‘’Al ilmu bil qiro’ah” begitulah bunyi salah satu mutiara arab yang
berarti ilmu itu dengan membaca. Begitupun dengan ayat pertama yang diturunkan
kepada nabi muhammad, “iqra’’ yang menyuruh kita untuk membaca. Sejatinya
membaca adalah dasar mendapatkan ilmu. Tentunya kita juga pernah mendengar bahwa ’’buku itu jendela
dunia’’, dengan membuka buku (membaca) kita bisa membuka dunia, bahkan dimulai dengan membaca
dunia bisa kita kuasai. Begitu urgennya membaca mengingat membaca adalah
tingkatan yang paling dasar sebelum melanjutkan kejenjang yang lebih lanjut. Membaca juga sangat diperlukan
dan menjadi sebuah kebutuhan yang sangat
penting bagi para mahasiswa.
Mahasiswa dan
membaca adalah sebuah keterkaitan yang erat, karena disadari atau tidak
aktivitas membaca menjadi makanan pokok seorang mahasiswa. Tapi melihat geliat membaca mahasiswa
akhir-akhir ini terutama di kampus UIN WALISONGO untuk skala kecil yaitu kelas
begitu memprihatinkan. Lihat saja setiap perkuliahan, keadaan yang sama terjadi
setiap kali menunggu dosen, mahasiswa sibuk dengan urusannya sendiri. Bukan
urusan dengan buku tapi lebih ke ngobrol bareng, pencet-pencet hp atau leptop
bahkan ada yang terbengong-bengong sendiri.
Nuansa akademis begitu tak terasa ketika harus berjibaku mengikuti
perkuliahan. Kekurang gairahan dalam membaca ini berimplikasi ketika diskusi,
terkadang diskusi berjalan begitu sepi, tanpa suara audiens, komentar, pertanyaan,
apalagi sanggahan. Lagi-lagi ternyata makalahnya tidak dibaca, begitulah
realita yang terjadi dikelas saya tercinta.
Untuk fasilitas
penunjang membaca seperti perpustakaan dan lainnya sudah tersedia, namun kenapa
minat dan gairah membaca begitu minimal di kalangan mahasiswa dewasa ini.
Permasalahan ini adalah memberikan sebuah tanda tanya besar dan mengapa?. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja dengan
sikap cuek ataupun acuh tak acuh.
Keprihatinan akan keadaan yang tak seharusnya terjadi di dunia akaemis
ini haruslah segera ditangani agar tak menjadi sebuah budaya. Ketidaksadaran
akan pentingnya membaca adalah faktor
pertama penyebab kecuekan terhadap aktivitas membaca. Kesadaran akan pentingnya membaca harus
dibangkitkan semenjak dini, sejak anak-anak bisa membaca. Pemupukan itu perlu
pada minat agar tumbuh gairah untuk terus membaca dan membaca.
Untuk taraf
mahasiswa mengembalikan minat dan gairah membaca memang harus diperlukan tenaga
extra. Apalagi untuk membudayakan budaya membaca, kiranya bukanlah sesuatu yang
semu. Fasilitas yang lengkap adalah kontribusi utama dalam mewujudkan budaya
membaca. Acara bedah buku rutin juga
bisa dijadikan sebagai sarana penunjang, bahkan diskusi-diskusi kecil membahas
sebuah buku bisa dijadikan alternatif bagi mahasiswa untuk menumbuhkan rasa
suka akan bacaan. Selain itu keberadaan bazar buku juga ikut berkontribusi
menyediakan bahan bacaan, dan fasilitas internet yang bagus juga bisa dijadikan
sebagai sarana mengembangkan budaya membaca ala “tekhnologi”.
Memang sudah
seharusnya, budaya yang harus dibudayakan dalam ranah kehidupan kampus adalah
budaya membaca. Sudah sepatutunya juga jika kesadaran untuk terus membaca dan
membaca terpatri kuat. Karena dari membaca itulah atmosfer keakademikan akan
begitu terasa, dan nuansa kampus dengan segala agenda nya akan terasa lebih
hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar