Kamis, 08 Januari 2015

MAKALAH TAFSIR ILMU PENGETAHUAN




       I.          PENDAHULUAN
             Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Al-qur’an yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya. Termasuk didalamnya menjelaskan pengaruh ilmu didunia dan akhirat, mendorong untuk belajar dan mengajar serta meletakkan kaidah-kaidah yang pasti untuk tujuan tersebut dalam sumber-sumber islam yang asasi.
             Ayat al-qur’an yang pertama kali diturunkan kehati rasulullah SAW juga menunjukkan pada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu dengan memerintahkannya membaca, sebagai kunci ilmu pengetahuan dan menyebut qolam sebagai alat transformasi ilmu pengetahuan yang didalamnya Allah SWT menyebut nikmatNya dengan mengajar manusia apa yang tidak ia ketahui. Hal itu menunjukkan akan kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan. [1]Di makalah ini akan membahas apa pengetian pendidikan dan bagaiman tafsir ayat mengenai ilmu pendidikan.

    II.            PEMBAHASAN
1.      Pengertian dari ilmu pengetahuan
Kata ilmu baik dalam bentuk ma’rifat(secara khusus) maupun dalam bentuk nakiroh (secara umum) disebut berulang-ulang, bahkan hampir sebanyak seratus kali disebut dalam ayat alqur’an. Kata kata yang berasal dari kata dasar ‘ilm dalam al-qur’an dipergunakan dalam bermacam-macam ilmu, baik keagamaan maupun keduniaan, seperti dijelaskan didalam surat al-isro’ (17): 36.






Sedangkan ilmu menurut imam raghib al-ashfaghani dalam kitabnya mufrodat al-qur’an, berkata, “ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai hakikatnya. [2]
Sedangkan ilmu pengetahuan itu adalah suatu praktek yang sistematis dari pengetahuan dasar atau perspektif yang mamapu menghasilkan prediksi.[3]

2.      Tafsir Tentang Ayat-Ayat Ilmu Pengetahuan
1.       Ayat  Al-Mujadalah
a.       Ayat dan terjemahan
Al-Mujadalah merupakan salah surat dalam al-qur’an dengan jumlah 22 ayat. Surat ini turun di Madinah. Pada ayat 11 menerangkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang -orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Berikut ayat dan terjemahannya :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur            Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4  ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-mujadalah : 11)



b.      Tafsir ayat al-mujadalah ayat 11
Kata tafassahu pada ayat tersebut maksudnya adalah tawassa’u yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan. Sedangkan kata yafsahillahillahu lakum maksudnya allah akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka. unsuzyu maksudnya saling merendahkan hati untuk member kesempatan kepada setiap orang yang datang. Yarfa;illahu ladzina amanu, maksudnya allah akan mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan kemuliaan dan ketinggian derajadnya.
Adapun makna potongan ayat idza qila lakum tafassakhu fil majaalisi fafsakhu maksudnya adalah apabila kamu diminta berdiri selama berada dimjalis rasulullah, maka segeralah berdiri, karena Rasulullah terkadang mengamati keadaan setiap individu, sehingga dapat diketahui sikap keagamaan orang terssebut. Atau kare hal demikian,  hal demikian Rasulullah saw ingin menyerahkan suatu tugas khusus yang tidak mungkin tugas tersebut tidak dapat dikerjakan oleh orang lain. Berhubungan dengan hal demikian, maka bagi orang yang datang terdahulu di majelis tersebut tidak boleh mempersilahkan orang datang belakangan untuk duduk di tempat duduknya. Imam Malik, Bukhori, Muslim dan Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seseorang tidak sepastasnya mempersilahkan tempat duduknya kepada orang lain(yang datang belakangan), tetapi untuk memeberikan kelapangan dan memepersilahkan untuk duduk.
Pada potongan ayat yarfaillahulladzina ‘amanu minkum wal ladzina utul ‘ilma darojah  maksudnya adalah bahwa Allah  Swt akan mengangkat orang-orang mukmin yang melaksanakan segala perintahNya dan perintah RasulNya dengan meninggikan kedudukan yang khusus, baik dari segi pahala maupun keridhoanNya.  Orang mukmin dianjurkan memberian kelapangan kepada sesama kawannya ketika berada di majelis. Allah swt tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hambanya, melainkan akan di berikan balasan yang setimpal didunia dan akhirat.
Sedangkan makna dari ayat wa Allahu bima ta’maluna khobir maksudnya bahwa Allah swt mengetahui setiap perbuatan yang baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya.[4]
c.       Asbabun Nuzul  Q.S Al-Mujadalah : 11
Sebab turunnya ayat ini, diriwatkan dari qatadah yang berkata “suatu saat, diantara sahabat ada yang ketika melihat seorang sahabat lain datang untuk ikut duduk dekat mereka, sewaktu menghadiri majelis rasulullah saw, mereka lantas tidak mau melapangkan tempat duduk.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqotil bahwa ayat ini turun pada hari jumat. Ketika itu, melihat beberapa sahabat yang dulunya mengikuti perang badar dari kalangan muhajirin maupun anshor. [5]  diantaranya tsabit ibn qais mereka telah didahului orang dalam hal tempat duduk. Lalu merekapun berdiri dihadapan rasulullah saw kemudian mereka mengucapakan salam dan Rasullullah menjawab salam mereka, kemudian mereka menyalami orang-orang dan orang-orang pun menjawab salam mereka. mereka berdiri menunggu untuk diberi kelapangan, tetapi mereka tidak diberi kelapangan. Rasullullah merasa berat hati kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang disekitar beliau ,”berdirilah engkau wahai fulan, berdirilah engkau wahai fulan”. Merekapun tampak berat dan ketidak enakan beliau tampak oleh mereka. kemudian orang-orang itu berkata, “demi allah swt, dia tidak adil kepada mereka. orang-orang itu telah mengambil tempat duduk mereka dan ingin berdekat dengan Rasulullah saw tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk orang-orang yang datang terlambat. [6]



2.      Surat at taubah
a.       Surat dan terjemahan
Surat at-taubah merupakan salah satu surat dalam al-qur’an. Dengan jumlah ayat di 129. Surat ini di turunkan di Madinah setalah Rasul hijrah. Pada ayat 122 menjelakan mengenai adab dalam majlis ilmu dan perintah untuk mencari ilmu dan mengajarkannya. Berikut ayat dan terjemahannya :
* $tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts ÇÊËËÈ  
122. tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-taubah : 122)
b.      Munasabah : 
Ayat-ayat yang lalu menerangkan bahwa  ketika kita sedang berada di suatu majelis terlebih lagi itu adalah majelis ilmu maka kita di suruh untuk melapangkan tempat dan berbagi dengan orang-orang yang baru datang. Bahwa perintah untuk saling meluangkan dan saling meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang di mungkinkan, karena cara demikia n dapat menimbulkan keakraban diantara sesama orang yang ada di majelis.
c.       Tafsir surat at-taubah ayat 122
Kata nafara berati  berangkat perang; kata laula berarti anjuran, dorongan dan kecaman;  kata al-rirqah berarti kelompok besar; at-tha’ifah berarti keliompok  kecil; kata tafaqqah mempunyai arti berusaha keras untuk mendalami dan memahami suatu perkara dengan susah

payah untuk memperolehnya; kata anzarahu mempunyai arti menakut-nakuti dia; haziru berarti berhati hati terhadapnya.
Potongan ayat  wama kana Al mukminuna liyanfiru kaffah mempunyai arti tidaklah patut bagi orang-orang mu’min, dan tidak juga dituntut supaya mereka seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan peperangan. Karena, perang itu fardhu kifayah, yang apabila telah dilaksanakan oleh sebagian maka gugurlah yang lain.
Sedangkan potongan ayat falau laa nafara min kulli firqoh minhum li yatafaqqahu fi ad-din wa liyundhiru qoumahum idza rojau ilaihim laallahum yahdharun memiliki penjelasan yaitu mengapa tidak segolongan saja, atau sekelompok kecil saja yang berangkat ke medan tempur dari tiap-tiap golongan besar kaum mukmin, seperti penduduk suatu negri atau suatu suku, dengan maksud supaya orang-orang mukmin seluruhnya dapat mendalami agama mereka. yaitu dengan cara orang yang tidak berangkat dan tinggal dikota (Madinah), berusaha keras untuk memahami agama dan selanjutnya memberikan peringatan kepada kaumnya yang pergi perang menghadapi musuh, apabila mereka telah kembali.
Ayat  tersebut merupakan isyarat tentang wajibnya pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya di tempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. sehingga mereka tak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mu’min.[7]




d.      Asbabun nuzul Q.S at-taubah: 122
Ibnu hatim meriwayatkan dari ‘ikrimah bahwa ketika turun ayat, ‘jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih …”(Q.S at-taubah: 39) padahal waktu itu sejumlah orang tidak ikut pergi berperang karena sedang berada di padang pasir vuntuk mengajar agama kepada kaum mereka, maka orang-orang munafik mengatakan,”ada beberapa orang diadang pasir tinggal (tidak berangkat perang ).celakalah orang-orang padang pasir itu”. Maka turunlah ayat, “dan tidak sepatutnya orang-orang mu’min itu semuanya pergi (ke medan perang).
Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, katanya, ’karena amat bersemangat untuk berjihad, apabila Rasulullah saw mengirim suatu  regu pasukan, kaum muslimin biasanya ikut bergabung didalamnya dan meninggalkan nabi Muhammad saw di Madinah bersama sejumlah kecil warga. Maka turunlah ayat ini”. [8]
3.      Surat az-zumar
a.       Surat dan terjemahan
Az zumar ayat 9 menjelaskan mengenai adakah perbedaan antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui, yaitu orang berilmu dengan yang tidak. Dan mendorong untuk menggunakan pikiran, akal, dan nalar untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
b.      Munasabah;
ayat sebelumnya menjelaskan bahwasanya terlihat adanya hubungan antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui yaitu dengan yang melakukan ibadah di waktu malam karena takut dengan siksaan Allah di akhirat dengan yang melakukan maksiat. Dan menerangkan bahwa sikap yang demikian adalah salah satu ciri dari ulul albab yaitu orang yang menggunakan pikiran, akal dan nalar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada tujuan peningkatan akidah, ketekunan beribadah dan ketinggian akhlak yang mulia.
c.       Tafsir surat az-zumar: 9
Penafsiran perkataan sulit didalam surat az zumar terdapat kata al-qonitu yang mempunyai arti orang-orang yang memiliki ketaatan yang diwajibkan kepadanya, anaallaili yaitu saat-saat malam dan yakhdharul akhiroh yaitu takut kepada adzab di akhirat.
Ayat yang berbunyi amman huwa qanitu anaallaili sajidan wa qoima yakhdharul akhirota wa yarju rohmata robbihi menjelaskan apakah kamu  hai orang musyrik lebih baik keadan dan nasibmu daripada orang yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya sehingga ibadah diwaktu itu lebih dekat untuk diterima, sedang orang itudalam keadaan takut dan berharap ketika beribadah, kesimpulannya apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Keduanya tentu tidak sama.

Selanjutnya potongan ayat yang berbunyi qul hal yastawi alladzina ya’maluna walladzina la ya’lamun. Perkataan tersebut dinyatakan dalam susunan pertanyaan (istifham) untuk menunjukan bahwa orang yang pertama mencapai derajat kebaikan tertinggi, sedang yang lain jatuh kedalam jurang keburukan. Dan hal iu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membatah. Kemudian Allah swt menerangkan bahwahal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh setiap orang yang mempunyai akal.karena orang-orang yang tida tahu, seperti yang telah disebutkan, dalam hati mereka terdapat tutup sehingga tidak dapat memahami suatu nasehat, dan tidak berguna bagi mereka suatu perinagatan.
Sedangkan ayat yang berbunyi innama yatadzakkaru ulul albab adalah bahwa sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran dari hujjah-hujjah Alllah swt dan dapat menuruti nasehat-Nya dan dapat memikirkan-Nya, hanyalah orang-orang yang mempunyai akal dan pikiran yang sehat, bukan orang-orang yang bodoh dan lalai.kesimpulannya sesungguhnya yang mengetahi perbedaan antara orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu hanyalah orang yang memiliki akal pikiran yang sehat, yang dia pergunakan untuk berpikir.[9]
d.      Asbabun nuzul surat az zumar: 9
Tenttang  sebab turunnya ayat ini, Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Ibn Umar yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan Ustman bin Affan.’’
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari al-Kalbi dari Abu Saleh dari ibn Abbas yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan Amar bin Yasir.’’
Juwaibir meriwayatkan dati ibn Abbas yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan ibn Mas’ut. Amar bin Yasir dan Salim, pelayan Abu Hudzaifah.’’


Juwaibir juga meriwayatkan dari Ikrimah yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan Amar bin Yasir.[10]
A.    Analisis
Di dalam Alqur’an terdapat banyak ayat yang menerangkan tentang ilmu pengetahuan. Dan sebagai contoh wahyu pertama yang turun yaitu surat al-Alaq ayat 1-5 yang diturunkan sebagai perintah untuk membaca karena membaca adalah pintu pertama untuk mengetahui sesuatu. Al-Qur’an juga memerintahkan untuk mencari ilmu dan mendorong menggunakan akal dan pikiran untuk mencari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memuji orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan menyebut mereka dengan alladzina utul ‘ilma dan Allah menisbatkan kepada mereka beberapa keutamaan pemikiran, keimanan, serta akhlak dengan mengangkat derajatnya.
 III.            KESIMPULAN
Dari makalah dapat disimplkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang penting dalam alqu’an di buktikan dengan banyaknya ayat yang mejelaskan keutamaan memuntut ilmu.
Demikian makalah tafsir mengenai ilmu pengetahuan yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat di dunia dan akhirat bagi kita semua.






[1] Yusuf qardhawi, Al-Qur’an berbicara tentang akall dan ilmu pengetahuan, (jakarta:gema insani, 1998), hal. 90-91.
[2] Ahsin W.Al-Hafidz, kamus ilmu alqur’an, (jakrta: amzah,2005), hal. 114.
[4] Abuddin nata, tafsir ayat-ayat pendidikan,(Jakarta: PT raja grafindo persadaa, 2009), hlm. 151-155
[5] Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema insane, 2008), hlm.554
[6] Ahmad musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 28, (semarang: toha putra, 1993), hlm.23-24
[7] Ahmad musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 11, (semarang: toha putra, 1993), hlm.84-86
[8] Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema insane, 2008), hlm.309
[9] Ahmad musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 23, (semarang: toha putra, 1993), hlm.277-279
[10] Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema insane, 2008), hlm.482

Tidak ada komentar:

Posting Komentar