Kamis, 08 Januari 2015

MAHASISWA DAN BUDAYA MEMBACA



‘’Al ilmu bil qiro’ah” begitulah bunyi salah satu mutiara arab yang berarti ilmu itu dengan membaca. Begitupun dengan ayat pertama yang diturunkan kepada nabi muhammad, “iqra’’ yang menyuruh kita untuk membaca. Sejatinya membaca adalah dasar mendapatkan ilmu. Tentunya kita juga  pernah mendengar bahwa ’’buku itu jendela dunia’’, dengan membuka buku (membaca) kita bisa  membuka dunia, bahkan dimulai dengan membaca dunia bisa kita kuasai. Begitu urgennya membaca mengingat membaca adalah tingkatan yang paling dasar sebelum melanjutkan kejenjang yang  lebih lanjut. Membaca juga sangat diperlukan dan menjadi sebuah kebutuhan yang  sangat penting bagi para mahasiswa.  
            Mahasiswa dan membaca adalah sebuah keterkaitan yang erat, karena disadari atau tidak aktivitas membaca menjadi makanan pokok seorang mahasiswa.  Tapi melihat geliat membaca mahasiswa akhir-akhir ini terutama di kampus UIN WALISONGO untuk skala kecil yaitu kelas begitu memprihatinkan. Lihat saja setiap perkuliahan, keadaan yang sama terjadi setiap kali menunggu dosen, mahasiswa sibuk dengan urusannya sendiri. Bukan urusan dengan buku tapi lebih ke ngobrol bareng, pencet-pencet hp atau leptop bahkan ada yang terbengong-bengong sendiri.  Nuansa akademis begitu tak terasa ketika harus berjibaku mengikuti perkuliahan. Kekurang gairahan dalam membaca ini berimplikasi ketika diskusi, terkadang diskusi berjalan begitu sepi, tanpa suara audiens, komentar, pertanyaan, apalagi sanggahan. Lagi-lagi ternyata makalahnya tidak dibaca, begitulah realita yang terjadi dikelas saya tercinta.
            Untuk fasilitas penunjang membaca seperti perpustakaan dan lainnya sudah tersedia, namun kenapa minat dan gairah membaca begitu minimal di kalangan mahasiswa dewasa ini. Permasalahan ini adalah memberikan sebuah tanda tanya besar dan mengapa?.  Keadaan seperti  ini tidak boleh dibiarkan begitu saja dengan sikap cuek ataupun acuh tak acuh.  Keprihatinan akan keadaan yang tak seharusnya terjadi di dunia akaemis ini haruslah segera ditangani agar tak menjadi sebuah budaya. Ketidaksadaran akan pentingnya membaca adalah faktor  pertama penyebab kecuekan terhadap aktivitas membaca.  Kesadaran akan pentingnya membaca harus dibangkitkan semenjak dini, sejak anak-anak bisa membaca. Pemupukan itu perlu pada minat agar tumbuh gairah untuk terus membaca dan membaca. 
            Untuk taraf mahasiswa mengembalikan minat dan gairah membaca memang harus diperlukan tenaga extra. Apalagi untuk membudayakan budaya membaca, kiranya bukanlah sesuatu yang semu. Fasilitas yang lengkap adalah kontribusi utama dalam mewujudkan budaya membaca.  Acara bedah buku rutin juga bisa dijadikan sebagai sarana penunjang, bahkan diskusi-diskusi kecil membahas sebuah buku bisa dijadikan alternatif bagi mahasiswa untuk menumbuhkan rasa suka akan bacaan. Selain itu keberadaan bazar buku juga ikut berkontribusi menyediakan bahan bacaan, dan fasilitas internet yang bagus juga bisa dijadikan sebagai sarana mengembangkan budaya membaca ala “tekhnologi”.
            Memang sudah seharusnya, budaya yang harus dibudayakan dalam ranah kehidupan kampus adalah budaya membaca. Sudah sepatutunya juga jika kesadaran untuk terus membaca dan membaca terpatri kuat. Karena dari membaca itulah atmosfer keakademikan akan begitu terasa, dan nuansa kampus dengan segala agenda nya akan terasa lebih hidup.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar