tingkat kerohanian yang tinggi sempurna ilmu syari’atnya, matang ilmu hakikatnya, dal ilmu ma’rifatnya.
Hubungan antara murid dengan Syekh atau Mursyid, adalah hubungang pergerakan diri sepenuhnya, seorang murid harus tunduk, setia dan rela dengan pelakuan apa saja yang ia terima dari syekhnya, ia harus mampu bersikap seperti Jenazah yang sedang dimandikan, rela dan ikhlas dibolak-balik tampa ada merasa menyesal dan menolak. Demikian passrahnya seorang murid kepada gurunya.
c.       Wali dan Quthub
Yaitu seorang yang telah sampai ke puncak kesucian bathin, memperoleh ilmu laduni yang tinggi sehingga tersingkap tabir rahasia yang gaib-gaib. Orang seperti ini akan memperoleh karunia dari Allah dan itulah yang disebut Wali. Jadi, seorang Wali adalah seorang yang mencapai puncak kesempurnaan, kecintaan Allah, karena pengabdian dan amalannya yang luar biasa kepada Allah. Ia memperoleh berbagai kemampuan yang luar biasa, yang supra-insani sebagai karunia Allah. Menurut Al-Kalabazi, inilah yang disebut karomah itu. (Al-Kalabazi: 89). Orang yang mulia seperti itu, menurut sufi adalah “wakil-wakil” nabi, pelanjut perjuagan Nabi, inilah yang dimaksud dengan Quthub.
Mereka ini mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan Nabi dalam hal kesucian rohani, kedalaman ilmu dan keta’atan kepada Allah. Quthub memperoleh ilmu melalui ilham, sedangkan Nabi memperoleh melalui Wahyu.
Apabila dilihat dari sudut amalan serta jenis ilmu yang dipelajari, maka terdapat beberapa istilah yang khas dalam dunia tasawuf, yaitu : ilmu lahir dan ilmu bathin. Ajaran- ajaran agama itu mengandung lahiriyah dan arti bathiniyah yang merupakan inti setiap ajaran itu. Oleh karena itu cara memahami dan mengamalkannya juga harus melalui aspek lahir dan aspek bathin. Kedua aspek yang terkandung dalam ilmu itu mereka bagai kepada empat kelompok yaitu:
1.      Syari’at
Syari’at mereka mengartikan sebagai amalan-amalan lahir yang difardukan dalam agama, yang biasa dikenal rukun islam dan segala hal yang berhubungan dengan itu, bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Seorang yang ingin memasuki dunia tasawuf, harus dahulu mengetahui secara mendalam tentang al-Qur’an dan Hadist yang dimulai dengan amalan zhahir baik yang wajib maupun yang sunnah (H. Zainal Arifin Abbas: 143)
Oleh karena rasa kenikmatan dalam beribadah itu telah termasuk dalam jiwa, maka timbullah amalan Sunnat yang ditetapkan cara dan waktunya seperti : zikir sekian kali pada waktu tertentu. Akibatnya hampir seluruh waktu mereka dipergunakan untuk shalat dan zikir dengan cara dan jumlah yang telah ditentukan oleh alirannya masing-masing (Qamar Kailany : 2930). Dengan demikian setiap sufi, pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah mengamalkan perintah ilahi secara tuntas dan menyeluruh. [3]
2.      Thariqat
Thariqat menurut istilah tasawuf adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mencapai tujuan berada sedekat mungkin dengan tuhan.[4] Thariqat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syari’at, sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut dengan thariq. [5]
Dalam melakasanakan syari’at tersebut, harus berdasarkan tata cara yang telah digariskan dalam agama dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada Allah, karena kecintaan kepada Allah dan karana ingin berjumpa dengannya. Perjalanan menuju kepada Allah itulah yang mereka maksud dengan Thariqat, yaitu Thariqat Tasawuf (Hamka: 104)
3.      Hakikat
Secara Luqhawi, hakikat berarti inti sesuatu, puncak atau sumber asal dari sesuatu. Dalam dunia sufi. Hakikat diartikan sebagai aspek lain dari syarai’at yang bersifat lahiriyah, yaitu aspek bathiniyah. Dengan demikian dapat diartikan sebagai rahasia yang paling dalam dari segala amal, inti dari syari’at dan akhir dari perjalanan yang ditempuh oleh sufi (al-kalabazi: 158)
Dengan demikian, bahwa hakikat itu tidak bisa lepas dari syari’at, bertalian dengan Thariqat dan juga terdapat dalam ma’rifat. Sering ditemukan pengertian antara hakikat dan ma’rifah, karena masing-masing mengadung arti puncak dari segala amal dan penjalanan, inti dan segala ilmu dan pengalaman
4.      Ma’rifat
Ma’rifah berasal dari kata ‘arafa-yurifu-irfan, marifah artinya pengetahuan, pengalaman dan pengetahuan ilahi. Ma’rifah adalah kumpulan ilmu pengetahuan, perasaan, pengalaman dan amal dan ibadah kepada Allah swt.[6] Dalam istilah tasawuf, ma’rifah adalah pengetahuan yang jelas dan sangat pasti tentang tuhan yang diperoleh melaluia sanubari.
Imam Al-Ghozali secara terperinci mengemukakan pengertian ma’rifah kedalam hal-hal berikut :
a.    Ma’rifat adalah mengenal rahasia-rahasia Allah dan aturan-aturan-Nya yang melingkupi seluruh yang ada;
b.    Seseorang yang sudah sampai pada ma’rifat berada dekat dengan Allah, bahkan ia dapat memandang wajahnya;
c.    Ma’rifat datang sebelum mahabbah

Al-Mahabbah, adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan ma’rifah, baik dalam penepatannya maupun dalam pengertiannya, kalau ma’rifah merupakan tingkat pengetahuan kepada tuahn melalui mata hati., maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan tuhan melalui cinta, seluruh jiwannya terisi oleh rasa kasih dan cinta kepda Allah. Rasa cinta itu jumlah kepada pengetahuan dan pengelanal kepada tuhan sudah mendalam, sehingga yang dilihat dan dirasakan bukan lagi cinta tetapi “diri yang dicintai” oleh karena itu menurut Al-Gazali mahabbah itu manifestasi dari ma’rifah kepada Tuhan.[7]

C.    Tokoh-Tokoh Aliran Tasawuf Amali
Tasawuf amali adalah tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf amali berkonotasi dengan tarekat. Tokoh tasawuf ini antara lain Dzun Nun Al-misri dan Hasan Al- Basri.
1.    Riwayat hidup Dzun Nun Al-Misri dan pandangan tasawufnya
Dzun Nun Al-Misri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang tinggal disekitar pertengahan abad ke-3 H. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Faidl bin Ibrahim Dzun Nun Al-Misri. Ia dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi Mesir tahun 180 H/796 M. Ia berasal dari salah satu kota di daerah pedalaman Mesir. Ayahnya seorang Nubian (sebutan bagi penduduk Nubiah, dan termasuk keturunan pembesar Quraisy). Dzun Nun Al-Misri meninggal pada tahun 246 H/856 M. Ia dimakamkan di pemakaman As-Syafi’i. Tatkala orang mengusung jenazahnya, muncullah sekawanan burung hijau yang memayungi jenazahnya dan seluruh pengiring jenazah dengan sayap-sayap hijau burung tersebut. Dan pada hari ke-2, orang-orang menemukan tulisan pada nisan makam beliau, “Dzun Nun adalah kekasih Allah, diwafatkan karena rindu” dan setiap kali orang akan menghapus tulisan itu, maka muncul kembali seperti sedia kala.
Pandangan tasawuf Dzun Nun Al-Misri:
         Dzun Nun pernah mengatakan, bahwa neraka bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti, yang lebih ditakuti adalah ketika berpisah dari kekasih sejati. Ketakutannya tak lebih dari setetes air yang dibuang ke samudera cinta Allah.
         Dzun Nun mengatakan bahwa sufi ialah orang yang tidak meminta dan tidak merasa kesusahan karena ketiadaan. Beliau mengatakan bahwa “Ahlak seorang Arif Billah adalah Allah, dan orang yang arif selalu akan bersifat seperti sifat-sifat Tuhan dan selalu menjaga perilakunya agar tidak terjebak dalam kenistaan dunia yang menghanyutkan dan menghinakan orang yang dekat kepada Allah”.
         Secara umum, pandangan tasawuf sedikit berbeda dengan pemikiran-pemikiran tasawuf para sufi lainnya. Dia pun menjelaskan konsep tasawufnya yang menonjol yaitu tentang ma’rifat. Sebagai sufi, Dzun Nun AL-Misri dikenal sebagai bapak paham ma’rifat. Karena teorinya tentang ilmu tersebut sangat mencolok. Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari dapat melihatNya. Selain konsep ma’rifat, juga mengungkapkan pengalamannya tentang khauf (rasa takut kepada Allah dan mahabbah). [8]

2.    Riwayat hidup Hasan AL-Basri dan pandangan tasawufnya
         Hasan Al-Basri nama lengkapnya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Abu Said. Tempat lahirnya adalah di Madinah pada tahun 21 H/642 M, dan dia meninggal di basroh pada tahun 110 H/728 M. Hasan Al- Basri hidup di lingkungan  orang-orang yang shaleh yang mendalami agama. Ibunya bernama Ummu Salamah seorang hamba sahaya istri Nabi.
         Hasan Al- Basri seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. Prinsip ajarannya yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan semangatnya. Dasar pendirian Hasan Al- Basri adalah hidup zuhud terhadap kehidupan duniawi yang tahu dosanya dan yang selalu beribadah kepada Allah. Tentang kehidupan zuhud beliau berkata ”dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan bersamanya atau dalam menyertainya. Barang siapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta di antarkan pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh kesabarannya.[9]



[1] Mahjuddin, Pendidikan Hati; kajian tasawuf amali, (Jakarta: KALAM MULIA, 2001), hlm 6
[3] Mukhtar Hadi, Memahami Ilmu Tasawuf “Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf, (Yogyakarta: Aura Media, 2009), hlm. 217
[4] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf,  (Wonosobo: Penerbit AMZAH, 2005),  hlm. 239
[5] Mukhtar Hadi, Memahami Ilmu Tasawuf “Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf, (Yogyakarta: Aura Media, 2009), hlm, 75
[6] Mukhtar Hadi,  Memahami Ilmu Tasawuf “Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf”. (Yogyakarta : Aura Media, 2009), hlm. 76
[7]
[8] A. Bangun Nasution dan Rayani Hanum S, Ahlak Tasawuf, (Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 235-237
[9] A. Bangun Nasution dan Rayani Hanum S, Ahlak Tasawuf, (Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 206

1 komentar: