I.
PENDAHULUAN
Era industrial mengakibatkan
terkjadinya kehidupan yang serba modern. Kehidupan modern ditandai dengan
terciptanya sarana hidup yang serba canggih. Ada dampak negatif yang sering
ditimbulkan oleh kemajuan industri ; yaitu semakin kuatnya paham materialistik,
dimana manusia selalu mengejar nilai materi dengan melupakan bahwa nilai
spiritual juga sangat besar artinya dalam kehidupan manusia. Keberhasilan ini
sering menimbulkan gangguan rohani karena tuntutan agama kurang mendapat
perhatian lagi, hingga mencapai
puncaknya; yaitu timbulnya berbagai macam gangguan kejiwaan yang
diderita oleh masyarakat.
Makalah ini kami kaji dengan
menggunakan tasawuf amali; yaitu tasawuf yang nti ajarannya menekankan
pembahasannya mengenai cara-cara yang harus dilalui oleh hamba, untuk dapat
mendekatkan diri kepada Tuhan-nya, dengan meningkatkan ibadah sunahnya,
menekankan kecenderungan hawa nafsunya
(al-mujahadah) dan melatih rohaninya dengan memperbanyak dzikir kepada
Allah (Al-Riyadah).
Al-kalabaziy mengatakan bahwa tasawuf
amali tergolong ilmu tentang keadaan hati (‘ulum al-ahwal). Dan tergolong juga
sebagai ilmu hikmah; yaitu ilmu yang mempelajari faktor penyebab terjadinya
penyakit jiwa serta cara-cara melakukan latihan-latihan kerohanian untuk
mengobatinya. [1]
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apakah
Pengertian tasawuf amali?
B.
Apakah
istilah-istilah dalam tasawuf amali?
C.
Siapa
saja tokoh aliran tasawuf amali?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tasawuf Amali
Tasawuf amali adalah tasawuf yang
menekankan pada amaliah berupa wirid dan amaliah lainnya. Tasawuf amali/haddah,
menghapuskan sifat-sifat yang tercela, melintasi semua hambatan itu, dan
menghadapi total dari segenap esensi diri hanya kepada Allah SWT. [2]
B.
Istilah-Istilah dalam Tasawuf Amali
Beberapa istilah penting dalam tasawuf
Apabila dilihat dari tingkatan dalam komunitas itu,
terdapat beberapa istilah sebagai berikut:
a. Murid
Munurut Al-Kallabazi dlaam bukunya “At-Taarruf li
al-Madshabi Ahli ash-shaufiyah, menyatakan bahwa murid yaitu orang yang mencari
pengetahuan dan bimbingan dalam melaksanakan amal ibadahnya, dengan memusatkan
segala perhatian dan usahanya kearah itu, melepas segala kemauannya dengan
menggantungkan diri dan nasibnya kepada iradah Allah. (Al-kalabazi: 167)
Murid dalam dunia tasawuf ada tiga klas yaitu:
1) Mubtadi atau Permula
Yaitu mereka yang baru mempelajari syar’at. Jiwanya
masih terikat pada kehidupan duniawi, klas pemula ini berlatih melakukan
amalan-amalah zhahir secara tetap dengan cara dalam waktu tertentu
2) Mutawassith, atau menengah
Yaitu tingkatan menengah, orang yang sudah dapat
melewati kelas pemula telah mempunyai pengetahuan yang cukup tetang syari’at.
Klas ini sudah mulai memasuki pengetahuan dan amalan yang bersifat bathiniyah.
Tahap ini adalah tahap belajar dan berlatih mensucikan bathin agar tercapai
akhlak yang baik
3) Muntahi, atau Atas
Tingkatan atas yaitu yang telah matang ilmu
syar’atnya, sudah menjalani thariqat dan mendalami ilmu bathiniah. Sudah bebas
dari perbuatan maksiat sehingga jiwanya bersih, orang yang sudah sampai kepada
tingkat ini disebut orang ‘arif, yaitu orang yang sudah diperkenakan mendalam
ilmu hakikat. Setelah itu ia pun bebas dari bimbingan guru, berjalan sendiri
Bagi orang yang sudah matang dalam fase ini masih ada
kelanjutan untuk mendapatkan tingkatan yang lebih tinggi yaitu dengan mendalami
ilmu ma’rikah.
b. Syekh
Yaitu seorang pemimpin kelompok kerohanian, pengawas
murid-murid dalam segala kehidupannya, penunjuk jalan dan sewaktu-waktu
dianggap sebagai perantara antara seorang murid dengan Tuhannya. Syekh ini
disebut mursyid, yaitu orang yang sudah melalui tingkat khalifah. Ia adalah
seorang yang mempunyai tingkat kerohanian yang tinggi sempurna ilmu
syari’atnya, matang ilmu hakikatnya, dal ilmu ma’rifatnya.
Hubungan antara murid dengan Syekh atau Mursyid,
adalah hubungang pergerakan diri sepenuhnya, seorang murid harus tunduk, setia
dan rela dengan pelakuan apa saja yang ia terima dari syekhnya, ia harus mampu
bersikap seperti Jenazah yang sedang dimandikan, rela dan ikhlas dibolak-balik
tampa ada merasa menyesal dan menolak. Demikian passrahnya seorang murid kepada
gurunya.
c. Wali dan Quthub
Yaitu seorang yang telah sampai ke puncak kesucian
bathin, memperoleh ilmu laduni yang tinggi sehingga tersingkap tabir rahasia
yang gaib-gaib. Orang seperti ini akan memperoleh karunia dari Allah dan itulah
yang disebut Wali. Jadi, seorang Wali adalah seorang yang mencapai puncak
kesempurnaan, kecintaan Allah, karena pengabdian dan amalannya yang luar biasa
kepada Allah. Ia memperoleh berbagai kemampuan yang luar biasa, yang
supra-insani sebagai karunia Allah. Menurut Al-Kalabazi, inilah yang disebut
karomah itu. (Al-Kalabazi: 89). Orang yang mulia seperti itu, menurut sufi
adalah “wakil-wakil” nabi, pelanjut perjuagan Nabi, inilah yang dimaksud dengan
Quthub.
Mereka ini mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan
Nabi dalam hal kesucian rohani, kedalaman ilmu dan keta’atan kepada Allah.
Quthub memperoleh ilmu melalui ilham, sedangkan Nabi memperoleh melalui Wahyu.
Apabila dilihat dari sudut amalan serta jenis ilmu
yang dipelajari, maka terdapat beberapa istilah yang khas dalam dunia tasawuf,
yaitu : ilmu lahir dan ilmu bathin. Ajaran- ajaran agama itu mengandung
lahiriyah dan arti bathiniyah yang merupakan inti setiap ajaran itu. Oleh
karena itu cara memahami dan mengamalkannya juga harus melalui aspek lahir dan
aspek bathin. Kedua aspek yang terkandung dalam ilmu itu mereka bagai kepada
empat kelompok yaitu:
1. Syari’at
Syari’at mereka mengartikan sebagai amalan-amalan
lahir yang difardukan dalam agama, yang biasa dikenal rukun islam dan segala
hal yang berhubungan dengan itu, bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Seorang yang ingin memasuki dunia tasawuf, harus dahulu mengetahui secara
mendalam tentang al-Qur’an dan Hadist yang dimulai dengan amalan zhahir baik
yang wajib maupun yang sunnah (H. Zainal Arifin Abbas: 143)
Oleh karena rasa kenikmatan dalam beribadah itu telah
termasuk dalam jiwa, maka timbullah amalan Sunnat yang ditetapkan cara dan
waktunya seperti : zikir sekian kali pada waktu tertentu. Akibatnya hampir
seluruh waktu mereka dipergunakan untuk shalat dan zikir dengan cara dan jumlah
yang telah ditentukan oleh alirannya masing-masing (Qamar Kailany : 2930).
Dengan demikian setiap sufi, pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah
mengamalkan perintah ilahi secara tuntas dan menyeluruh. [3]
2. Thariqat
Thariqat
menurut istilah tasawuf adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi
dalam mencapai tujuan berada sedekat mungkin dengan tuhan.[4]
Thariqat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan digambarkan sebagai jalan
yang berpangkal dari syari’at, sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak
jalan disebut dengan thariq. [5]
Dalam melakasanakan syari’at tersebut, harus
berdasarkan tata cara yang telah digariskan dalam agama dan dilakukan hanya
karena penghambaan diri kepada Allah, karena kecintaan kepada Allah dan karana
ingin berjumpa dengannya. Perjalanan menuju kepada Allah itulah yang mereka
maksud dengan Thariqat, yaitu Thariqat Tasawuf (Hamka: 104)
3. Hakikat
Secara Luqhawi, hakikat berarti inti sesuatu, puncak
atau sumber asal dari sesuatu. Dalam dunia sufi. Hakikat diartikan sebagai
aspek lain dari syarai’at yang bersifat lahiriyah, yaitu aspek bathiniyah.
Dengan demikian dapat diartikan sebagai rahasia yang paling dalam dari segala
amal, inti dari syari’at dan akhir dari perjalanan yang ditempuh oleh sufi
(al-kalabazi: 158)
Dengan demikian, bahwa hakikat itu tidak bisa lepas
dari syari’at, bertalian dengan Thariqat dan juga terdapat dalam ma’rifat.
Sering ditemukan pengertian antara hakikat dan ma’rifah, karena masing-masing
mengadung arti puncak dari segala amal dan penjalanan, inti dan segala ilmu dan
pengalaman
4. Ma’rifat
Ma’rifah berasal dari kata ‘arafa-yurifu-irfan,
marifah artinya pengetahuan, pengalaman dan pengetahuan ilahi. Ma’rifah adalah
kumpulan ilmu pengetahuan, perasaan, pengalaman dan amal dan ibadah kepada
Allah swt.[6] Dalam
istilah tasawuf, ma’rifah adalah pengetahuan yang jelas dan sangat pasti
tentang tuhan yang diperoleh melaluia sanubari.
Imam Al-Ghozali secara terperinci mengemukakan
pengertian ma’rifah kedalam hal-hal berikut :
a. Ma’rifat adalah mengenal rahasia-rahasia Allah dan
aturan-aturan-Nya yang melingkupi seluruh yang ada;
b. Seseorang yang sudah sampai pada ma’rifat berada dekat
dengan Allah, bahkan ia dapat memandang wajahnya;
c. Ma’rifat datang sebelum mahabbah
Al-Mahabbah, adalah satu istilah yang hampir selalu
berdampingan dengan ma’rifah, baik dalam penepatannya maupun dalam
pengertiannya, kalau ma’rifah merupakan tingkat pengetahuan kepada tuahn
melalui mata hati., maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan tuhan
melalui cinta, seluruh jiwannya terisi oleh rasa kasih dan cinta kepda Allah.
Rasa cinta itu jumlah kepada pengetahuan dan pengelanal kepada tuhan sudah
mendalam, sehingga yang dilihat dan dirasakan bukan lagi cinta tetapi “diri
yang dicintai” oleh karena itu menurut Al-Gazali mahabbah itu manifestasi dari
ma’rifah kepada Tuhan.[7]
C.
Tokoh-Tokoh Aliran Tasawuf Amali
Tasawuf amali adalah tasawuf yang
membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf amali
berkonotasi dengan tarekat. Tokoh tasawuf ini antara lain Dzun Nun Al-misri dan
Hasan Al- Basri.
1.
Riwayat
hidup Dzun Nun Al-Misri dan pandangan tasawufnya
Dzun
Nun Al-Misri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang tinggal disekitar
pertengahan abad ke-3 H. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Faidl bin Ibrahim Dzun
Nun Al-Misri. Ia dilahirkan di Ikhmim, dataran tinggi Mesir tahun 180 H/796 M.
Ia berasal dari salah satu kota di daerah pedalaman Mesir. Ayahnya seorang
Nubian (sebutan bagi penduduk Nubiah, dan termasuk keturunan pembesar Quraisy).
Dzun Nun Al-Misri meninggal pada tahun 246 H/856 M. Ia dimakamkan di pemakaman
As-Syafi’i. Tatkala orang mengusung jenazahnya, muncullah sekawanan burung
hijau yang memayungi jenazahnya dan seluruh pengiring jenazah dengan
sayap-sayap hijau burung tersebut. Dan pada hari ke-2, orang-orang menemukan
tulisan pada nisan makam beliau, “Dzun Nun adalah kekasih Allah, diwafatkan
karena rindu” dan setiap kali orang akan menghapus tulisan itu, maka muncul
kembali seperti sedia kala.
Pandangan
tasawuf Dzun Nun Al-Misri:
Dzun
Nun pernah mengatakan, bahwa neraka bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti,
yang lebih ditakuti adalah ketika berpisah dari kekasih sejati. Ketakutannya
tak lebih dari setetes air yang dibuang ke samudera cinta Allah.
Dzun
Nun mengatakan bahwa sufi ialah orang yang tidak meminta dan tidak merasa
kesusahan karena ketiadaan. Beliau mengatakan bahwa “Ahlak seorang Arif Billah
adalah Allah, dan orang yang arif selalu akan bersifat seperti sifat-sifat
Tuhan dan selalu menjaga perilakunya agar tidak terjebak dalam kenistaan dunia
yang menghanyutkan dan menghinakan orang yang dekat kepada Allah”.
Secara
umum, pandangan tasawuf sedikit berbeda dengan pemikiran-pemikiran tasawuf para
sufi lainnya. Dia pun menjelaskan konsep tasawufnya yang menonjol yaitu tentang
ma’rifat. Sebagai sufi, Dzun Nun AL-Misri dikenal sebagai bapak paham ma’rifat.
Karena teorinya tentang ilmu tersebut sangat mencolok. Ma’rifat adalah
mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari dapat melihatNya. Selain
konsep ma’rifat, juga mengungkapkan pengalamannya tentang khauf (rasa takut
kepada Allah dan mahabbah). [8]
2.
Riwayat
hidup Hasan AL-Basri dan pandangan tasawufnya
Hasan
Al-Basri nama lengkapnya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Abu Said. Tempat
lahirnya adalah di Madinah pada tahun 21 H/642 M, dan dia meninggal di basroh
pada tahun 110 H/728 M. Hasan Al- Basri hidup di lingkungan orang-orang yang shaleh yang mendalami agama.
Ibunya bernama Ummu Salamah seorang hamba sahaya istri Nabi.
Hasan
Al- Basri seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. Prinsip ajarannya
yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan semangatnya.
Dasar pendirian Hasan Al- Basri adalah hidup zuhud terhadap kehidupan duniawi
yang tahu dosanya dan yang selalu beribadah kepada Allah. Tentang kehidupan
zuhud beliau berkata ”dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai
perasaan bersamanya atau dalam menyertainya. Barang siapa menyertainya dengan
perasaan ingin memilikinya dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh
dunia serta di antarkan pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh
kesabarannya.[9]
[1] Mahjuddin,
Pendidikan Hati; kajian tasawuf amali, (Jakarta: KALAM MULIA, 2001), hlm 6
[3] Mukhtar Hadi, Memahami Ilmu Tasawuf
“Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf, (Yogyakarta: Aura Media, 2009), hlm. 217
[4] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus
Ilmu Tasawuf, (Wonosobo: Penerbit
AMZAH, 2005), hlm. 239
[5] Mukhtar Hadi, Memahami Ilmu Tasawuf
“Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf, (Yogyakarta: Aura Media, 2009), hlm, 75
[6] Mukhtar
Hadi, Memahami Ilmu Tasawuf “Sebuah
Pengantar Ilmu Tasawuf”. (Yogyakarta : Aura Media, 2009), hlm. 76
[8] A. Bangun
Nasution dan Rayani Hanum S, Ahlak Tasawuf, (Depok: PT. Raja Grafindo
Persada, 2013), hlm. 235-237
[9] A. Bangun
Nasution dan Rayani Hanum S, Ahlak Tasawuf, (Depok: PT. Raja Grafindo
Persada, 2013), hlm. 206
kereeeen
BalasHapus