PONDOK PESANTREN SALAFIYAH
I.
PENDAHULUAN
Pesantren merupakan salah satu jenis
pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama
Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian. Pesantren telah hidup
sejak ratusan tahun yang lalu, serta telah menjangkau hampir seluruh lapisan
masyarakat muslim. Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah
ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung,
pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi
masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan.
Pesantren memiliki ciri yang khas
yang membedakannya dengan instansi pendidikan yang lainnya. Diantaranya adalah
metode yang digunakan dan sistem pendidikan yang dikelolanya. Pesantren juga
memiliki tradisi yang menjadikannya berbeda dengan instansi pendidikan
lainya.Pesantren juga mempunyai sejarah yang panjang dan berliku dalam
kehidupannya di negeri ini. Pertama kali diyakini dibawa oleh para walisongo,
institusi pendidikan ini akhirnya menjadi ladang pemberdayaan bagi para pemuda
Indonesia sejak zaman sebelum dan pada masa kolonialisme.
Pesantren salaf adalah salah satu khazanah pendidikan
islam di indonesia. Dari sejak didirikannya pada abad ke 16 hingga saat ini
pesantren tetap eksis dan memainkan peranannannya yang semakin besar dalam
kehidupan masyarakat indonesia yang beragam melalui tradisinya yang unik dan
berbasis pada religiusitas ajaran agama islam pesantren salaf telah memiliki nama tersendiri.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa
pengertian dari pondok pesantren?
B.
Bagaimana
sejarah pondok pesantren di Indonesia?
C.
Apa
pengertian dari pondok pesantren salafiyah ?
D.
Apa
saja karakteristik pondok pesantren salafiyah?
E.
Bagaimana
sistem pembelajaran di pondok pesantren salafiyah?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dari pondok pesantren
Perkataan pesantren beraasal dari kata santri dengan awalan pe
dan akhiran an yang berarti tempat tinggal santri (dhofier 1984:18 ).[1] Selain
itu, dalam bahasa arab pesantren sering disebut dengan istilah ma’had ) معهد ج معاهد ( yang berarti perkumpulan, tempat pendidikan.[2] Kuttab
demikian demikian salah satu istilah yang diperkenalkan oleh pendiri-pendiri
awal pesantren. Berasal dari bahasa Arab, yakni kuttaabun kataatiibun.
Berarti, sekolah permulaan, tingkatan sekolah awal atau rendah. Ini merupakan
wahana dan lembaga pendidikan Islam yang semula sebagai lembaga baca dan tulis
dengan sistem halaqah (wetonan), dan berkembang pesat karena didukung
oleh iuran masyarakat serta adanya aturan dan tata tertib yang harus
dipatuhi oleh guru dan murid.[3]
Dengan nada yang sama Soegada Poerbakawatja menjelaskan pesantren
adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal
dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama islam kepada santri-santri
berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh ulama abad
pertengahan dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren
tersebut.[4]
Dengan demikian dalam lembaga pendidikan islam yang disebut pesantren
tersebut sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur : kiai, santri asjid sebagai
tempat penyelenggaraan pendidikan dan pondok atau asrama sebagai tempat
tinggasl para santri serta kitab kitab klasik sebgai sumber atau bahan belajar.[5]
Menurut Manfred Ziemek kata pondok berasal dari kata funduq (arab)
yang berati ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok emang merupakan
tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat
asalanya. Sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan
pe dan akhiran –an yang berti menunjukan tempat maka artinya
adalah tempat para santri . terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant
(manusia baik) dengakata tra (suka menolong) sehingga kata pesantren
dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Dalam kamus besar bahas Indonesia pesantren diartikan sebagai
asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara
istilah pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para santri biasa
tinggal di pondok (asrama) dgn materi pengajaran kitab-kitab klasik dan
kitab-kitab umum bertujuan utk menguasai ilmu agama Islam secara detail serta
mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dgn menekankan penting moral dalam
kehidupan bermasyarakat.[6]
Sedangkan menurut Geertz, pengertian pesantren diturunkan dari
bahasa india shastri yang berati ilmuwan hindu yang pandai menulis.
Maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Geertz mengannggap bahwa
pesantren dimodifikasi dari pura hindu.[7]
B.
Sejarah pondok pesantren di Indonesia
Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengembangan agama islam di
tanah air (khususnya dijawa) dimulai dan dibawa oleh walisongo maka model
pesantren dipulau jawa juga mulai berdiri sendiri dan berkembang bersamaan
dengan zaman walisongo. Karena itu tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pondok
pesantren yang pertama kali didirikan adalah pondok pesantren yang didirikan
oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi. Ini karena Syekh
Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 12 rabi’ul awal 822 H bertepatan dengan 8
april 1419 M dikenal juga sebagai Sunan Gresik adalah orang yang pertama dari
sembilan wali yang tyerkenal dalam penyebaran agama islam di jawa.
Meskipun begitu tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan
mengembangkan pondok pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat
atau Sunan Ampel. Beliau mendirikan pesantren di kembang kuning. Kemudian
beliau pindah ke ampel denta surabaya
dan mendirikan pondok pesantren disana. Akhirnya beliau dikenal dengan sebutan
sunan ampel.
Sedangkan kedudukan dan fungsi pesantren pada saat itu belum
sebesar dan sekomplek sekarang. Pada masa awal pesantren hanya berfungsi
sebagai alat islamisasi dan sekaligus emadukan unsur pendidikan, yakni : ibadah
untuk menanamkan iman, tablig untuk menyebarkan ilmu dan amal untuk mewujudkan
kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Tentang kapan pesantren mulai muncul sebagai lembaga pendidikan
islam di indonesia, tidak terdaoat kesepakaatan dikalangan para sarjana.
Asal-usul pesantren dikaitkan dengan tradisi indonesia pra islam mandala,
tempat pertapaan sekaligus pembelajaran bagi para calon pendeta. Pandangan lain
mengaitkan asal usul pesantren dengan dengan desa perdikan dan ajaran tentang
wakaf. Kiranya pertemuan budaya (cultural encounter) antara tradisi mandala,
desa perdikan sebagai tradisi lokal-ajaran wakaf, ajaran islam tentang talab
al ilm dan tradisi pembelajaran islam yang sudah berlangsung sejak awal
perkembangan islam, merupakan faktor yang mendorong proses pelembagaan
(institusionalized) pesantren.
Apalagi dikabarkan bahwa pembelajaran dalam islam yang mengambil
bentuk halaqah sudah ditemukan pada masa samudera pasai dan melaka, dua buah
kerajaan islam penting dan berpengaruh pada abad ke-13. Dipandang dari sudut
ini keberadaan pesantren yang hanay dapat diidentifikasi setelah abad ke-18
jelas tidak dapat dipisahkan dari tradisi pembelajaran islam itu sendiri.[9]
C.
Pengertian Dari Pondok Pesantren Salafiyah
Secara etimologis kata salaf dalam kamus besar bahasa
indonesia (KBBI) berarti ‘’sesuatu atau orang-orang terdahulu, ulama-ulama
terdahulu yang sholeh’’.[10] Abdul
Mughits mengutip pendapat Irfa A.Hamid, secara terminologi khazanah islam,
salaf berarti ulama generasi sahabat, Tabi’in dan Tabi’at At-Tabi’in yang
merupakan kurun terbaik pasca Rasulullah.[11]
Pesanten Salaf adalah bentuk asli dari pesantren. Sejak pertama
kali didirikan oleh Wali Songo, format pendidikan pesantren adalah bersistem
salaf. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف. Dari akar kata yang sama ada beberapa
makna dari kata ‘salaf’ yang berbeda-beda.
Pondok
pesantren salaf (tradisional), Pesantren salaf menurut Zamakhsyari Dhofier,
adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam
klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan
hanya untuk memudahkan sistem sorogan, yang dipakai dalam lembaga-lembaga
pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Sistem
pengajaran pesantren salaf memang lebih sering menerapkan model sorogan dan
wetonan. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Disebut
demikian karena pengajian model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang
biasanya dilaksanakan setelah mengerjakan shalat fardhu.
Pesantren
salaf, atau biasa juga disebut dengan pesantren tradisional. Tipelogi ini
secara khusus akan dibahas lebih rinci dan akan diklasifikasi dengan jelas ciri
pesantren dan pendidikan pesantrennya. Secara umum, biasanya karakter dan ciri
pesantren salaf, meliputi :
a. Sangat terikat pada figur kiai atau sosok kiai menjadi figure central segala bentuk kebijakan yang dijalankan oleh para santrinya.
b. Sholat jama’ah lima waktu, menjadi bagian dari kebiasaan santri sehari-hari.
c. Senang melakukan istighotsah, dan
d. Kontruksi pola hubungan antara kiai, ustad, dan santri sangat erat serta saling bahu membahu.
a. Sangat terikat pada figur kiai atau sosok kiai menjadi figure central segala bentuk kebijakan yang dijalankan oleh para santrinya.
b. Sholat jama’ah lima waktu, menjadi bagian dari kebiasaan santri sehari-hari.
c. Senang melakukan istighotsah, dan
d. Kontruksi pola hubungan antara kiai, ustad, dan santri sangat erat serta saling bahu membahu.
D.
Karakteristik pondok pesantren salafiyah
Persyaratan pokok suatu lembaga untuk bisa digolongkan sebagai pondok
pesantren harus mencukupi elemen-elemen pokok pesantren diantaranya : kiai yang
mendidik, santri yang belajar, guru /ustadz, pengurus, pembelajaran kitab-kitab
klasik.
1. Kiai
Sebutan kiai sangat beragam, antara lain: Ajengan, Elang di jawa barat,
Tuan Guru, Tuan Syeikh di sumatra. Ia adalah tokoh kharismatik yang diyakini
memiliki pengetahuan agama yang luas sebagai pemimpin dan pemilik peesantren.
Dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren Kiai merupakan figur sentral yang
memiliki otoritas untuk merencanakan, menyelenggarakan, mengendalikan,seluruh
pelaksanaan pendidikan.[12]
Menurut asal-usulnya
perkataan Kiai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling
berbeda :
a. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat umpanya’’
kiai garuda kencana’’ dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada dikeraton
yogyakarta.
b. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
c. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama islam yang
memiliki pesantren dan mengajarkan kitab-kitab islam klasik kepada santrinya.
2. Santri
Santri adalah siswa
yang belajar di pesantren, santri ini dapat digolongkan kepada dua kelompok :
a. Santri mukim, yaitu santri yang berdatangan dari tempat yang jauh yang
tidak memungkinkan dia untuk pulang kerumahnya, maka dia mondok (tinggal)
diesantren. Sebagai santri mukim mereka memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
b. Santri kalong, yaitu siswa-siswi yang berasal dari daerah sekitar yang
memungkinkan mereka pulang ketempat kediaman masing-masing. Santri kalong ini
mengikuti pelajaran dengan cara pulang pergi antara rumahnya dengan pesantren.
pada pesantren salaf
atau yang masih tergolong tradisional, lamanya santri bermukim ditempat itu
bukan ditentukan oleh ukuran tahun atau kelas, tetapi diukur dari ktab yang dibaca.[13]
3.
Guru atau ustadz
Ustadz adalah santri
kiai yang dipercayai untuk mengajar agama kepada para santri dan dibimbing atau
di supervisi oleh kiai.
4.
Pengurus
Pengurus pesantren
adalah beberapa warga pesantren yang bersatus bukan kiai, ustadz maupun santri.
Tetapi keberadaannya sangat diperlukan untuk ikut serta mengurus dan memajukan
pesantren bersama unsur-unsur pelaku lainnya. Namun, umumnya mereka bukan
ustadz, santri senior dan alumni pesantren tersebut. Peran mereka tidak
dibatasi pada manajerial, pembangunan fisik, dan hal non edukatif lainnya,
tetapi juga ikut memberikan pelajaran agama, membimbing para santri dan
memberikan pertimbangan keputusan kepada kyai.[14]
5.
Pengajaran kitab-kitab
klasik
Menurut azyumardi azra
kitab klasik atau yang disebut kitab kuning adalah kitab-kitab keagamaan yang
berbahsa arab melayu, jawa atau bahasa-bahasa lokal lain di indonesia dengan
menggunakan aksara arab yang ditulis oleh ulama di timur tengah atau ulama
indonesia ssedniri.
Kitab kuning memiliki
peran strategis didalam transformasi keilmuan dipesantren, bahkan ia merupakan
referensi tunggal paling dini dalam tradisi intelektual islam nusantara karena
dokumentasi keilmuan islam yang kebanyakan berbahsa arab.[15]
E.
Sistem pembelajaran di pondok pesantren salafiyah
Pola pendidikan dan
pengajaran dipondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren
maupun ciri-ciri (karakteristik) pondok pesantren itu sendiri. Dalam
melaksanakan proses pendidikan sebagian besar pesantren di Indonesia pada
umumnya menggunakan beberapa sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat
tradisional.
Sistem tradisional
adalah sistem yang berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederhana yakni
pola pengajian sorogan, bandongan, wetonan dan musyawarah dalam mengkaji
kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dan
kitab-kitab itu dikenal dengan istilah ‘’kitab kuning’’.[16]
Secara garis besar
metode pengajaran yang dilaksanakan di pesantren dapat dikelompokan menjadi dua
sistem pengajaran. Dimana diantara masing-masing sistem memiliki kekhasan dan
ciri khas tersendiri. Diantaranya :
1. Metode wetonan (halaqoh)
Istilah weton berasal
dari bahasa jawa yang diartikan berkala atau berwaktu. Pengajian weton tidak
merupakan pengajian rutin harian, tetapi dilaksanakan pada saat-saat tertentu.[17]
Metode ini di dalamnya
terdapat seorang kyai yang membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, sedangkan
santrinya membawa kitab yang sama lalu santri mendengar dan menyimak bacaan
kyai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara
kolektif.[18]
Termasuk dalam kelompok
sistem bendongan atau weton ini adalah halaqah, yaitu model pengajian yang
umumnya dilakukan dengan cara mengitari gurunya. Para santri duduk melingkar
untuk mempelajari atau mendiskusikan suatu masalah tertentu di bawah bimbingan
seorang guru.[19]
Sistem
weton adalah sistem tertua di pondok pesantren menyertai sistem sorogan dan
tentunya merupakan inti dari pengajaran disuatu pesantren. Dan sistem ini
adalah sistem yang banyak dipakai diberbagai pondok pesantren.[20]
2. Metode sorogan
Adapun istilah sorogan berasal dari kata sorog (jawa) yang
berarti menyodorkan. Sebab secara bergilir antri menyodorkan kitabnya di
hadapan kyai atau badal (pembantunya).[21]
Dipesantren besar sorogan dilakukan dua atau tiga orang santri saja, yang
biasanya terdiri dari keluarga kyai atau santri-santri yang diharapakan dikemudian
hari menjadi orang alim. Dalam sistem pengajaran model ini seorang santri harus
betul-betul menguasai ilmu yang dipelajarinya sebelum kemudian mereka dinyatakan
lulus, karena sistem pengajaran ini dipantau langsung oleh kyai. Dalam
perkembangan selanjutnya sistem ini semakin jarang dipraktekkan dan ditemui
karena memakan waktu lama.
3. Metode bandongan
Sistem pengajaran yang serangkaian dengan sistem sorogan dan wetonan adalah
bandongan, yang dalam prakteknya dilaukakn saling kait mengkaitkan dengan yang
sebelumnya. Dalam sistem bandongan ini seorang santri tidak harus menunjukkan
bahwa ia mengerti terhadap pelajaran yang sedang dihadapi atu disampaikan, para
santri biasanya membaca dan menerjemahkan kata-kata yang mudah.
Ketiga pola pengajaran ini berlangsung semata-mata tergantung kepada kyai,
sebab segala sesuatunya berhubungan dengan waktu, tempat dan materi. Selain itu
pengajaran (kurikulum) yang dilaksanakan dipesantren terletak pada kiai atau
ustadz dan sekaligus yang menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di
pondok pesantren. Sebab otoritas kiai sangat dominan didalam pelaksanaan pendidikannya, selain dia sendiri yang
memimpin pondok pesantren.[22]
Disamping itu, musyawarah (diskusi) juga sering digunakan sebagai metode
penting dipeantren. Kiai atau santri senior memimpin kelas musyawarah seperti
dalam suatu seminar:proses pembelajaran banyak dilakukan dalam bentuk tanya
jawab dan biasanya hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa arab. Ini
merupakan sarana latihan bagi para santri untuk menguji ketrampilannya dalam
memahami sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab islam klasik. Tradisi
bahtsul masail (diskusi untuk memecahkan masalah) dilingkungan NU, yang
berlangsung hingga sekarang ini, mirip pembelajaran musyawarah yang berangsung
di pesantren.
Metode pemebelajaran lain yang sangat penting dalam konteks sistem
pembelajaran tradisional islam, adalah hafalan (memorization). Dilingkungan
pesantren menghafal merupakan metode pembelajaran yang sangat penting. Santri
tidak hanya dituntut menghafal sebagian ayat-ayat al-quran tetapi juga mengahfal
teks-teks dalam kitab-kitab klasik. Pada umumnya yang dihafal adalah
kitab-kitab yang ditulis dalam bentuk puisi atau syair. Dalam tradsi pesantren
kitab atat bahsa arab (nahwu) alfiyyah ibn malik merupakan kitab yang paling
populer untuk dihafal. Kitab yang terdiri dari seribu bait syair tersebut
seringkali menjadi tolak ukur kemampuan santri dalam menguasai tata bahasa arab.[23]
IV.
ANALISIS
Terdapat banyak pakar yang telah
memberikan definisi atau penjelasan tentang pondok pesantren baik yang
berasal dari dalam negri maupun ilmuwan
dari luar negri, sebut saja clifford geertz seorang ahli antropologi asal
amerika yang banyak melakukan kajian dibidang agama, termasuk kajiannya
terhadap pesantren di Indonesia. termasuk martin van bruinessen antropolog dari
belanda yang banyak melakukan kajian terhadap pesantren dan pendidikan islam
tradisional di Indonesia.
Pesantren dengan sejarahnya yang panjang
telah meberikan warna tersendiri bagi pendidikan islam di Indonesia. melihat
sejarah perkembangannya, sejatinya pesantren memiliki waktu yang panjang untuk
menancapkan pengaruhnya dan memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan negara. Sepak
terjang pesantren dalam membangun citra di masyarakat telah terlihat hasilnya
di masa sekarang. Pesantren menjadi salah satu pendidikan yang diperhitungkan
kredibilitasnya.
Pesantren salafiyah adalah pesantren
mayoritas di Indonesia, terdapat diberbagai daerah dan memiliki pengaruh yang
cukup mumpuni dikalangan maasyarakat pada umumnya. Pesantren salafiyah dalam
bentuknya adalah berbeda dengan pondok pesantren modern, prinsip-prinsip
tradisional masih senantiasa dipegang dan diamalkan sebagai bentuk penjagaan
terhadap budaya dan khazananh lokal keindonesian.Pesantren salafiyah telah
menciptakan kultur dan tradisinya sendiri yang berbeda dengan pendidikan pada
umumnya, kearifan lokal tetap dijaga,
tradisi-tradisi islam tetap tumbuh dan terpelihara didalam komunitas pesantren
salafiyah.
Karakteristik pesantren terdiri dari
kiai yang memilik kharismatik sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi
pesantren dan juga pesntren ditopang oleh unsur-unsur lain seperti para ustadz
yang ikut serta dalam pelaksanaan pendidikan dipesantren, pengurus sebagai
partner kiai dalam menjalankan program-program pesantren dan tentunya adalah
para santri baik yang muqim maupun yang kalong. Semuanya membentuk sinergitas
dan interaksi yang terjalin adalah interaksi yang menjunjung tinggi nilai andap
ashor atau tata krama antara santri
dengan kiai maupun ustadznya. Interaksi antara santri dengan santri lain
menghasilkan harmonisasi.
Metode pengajaran di pesantren
memiliki tiga metode yang paling sering digunakan oleh pesantren salafiyah pada
umumnya. Diantaranya adalah bandongan, wetonan, dan sorogan. Walaupun banyak
kritikan dari berbagai macam pihak yang menilai bahwa pola pembelajaran di
pesantren bersifat teacher centered atau berpusat pada guru sehingga
membelenggu kekreatifitasan santri metode-metode tersebut tetap membudaya
dikalangan pesantren.
V.
KESIMPULAN
Pondok pesantren berasal dari kata
pondok ‘’funduq (arab) yang berati ruang tidur atau wisma sederhana, karena
pondok emang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh
dari tempat asalanya. Sedangkan kata
pesantren berasal dari kata santri yang
diimbuhi awalan pe dan akhiran –an yang berti menunjukan tempat maka artinya
adalah tempat para santri . terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant
(manusia baik) dengakata tra (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat
berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Pondok pesantren merupakan
pendidikan tradisionalis di Indonesia yang masih menggunakan kitab-kitab klasik
karya ulama sebagia rujukan atau referensi.
Pesantren telah
berdiri sejak zaman walisongo, dibuktikan dengan adanya pondok pesantren yang
pertama kali didirikan adalah pondok pesantren yang didirikan oleh syekh
maulana malik ibrahim atau syekh maulana maghribi, walaupun begitu tokoh yang
dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pondok pesantren dalam arti yang
sesungguhnya adalah raden rahmat atau sunan ampel. Beliau mendirikan pesantren
di kembang kuning.
Karakteristik
pesantren terdiri dari kiai, ustadz, pengurus, santri yang belajar adalah
bagian penting dan harus ada dalam sebuag lembaga bernama pondok pesantren.
Selain itu bangunan-bangunan penunjang lainnya seperti masjid adalah penting
sebagai tempat pembelajaran. Dan juga pembelajaran atau kajian terhadap
kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu adalah karakteristik khusus yang adaa
di pindok pesantren salaf.
Pondok pesantren
salaf masih menganut metode tradisional dalam melakukan sistem pembelajarannya
yaitu menggunakan metode bandongan, sorogan dan wetonan. Ketiga metode tersebut
adalah yang menjadi ciri khas dari sebuah pondok pesantren salafiyah diseluruh
Indonesia.
VI.
PENUTUP
Demikian makalah yang telah kami
susun tentang pondok pesantren salafiyah
dalam rangka untuk memenuhi tugas ujian akhir mata kuliah islam dan budaya
jawa. Tentunya didalam pembuatan makalah masih ada kesalahan, kami mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca guna perbaikan makalah. Semoga karya tulis ini
membawa manfaat untuk kita semua. Aamiin
[1]
Haidar Putra Dauli, Sejarah Pertumbuhan Dan
Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta : Predana Media Grup, ) hlm 61.
[2].Mahmud Yunus, Kamus
Arab-Indonesia, 1972.
[3]
Abd. Mujib dan Jusuf Mudzakir,.Ilmu Pendidikan Islam,
(Jakarta :kencana, 2006)
[4]
Sudjoko Prasodjo,
Profil Pesantren, (Jakarta: Grasindo, 2014) hal 104.
[5]
Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam , (Jakarta : Prenada Media Group ,2009) hlm 286.
[6]
Kamus besar bahasa indonesia
[7]
Wahjoetomo, Perguruan
Tinggi Pesantren, (Jakarta : Gema
insani press, 1997) hal 70.
[8]
Wahjoetomo, Perguruan
Tinggi Pesantren,( Jakarta : Gema Insani Press, 1997) hal 70-71.
[9]
Arief Subhan, Lembaga
Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke20, (Jakarta : kencana 2012) hal 79-80.
[10]
Tim Penyusun
Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka :
2002) Hal. 982.
[11]
Abdul Mughits, Kritik
Nalar Fiqh Pesantren, (Jakarta: Kencana, 2008) hlm. 126.
[12]
Ahmad Muthohar,
Ideologi Pendidikan Pesantren ,(Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2002) Hal 32.
[13]
Haidar Putra
Dauli, Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta
: Predana Media Grup ) Hlm 64-65.
[14]
Ahmad Muthohar,
Ideologi Pendidikan Pesantren , (Semarang
: Pustaka Rizki Putra, 2002) Hal 35.
[15] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif, (Malang : Uin Maliki Press, 2011) Hal 63.
[16] Binti Maunah, Tradisi Intelektual Santri, (Yogyakarta:
Teras, 2009) Hal 29.
[17]
Hasbullah, Kapita
Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : Rajawali Press, 1999) Hal. 52.
[18] Muhaimin & Abdul
Mujib, Pemikiran Pendidikan Agama Islam (Kajian Filosofis Dan Kerangka Dasar
Operasionalisasinya), (Bandung: Trigenda Karya, 1993), Hlm. 300.
[19] Wahjoetomo, Perguruan
Tinggi Pesantren, ( Jakarta : Gema Insani Press, 1997) Hal 83.
[20] Ridlwan Nasir,
Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2005),
Hal 113.
[21] ______ Mencari
Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar
2005), Hal 111.
[23]
Arief Subhan, Lembaga
Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke20, (Jakarta : Kencana 2012) Hal 87-88.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar