I. PENDAHULUAN
Tidak ada agama selain Islam dan tidak
ada kitab suci selain Al-qur’an
yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya,
dan memuji orang-orang yang menguasainya. Termasuk didalamnya menjelaskan
pengaruh ilmu didunia dan akhirat, mendorong untuk belajar dan mengajar serta
meletakkan kaidah-kaidah yang pasti untuk tujuan tersebut dalam sumber-sumber
islam yang asasi.
Ayat al-qur’an yang pertama kali diturunkan kehati rasulullah SAW juga
menunjukkan pada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu dengan memerintahkannya
membaca, sebagai kunci ilmu pengetahuan dan menyebut qolam sebagai alat
transformasi ilmu pengetahuan yang didalamnya Allah SWT menyebut nikmatNya
dengan mengajar manusia apa yang tidak ia ketahui. Hal itu menunjukkan akan
kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan. [1]Di makalah ini akan membahas apa pengetian
pendidikan dan bagaiman tafsir ayat mengenai ilmu pendidikan.
II.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
dari ilmu pengetahuan
Kata ilmu baik dalam bentuk ma’rifat(secara
khusus) maupun dalam bentuk nakiroh (secara
umum) disebut berulang-ulang, bahkan hampir sebanyak seratus kali disebut dalam
ayat alqur’an. Kata kata yang berasal dari kata dasar ‘ilm dalam al-qur’an
dipergunakan dalam bermacam-macam ilmu, baik keagamaan maupun keduniaan,
seperti dijelaskan didalam surat al-isro’ (17): 36.
Sedangkan
ilmu menurut imam raghib al-ashfaghani dalam kitabnya mufrodat al-qur’an,
berkata, “ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai hakikatnya. [2]
Sedangkan
ilmu pengetahuan itu adalah suatu praktek yang sistematis dari pengetahuan dasar atau perspektif
yang mamapu menghasilkan prediksi.[3]
2.
Tafsir
Tentang Ayat-Ayat Ilmu Pengetahuan
1.
Ayat
Al-Mujadalah
a.
Ayat
dan terjemahan
Al-Mujadalah merupakan salah surat dalam al-qur’an dengan jumlah 22
ayat. Surat ini turun di Madinah. Pada ayat 11 menerangkan bahwa Allah akan
meninggikan derajat orang -orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu
beberapa derajat. Berikut ayat dan terjemahannya :
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#þqãZtB#uä
#sÎ)
@Ï%
öNä3s9
(#qßs¡¡xÿs?
Îû
ħÎ=»yfyJø9$#
(#qßs|¡øù$$sù
Ëx|¡øÿt
ª!$#
öNä3s9
(
#sÎ)ur @Ï%
(#râà±S$#
(#râà±S$$sù
Æìsùöt
ª!$#
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
öNä3ZÏB
tûïÏ%©!$#ur
(#qè?ré&
zOù=Ïèø9$#
;M»y_uy
4 ª!$#ur
$yJÎ/
tbqè=yJ÷ès?
×Î7yz
ÇÊÊÈ
11.
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-mujadalah :
11)
b.
Tafsir
ayat al-mujadalah ayat 11
Kata tafassahu
pada ayat tersebut maksudnya adalah tawassa’u yaitu saling meluaskan dan
mempersilahkan. Sedangkan kata yafsahillahillahu lakum maksudnya allah
akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka. unsuzyu maksudnya saling
merendahkan hati untuk member kesempatan kepada setiap orang yang datang. Yarfa;illahu
ladzina amanu, maksudnya allah akan mengangkat derajat mereka yang telah
memuliakan dan memiliki ilmu di akhirat pada tempat yang khusus sesuai dengan
kemuliaan dan ketinggian derajadnya.
Adapun makna
potongan ayat idza qila lakum tafassakhu fil majaalisi fafsakhu
maksudnya adalah apabila kamu diminta berdiri selama berada dimjalis
rasulullah, maka segeralah berdiri, karena Rasulullah terkadang mengamati
keadaan setiap individu, sehingga dapat diketahui sikap keagamaan orang
terssebut. Atau kare hal demikian, hal
demikian Rasulullah saw ingin menyerahkan suatu tugas khusus yang tidak mungkin
tugas tersebut tidak dapat dikerjakan oleh orang lain. Berhubungan dengan hal
demikian, maka bagi orang yang datang terdahulu di majelis tersebut tidak boleh
mempersilahkan orang datang belakangan untuk duduk di tempat duduknya. Imam
Malik, Bukhori, Muslim dan Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “seseorang tidak sepastasnya mempersilahkan tempat
duduknya kepada orang lain(yang datang belakangan), tetapi untuk memeberikan
kelapangan dan memepersilahkan untuk duduk.
Pada potongan
ayat yarfaillahulladzina ‘amanu minkum wal ladzina utul ‘ilma darojah
maksudnya adalah bahwa Allah Swt akan mengangkat orang-orang mukmin yang
melaksanakan segala perintahNya dan perintah RasulNya dengan meninggikan
kedudukan yang khusus, baik dari segi pahala maupun keridhoanNya. Orang mukmin dianjurkan memberian kelapangan
kepada sesama kawannya ketika berada di majelis. Allah swt tidak akan
menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hambanya, melainkan akan di
berikan balasan yang setimpal didunia dan akhirat.
Sedangkan makna
dari ayat wa Allahu bima ta’maluna khobir maksudnya bahwa Allah swt mengetahui
setiap perbuatan yang baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya.[4]
c.
Asbabun
Nuzul Q.S Al-Mujadalah
: 11
Sebab turunnya
ayat ini, diriwatkan dari qatadah yang berkata “suatu saat, diantara sahabat
ada yang ketika melihat seorang sahabat lain datang untuk ikut duduk dekat
mereka, sewaktu menghadiri majelis rasulullah saw, mereka lantas tidak mau
melapangkan tempat duduk.
Ibnu Abi Hatim
meriwayatkan dari Muqotil bahwa ayat ini turun pada hari jumat. Ketika itu, melihat
beberapa sahabat yang dulunya mengikuti perang badar dari kalangan muhajirin maupun anshor. [5] diantaranya tsabit ibn qais mereka telah
didahului orang dalam hal tempat duduk. Lalu merekapun berdiri dihadapan
rasulullah saw kemudian mereka mengucapakan salam dan Rasullullah
menjawab salam mereka, kemudian mereka menyalami orang-orang dan orang-orang
pun menjawab salam mereka. mereka berdiri menunggu untuk diberi kelapangan,
tetapi mereka tidak diberi kelapangan. Rasullullah merasa berat hati kemudian
beliau mengatakan kepada orang-orang disekitar beliau ,”berdirilah engkau wahai
fulan, berdirilah engkau wahai fulan”. Merekapun tampak berat dan ketidak
enakan beliau tampak oleh mereka. kemudian orang-orang itu berkata, “demi allah
swt, dia tidak adil kepada mereka. orang-orang itu telah mengambil tempat duduk
mereka dan ingin berdekat dengan Rasulullah saw
tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk orang-orang yang datang
terlambat. [6]
2.
Surat
at taubah
a.
Surat dan terjemahan
Surat at-taubah
merupakan salah satu surat dalam al-qur’an. Dengan
jumlah ayat di 129. Surat ini di turunkan di Madinah
setalah Rasul hijrah. Pada ayat 122
menjelakan mengenai adab dalam majlis ilmu dan perintah untuk mencari ilmu dan
mengajarkannya. Berikut ayat dan terjemahannya :
* $tBur c%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuÏ9 Zp©ù!$2 4 wöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuÏj9 Îû Ç`Ïe$!$# (#râÉYãÏ9ur óOßgtBöqs% #sÎ) (#þqãèy_u öNÍkös9Î) óOßg¯=yès9 crâxøts ÇÊËËÈ
122.
tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.(QS. At-taubah : 122)
b. Munasabah :
Ayat-ayat
yang lalu menerangkan bahwa ketika kita
sedang berada di suatu majelis terlebih lagi itu adalah majelis ilmu maka kita
di suruh untuk melapangkan tempat dan berbagi dengan orang-orang yang baru
datang. Bahwa perintah untuk saling meluangkan dan saling meluaskan tempat
ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat
dilakukan sepanjang di mungkinkan, karena cara demikia n dapat menimbulkan
keakraban diantara sesama orang yang ada di majelis.
c.
Tafsir
surat at-taubah ayat 122
Kata nafara
berati berangkat perang; kata laula berarti anjuran, dorongan
dan kecaman; kata al-rirqah berarti kelompok besar; at-tha’ifah berarti
keliompok kecil; kata tafaqqah mempunyai arti
berusaha keras untuk mendalami dan memahami suatu perkara dengan susah
payah untuk memperolehnya; kata anzarahu
mempunyai arti menakut-nakuti dia; haziru
berarti berhati hati terhadapnya.
Potongan
ayat wama kana Al mukminuna liyanfiru kaffah mempunyai arti tidaklah
patut bagi orang-orang mu’min, dan tidak juga dituntut supaya mereka seluruhnya
berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan peperangan.
Karena, perang itu fardhu kifayah,
yang apabila telah dilaksanakan oleh sebagian maka gugurlah yang lain.
Sedangkan
potongan ayat falau laa nafara min kulli
firqoh minhum li yatafaqqahu fi
ad-din wa liyundhiru qoumahum idza rojau ilaihim laallahum yahdharun memiliki penjelasan yaitu mengapa tidak
segolongan saja, atau sekelompok kecil saja yang berangkat ke medan tempur dari
tiap-tiap golongan besar kaum mukmin, seperti penduduk suatu negri atau suatu
suku, dengan maksud supaya orang-orang mukmin seluruhnya dapat mendalami agama
mereka. yaitu dengan cara orang yang tidak berangkat dan tinggal dikota (Madinah),
berusaha keras untuk memahami agama dan selanjutnya memberikan peringatan
kepada kaumnya yang pergi perang menghadapi musuh, apabila mereka telah
kembali.
Ayat tersebut merupakan isyarat tentang wajibnya
pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya di tempat-tempat pemukiman serta
memahamkan orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan
mereka. sehingga mereka tak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum
yang wajib diketahui oleh setiap mu’min.[7]
d.
Asbabun
nuzul Q.S at-taubah: 122
Ibnu hatim
meriwayatkan dari ‘ikrimah bahwa ketika turun ayat, ‘jika kamu tidak berangkat
(untuk berperang), niscaya allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih
…”(Q.S at-taubah: 39) padahal waktu itu sejumlah orang tidak ikut pergi
berperang karena sedang berada di padang pasir vuntuk mengajar agama kepada
kaum mereka, maka orang-orang munafik mengatakan,”ada beberapa orang diadang
pasir tinggal (tidak berangkat perang ).celakalah orang-orang padang pasir
itu”. Maka turunlah ayat, “dan tidak sepatutnya orang-orang mu’min itu semuanya
pergi (ke medan perang).
Ia meriwayatkan
dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, katanya, ’karena
amat bersemangat untuk berjihad, apabila Rasulullah
saw mengirim suatu regu pasukan, kaum
muslimin biasanya ikut bergabung didalamnya dan meninggalkan nabi Muhammad saw
di Madinah bersama sejumlah kecil warga. Maka turunlah ayat ini”. [8]
3. Surat az-zumar
a. Surat dan terjemahan
Az zumar ayat 9
menjelaskan mengenai adakah perbedaan antara orang yang mengetahui dengan yang
tidak mengetahui, yaitu orang berilmu dengan yang tidak. Dan mendorong untuk
menggunakan pikiran, akal, dan nalar untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôèt tûïÏ%©!$#ur w tbqßJn=ôèt 3 $yJ¯RÎ) ã©.xtGt (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah
orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia
takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah:
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
b.
Munasabah;
ayat sebelumnya
menjelaskan bahwasanya terlihat adanya hubungan antara orang yang mengetahui
dengan yang tidak mengetahui yaitu dengan yang melakukan ibadah di waktu malam
karena takut dengan siksaan Allah di akhirat dengan yang melakukan maksiat. Dan
menerangkan bahwa sikap yang demikian adalah salah satu ciri dari ulul albab
yaitu orang yang menggunakan pikiran, akal dan nalar untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan pada tujuan peningkatan akidah, ketekunan beribadah dan ketinggian
akhlak yang mulia.
c.
Tafsir
surat az-zumar: 9
Penafsiran
perkataan sulit didalam surat az zumar terdapat kata al-qonitu yang mempunyai
arti orang-orang yang memiliki ketaatan yang diwajibkan kepadanya, anaallaili
yaitu saat-saat malam dan yakhdharul akhiroh yaitu takut kepada adzab di
akhirat.
Ayat yang
berbunyi amman huwa qanitu anaallaili
sajidan wa qoima yakhdharul akhirota wa yarju rohmata robbihi menjelaskan
apakah kamu hai orang musyrik lebih baik
keadan dan nasibmu daripada orang yang senantiasa menunaikan ketaatan dan
selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat malam, ketika ibadah lebih
berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya sehingga ibadah diwaktu itu lebih
dekat untuk diterima, sedang orang itudalam keadaan takut dan berharap ketika
beribadah, kesimpulannya apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang
bermaksiat. Keduanya tentu tidak sama.
Selanjutnya
potongan ayat yang berbunyi qul hal yastawi alladzina ya’maluna
walladzina la ya’lamun. Perkataan tersebut dinyatakan dalam
susunan pertanyaan (istifham) untuk menunjukan bahwa orang yang pertama
mencapai derajat kebaikan tertinggi, sedang yang lain jatuh kedalam jurang
keburukan. Dan hal iu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan
tidak suka membatah. Kemudian Allah swt menerangkan bahwahal tersebut hanyalah
dapat dipahami oleh setiap orang yang mempunyai akal.karena orang-orang yang
tida tahu, seperti yang telah disebutkan, dalam hati mereka terdapat tutup
sehingga tidak dapat memahami suatu nasehat, dan tidak berguna bagi mereka
suatu perinagatan.
Sedangkan ayat
yang berbunyi innama yatadzakkaru ulul albab adalah bahwa sesungguhnya
yang dapat mengambil pelajaran dari hujjah-hujjah Alllah swt dan dapat menuruti
nasehat-Nya dan dapat memikirkan-Nya, hanyalah orang-orang yang mempunyai akal
dan pikiran yang sehat, bukan orang-orang yang bodoh dan lalai.kesimpulannya
sesungguhnya yang mengetahi perbedaan antara orang yang tahu dengan orang yang
tidak tahu hanyalah orang yang memiliki akal pikiran yang sehat, yang dia
pergunakan untuk berpikir.[9]
d.
Asbabun
nuzul surat az zumar: 9
Tenttang sebab turunnya ayat ini, Ibn Abi Hatim
meriwayatkan dari Ibn Umar yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan Ustman
bin Affan.’’
Ibnu Sa’ad
meriwayatkan dari al-Kalbi dari Abu Saleh
dari ibn Abbas yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan Amar
bin Yasir.’’
Juwaibir
meriwayatkan dati ibn Abbas yang
berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan ibn Mas’ut.
Amar bin Yasir dan Salim, pelayan Abu Hudzaifah.’’
Juwaibir juga
meriwayatkan dari Ikrimah yang berkata,’’ diturunkan berkenaan dengan Amar
bin Yasir.[10]
A. Analisis
Di dalam Alqur’an
terdapat banyak ayat yang menerangkan tentang ilmu pengetahuan. Dan sebagai contoh wahyu pertama yang turun
yaitu surat al-Alaq ayat 1-5 yang diturunkan sebagai perintah untuk membaca
karena membaca adalah pintu pertama untuk mengetahui sesuatu. Al-Qur’an juga
memerintahkan untuk mencari ilmu dan mendorong menggunakan akal dan pikiran
untuk mencari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memuji orang-orang yang
mempunyai ilmu pengetahuan dan menyebut mereka dengan alladzina utul ‘ilma dan Allah menisbatkan kepada mereka beberapa
keutamaan pemikiran, keimanan, serta akhlak dengan mengangkat derajatnya.
III.
KESIMPULAN
Dari makalah dapat disimplkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan
yang penting dalam alqu’an di buktikan dengan banyaknya ayat yang mejelaskan
keutamaan memuntut ilmu.
Demikian makalah tafsir mengenai ilmu pengetahuan yang dapat kami
sampaikan. Semoga bermanfaat di dunia dan akhirat bagi kita semua.
[1]
Yusuf qardhawi, Al-Qur’an berbicara tentang akall dan ilmu
pengetahuan, (jakarta:gema insani, 1998), hal. 90-91.
[2]
Ahsin W.Al-Hafidz, kamus ilmu alqur’an, (jakrta:
amzah,2005), hal. 114.
[4]
Abuddin nata, tafsir ayat-ayat pendidikan,(Jakarta: PT raja grafindo persadaa,
2009), hlm. 151-155
[5]
Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema insane,
2008), hlm.554
[6] Ahmad
musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 28, (semarang: toha putra,
1993), hlm.23-24
[7]
Ahmad musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 11, (semarang: toha
putra, 1993), hlm.84-86
[8]
Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema insane,
2008), hlm.309
[9] Ahmad
musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 23, (semarang: toha putra,
1993), hlm.277-279
[10]
Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema insane,
2008), hlm.482
Tidak ada komentar:
Posting Komentar