1.
PENDAHULUAN
Perkembangan moral adalah
perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain
(santrock, 1995). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral).
Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan.
Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang
tua, saudara, teman sebaya atau guru), anak belajar meahami tentang perilaku
mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang
tidak boleh dikerjakan.
2.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa
pengertian dari perkembangan?
B.
Bagaimana
perkembangan moral pada anak?
C.
Bagaimana
teori perkembangan moral?
D.
Bagaimana
perkembangan agama pada anak?
3.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
perkembangan
Dalam kamus bahasa indonesia kontemporer, perkembangan adalah
perihal berkembang. Selanjutnya, kata berkembang diartikan mekar, terbuka,
membentang, menjadi besar, luas, banyak dan menjadi bertambah sempurna dalam
hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian
perkembangan menurut istilah asingnya adalah development, merupakan rangkaian
perubahan yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan
rohaniah, sebagai akibat kerjasama antara kematangan (maturation) dan pelajaran
(learning).[1]
Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin
membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang
berlangsung secara terus menerus yang bersifat tetap dari fungsi fungsi
jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan
melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan
baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ketahap yang lebih
tinggi. Perkembangan itu bergeraak secara berangsur angsur tetapi pasti,
melalui suatu bentuk/tahap kebentuk atau tahap/bentuk berikutnya, yang kian
hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan
kematian.[2]
B.
Bagaimana
perkembangan moral pada anak
Perkembangan moral pada dasarnya merupakan interaksi, suatu
hubungan timbal balik antara anak dengan anak, antara anak dengan orang tua,
antara peserta peserta didik dengan pendidik, dan seterusnya. Unsur hubungan
timbal balik ini sedemikian penting karena hanya dengan adanya interaksi
berbagai aspek dalam diri seseorang (kognitif, afektif, psikomotorik) dengan
sesamanya atau dengan lingkungannya, maka seseorang dapat berkembang menjadi
semakin dewasa baik secara fisik, spiritual dan moral (Sjakarwi, 2006). Dengan
interaksi maka kesejajaran perkembanagan moral, kognitif dan inteligensi akan
terjadi secara harmonis. Hal itu sejalan dengan dengan pandangan Piaget bahwa
intelegensi berkembang sebagai akibat hubungan timbal balik antara unsur
keturunan dan lingkungan, hubungan itu begitu menentukan sama halnya dlam
perkembangan moral seseorang.
Perkembangan merupakan proses
dinamis yang umum dalam setiap budaya. Moral berkembang menurut serangkaian
tahap perkembangan psikologis. Kohlberg telah menunjukkan dengan penelitiannya
bahwa tahap-tahap perkembangan moral berlaku sama bagi setiap orang, tidak
memandang lingkup budaya, tempat, kelas dalam masyarakat, kasta dan agama.
Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg menunjukkan suatu tingkatan
sistematis , urutan bertahap, dari tingkat prakonvensional sampai
pascakonvensional. Itu berarti bahwa perkembangan pengertian dan pertimbangan
moral dibatasi oleh perkembangan umur dan tahapan. Isi pertimbangan moralnya
dapat berbeda-beda, namun kerangka berpikir pertimbangannya sama, begitu juga
urutan tahap perkembangannya sama. Memang jarang ada orang yang perkembangan
moralnya mencapai tahap lima atau enam, karena perkembangan pendewasaan moral
itu tidak terjadi dengan sendirinya secara otomatis. Orang harus
mengembangkannya sendiri. Partisipasi dalam peran-peran sosial serta hubungan
antarpribadi yang dialami seseorang amat menentukan proses perkembangan
kedewasaan moralnya. Pengalaman itulah yang akan mengajar mereka untuk
berkembang mencapai tahap terakhir.
Perkembangan moral itu bertahap,
artinya kedewasaan moral seseorang hanya dapat meningkat satu tahap lebih
tinggi keatasnya. Kedewasaan moral tahap kedua hanya dapat memahami
pertimbangan moral tahap keempat. Tiap tahap yang lebih tinggi selalu lebih
umum dan kurang berpusat pada diri sendiri serta menghendaki sedikit saja
rasionalisasi. Oleh sebab itu, pendidikan moral tidak banyak artinya jika
materi tentang tahap-tahap tentang kedewasaan moral disampaikan hanya dengan
ceramah, tanpa mengajak peserta didik mengalami sendiri tingkat kedewasaan tiap
tahap dan bagaimana dapat berkembang ke satu tingkat diatasnya (Cheppy, 1988).[3]
C.
Teori
perkembangan moral pada anak
Di dalam
perkembangan moral pada anak, terdapat beragai teori seperti :
1)
Teori
psikoanalisa
Dalam
menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagian struktur
kepribadian manusia ada tiga, yaitu id, ego dan superego. Menurut psikolanalisa
klasik freud, semua orang mengalami konflik oedipus. Konflik ini akan
menghasilkan pembentukan struktur kepribadian yang dinamakan freud sebagai
superego. Ketika anak mengatasi konflik oedipus ini, maka perkembangan moral
dimulai. Salah satu alasan mengapa anak mengatasi konflik oedipus adalah
perasaan khawatir akan kehilangan kasih sayang orang tua dan ketakutan akan
dihukum karena keinginan seksual mereka yang tidak dapat diterima terhadap
orang tua yang berbeda jenis kelamin.
2)
Teori
belajar sosial
Teori
belajar sosial melihat tingkah laku moral sebagai respons atas stimulus. Dalam
hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, peniruan digunakan untuk
menjelaskan perilaku moral anak-anak.
3)
Teori
kognitif piaget
Teori
piaget mengenai perkembangan moral melibatkan prinsip prinsip dan proses proses
yang sama dengan pertumbuhan kognitif yang ditemui dalam teorinya tentang
perkembangan intelektual. Bagi piaget, perkembangan moral digambarkan melalui
aturan permainan. Karena itu, hakikat moralitas adalah kecenderungan untuk
menerima dan menaati sistem peraturan.
4)
Teori
kohlberg
Teori
kohlberg tentang perkembangan moral merupakan perluas, modifikasi, dan redefeni
atas teori piaget. Teori ini didasarkan atas analisisnya terhadap hasil
wawancara dengan anak laki-laki usia 10 hingga 16 tahun yang dihadapkan pada
suatu dilema moral, dimana mereka harus memilih antara tindakan mentaati
peraturan atau memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang bertentangan dengan
peraturan.[4]
D.
Perkembangan
agama pada anak
Menurut
penelitian Ernest Harms perkembangan anak-anak itu mengalami beberapa fase
(tingkatan). Didalam bukunya The Thevelopment of religious on children ia
mengatakan bahwa perkembangan pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan :
1)
The
fairy stage (tingkat dongeng)
Tingkatan
ini dimulai anak yang berusia 3-6 tahun, pada tingkatan ini konsep mengenai
tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat
perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat
intelektualnya.
2)
The realistic
stage (tingkat kenyataan)
Tingkat
ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar sampai ke usia (masa usia)
adolensense. Pada masa ini ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep
yang berdasarkan pada kenyataan (realis). Konsep ini melalui lembaga-lembaga
keagamaan dan pengajarn agama dari orang dewasa lainnya.
3)
The
individual stage (tingkat individu)
Pada
tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan
dengan perkembangan usia mereka. Konsep ini terbagi menjadi tiga :
a.
Konsep
ketuhanan yang konvesional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil
fantasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pengaruh luar.
b.
Konsep
ke-Tuhanan yang murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal
(perorangan).
c.
Konsep
ke-Tuhanan yang humanistik. Agama telah menjadi etos humanistik pada diri
mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini dipengaruhi oleh faktor
intern yaitu perkembangan usia dan
faktor ekstern berupa pengaruh luar yang
dialaminya.[5]
4.
KESIMPULAN
Masa anak-anak adalah masa ingin
tahu sehingga kita sebagai tenaga pendidik harus memberikan tingkah laku dan
perilaku moral kepada peserta didik. Terutama dalam perilaku moral anak juga diberikan pembelajaran spiritual
atau agama agar anak tidak jauh dari agama dan membiasakan diri dengan perilaku
berakhlak sebagai perkembangan moralnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada masa perkembangan agamanya kita
juga harus memberikan pemahaman akan adanya tuhan kedalam jiwa mereka dan
menyadari akan adanya Tuhan sebagai pencipta segala bentuk kehidupan dan menonjolkan dasar agama dengan
nilai-nilai spiritualitas dan moralitas.
5.
PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun dan kami menyadari ada banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami
membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk perbaikan
makalah selanjutnya. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga makalah ini
bermanfaat. aamiin
[1]
Romlah, psikologi
pendidikan, (Malang : Universitas muhammadiyah malang , 2004) hlm. 90-91
[2] Desmita, psikologi
perkembangan peserta didik, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009 ) hlm. 9
[3]
Sutarjo
Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Karakter, (Depok: Raja Grafindo Persada,
2012), hlm. 4-5
[4]
Desmita,
psikologi perkembangan peserta didik, (Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2011
), hlm. 258-261
Tidak ada komentar:
Posting Komentar