Kamis, 08 Januari 2015

MAKALAH PERKEMBANGAN AGAMA DAN MORAL ANAK


1.      PENDAHULUAN
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (santrock, 1995). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara, teman sebaya atau guru), anak belajar meahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.
2.      RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dari perkembangan?
B.     Bagaimana perkembangan moral pada anak?
C.     Bagaimana teori perkembangan moral?
D.    Bagaimana perkembangan agama pada anak?

3.      PEMBAHASAN
A.    Pengertian perkembangan
Dalam kamus bahasa indonesia kontemporer, perkembangan adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata berkembang diartikan mekar, terbuka, membentang, menjadi besar, luas, banyak dan menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian perkembangan menurut istilah asingnya adalah development, merupakan rangkaian perubahan yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan rohaniah, sebagai akibat kerjasama antara kematangan (maturation) dan pelajaran (learning).[1]
Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus yang bersifat tetap dari fungsi fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ketahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergeraak secara berangsur angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap kebentuk atau tahap/bentuk berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.[2]
B.     Bagaimana perkembangan moral pada anak
Perkembangan moral pada dasarnya merupakan interaksi, suatu hubungan timbal balik antara anak dengan anak, antara anak dengan orang tua, antara peserta peserta didik dengan pendidik, dan seterusnya. Unsur hubungan timbal balik ini sedemikian penting karena hanya dengan adanya interaksi berbagai aspek dalam diri seseorang (kognitif, afektif, psikomotorik) dengan sesamanya atau dengan lingkungannya, maka seseorang dapat berkembang menjadi semakin dewasa baik secara fisik, spiritual dan moral (Sjakarwi, 2006). Dengan interaksi maka kesejajaran perkembanagan moral, kognitif dan inteligensi akan terjadi secara harmonis. Hal itu sejalan dengan dengan pandangan Piaget bahwa intelegensi berkembang sebagai akibat hubungan timbal balik antara unsur keturunan dan lingkungan, hubungan itu begitu menentukan sama halnya dlam perkembangan moral seseorang.
            Perkembangan merupakan proses dinamis yang umum dalam setiap budaya. Moral berkembang menurut serangkaian tahap perkembangan psikologis. Kohlberg telah menunjukkan dengan penelitiannya bahwa tahap-tahap perkembangan moral berlaku sama bagi setiap orang, tidak memandang lingkup budaya, tempat, kelas dalam masyarakat, kasta dan agama. Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg menunjukkan suatu tingkatan sistematis , urutan bertahap, dari tingkat prakonvensional sampai pascakonvensional. Itu berarti bahwa perkembangan pengertian dan pertimbangan moral dibatasi oleh perkembangan umur dan tahapan. Isi pertimbangan moralnya dapat berbeda-beda, namun kerangka berpikir pertimbangannya sama, begitu juga urutan tahap perkembangannya sama. Memang jarang ada orang yang perkembangan moralnya mencapai tahap lima atau enam, karena perkembangan pendewasaan moral itu tidak terjadi dengan sendirinya secara otomatis. Orang harus mengembangkannya sendiri. Partisipasi dalam peran-peran sosial serta hubungan antarpribadi yang dialami seseorang amat menentukan proses perkembangan kedewasaan moralnya. Pengalaman itulah yang akan mengajar mereka untuk berkembang mencapai tahap terakhir.
            Perkembangan moral itu bertahap, artinya kedewasaan moral seseorang hanya dapat meningkat satu tahap lebih tinggi keatasnya. Kedewasaan moral tahap kedua hanya dapat memahami pertimbangan moral tahap keempat. Tiap tahap yang lebih tinggi selalu lebih umum dan kurang berpusat pada diri sendiri serta menghendaki sedikit saja rasionalisasi. Oleh sebab itu, pendidikan moral tidak banyak artinya jika materi tentang tahap-tahap tentang kedewasaan moral disampaikan hanya dengan ceramah, tanpa mengajak peserta didik mengalami sendiri tingkat kedewasaan tiap tahap dan bagaimana dapat berkembang ke satu tingkat diatasnya (Cheppy, 1988).[3]


C.     Teori perkembangan moral pada anak
Di dalam perkembangan moral pada anak, terdapat beragai teori seperti :
1)      Teori psikoanalisa
Dalam menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagian struktur kepribadian manusia ada tiga, yaitu id, ego dan superego. Menurut psikolanalisa klasik freud, semua orang mengalami konflik oedipus. Konflik ini akan menghasilkan pembentukan struktur kepribadian yang dinamakan freud sebagai superego. Ketika anak mengatasi konflik oedipus ini, maka perkembangan moral dimulai. Salah satu alasan mengapa anak mengatasi konflik oedipus adalah perasaan khawatir akan kehilangan kasih sayang orang tua dan ketakutan akan dihukum karena keinginan seksual mereka yang tidak dapat diterima terhadap orang tua yang berbeda jenis kelamin.

2)      Teori belajar sosial
Teori belajar sosial melihat tingkah laku moral sebagai respons atas stimulus. Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak.
3)      Teori kognitif piaget
Teori piaget mengenai perkembangan moral melibatkan prinsip prinsip dan proses proses yang sama dengan pertumbuhan kognitif yang ditemui dalam teorinya tentang perkembangan intelektual. Bagi piaget, perkembangan moral digambarkan melalui aturan permainan. Karena itu, hakikat moralitas adalah kecenderungan untuk menerima dan menaati sistem peraturan.
4)      Teori kohlberg
Teori kohlberg tentang perkembangan moral merupakan perluas, modifikasi, dan redefeni atas teori piaget. Teori ini didasarkan atas analisisnya terhadap hasil wawancara dengan anak laki-laki usia 10 hingga 16 tahun yang dihadapkan pada suatu dilema moral, dimana mereka harus memilih antara tindakan mentaati peraturan atau memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang bertentangan dengan peraturan.[4]






D.    Perkembangan agama pada anak
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan anak-anak itu mengalami beberapa fase (tingkatan). Didalam bukunya The Thevelopment of religious on children ia mengatakan bahwa perkembangan pada anak-anak itu  melalui tiga tingkatan :
1)      The fairy stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimulai anak yang berusia 3-6 tahun, pada tingkatan ini konsep mengenai tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat intelektualnya.
2)      The realistic stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar sampai ke usia (masa usia) adolensense. Pada masa ini ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada kenyataan (realis). Konsep ini melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajarn agama dari orang dewasa lainnya.
3)      The individual stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep ini terbagi menjadi tiga :
a.       Konsep ketuhanan yang konvesional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pengaruh luar.
b.      Konsep ke-Tuhanan yang murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c.       Konsep ke-Tuhanan yang humanistik. Agama telah menjadi etos humanistik pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini dipengaruhi oleh faktor intern  yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern  berupa pengaruh luar yang dialaminya.[5]




4.      KESIMPULAN
Masa anak-anak adalah masa ingin tahu sehingga kita sebagai tenaga pendidik harus memberikan tingkah laku dan perilaku moral kepada peserta didik. Terutama dalam perilaku moral  anak juga diberikan pembelajaran spiritual atau agama agar anak tidak jauh dari agama dan membiasakan diri dengan perilaku berakhlak sebagai perkembangan moralnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada masa perkembangan agamanya kita juga harus memberikan pemahaman akan adanya tuhan kedalam jiwa mereka dan menyadari akan adanya Tuhan sebagai pencipta segala bentuk kehidupan  dan menonjolkan dasar agama dengan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas.



5.      PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun dan kami menyadari  ada banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga makalah ini bermanfaat. aamiin


[1] Romlah, psikologi pendidikan, (Malang : Universitas muhammadiyah malang , 2004) hlm. 90-91
[2] Desmita, psikologi perkembangan peserta didik, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009 ) hlm. 9
[3] Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Karakter, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 4-5
[4] Desmita, psikologi perkembangan peserta didik, (Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2011 ), hlm. 258-261

Tidak ada komentar:

Posting Komentar