Rabu, 07 Januari 2015

DEMOKRASI DARI BILIK PESANTREN


PONDOK PESANTREN SALAFIYAH
       I.            PENDAHULUAN
Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun yang lalu, serta telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim. Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung, pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan.
Pesantren memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan instansi pendidikan yang lainnya. Diantaranya adalah metode yang digunakan dan sistem pendidikan yang dikelolanya. Pesantren juga memiliki tradisi yang menjadikannya berbeda dengan instansi pendidikan lainya.Pesantren juga mempunyai sejarah yang panjang dan berliku dalam kehidupannya di negeri ini. Pertama kali diyakini dibawa oleh para walisongo, institusi pendidikan ini akhirnya menjadi ladang pemberdayaan bagi para pemuda Indonesia sejak zaman sebelum dan pada masa kolonialisme.
            Pesantren salaf adalah salah satu khazanah pendidikan islam di indonesia. Dari sejak didirikannya pada abad ke 16 hingga saat ini pesantren tetap eksis dan memainkan peranannannya yang semakin besar dalam kehidupan masyarakat indonesia yang beragam melalui tradisinya yang unik dan berbasis pada religiusitas ajaran agama islam pesantren salaf  telah memiliki nama tersendiri.

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dari pondok pesantren?
B.     Bagaimana sejarah pondok pesantren di Indonesia?
C.     Apa pengertian dari pondok pesantren salafiyah ?
D.    Apa saja karakteristik pondok pesantren salafiyah?
E.     Bagaimana sistem pembelajaran di pondok pesantren salafiyah?




 III.            PEMBAHASAN
A.       Pengertian dari pondok pesantren
Perkataan pesantren beraasal dari kata santri dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal santri (dhofier 1984:18 ).[1] Selain itu, dalam bahasa arab pesantren sering disebut dengan istilah ma’had ) معهد ج معاهد  (  yang berarti perkumpulan, tempat pendidikan.[2] Kuttab demikian demikian salah satu istilah yang diperkenalkan oleh pendiri-pendiri awal pesantren. Berasal dari bahasa Arab, yakni kuttaabun kataatiibun. Berarti, sekolah permulaan, tingkatan sekolah awal atau rendah. Ini merupakan wahana dan lembaga pendidikan Islam yang semula sebagai lembaga baca dan tulis dengan sistem halaqah (wetonan), dan berkembang pesat karena didukung oleh iuran masyarakat serta adanya aturan dan tata tertib  yang harus dipatuhi oleh guru dan murid.[3]
Dengan nada yang sama Soegada Poerbakawatja menjelaskan pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh ulama abad pertengahan dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.[4]
Dengan demikian dalam lembaga pendidikan islam yang disebut pesantren tersebut sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur : kiai, santri asjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan pondok atau asrama sebagai tempat tinggasl para santri serta kitab kitab klasik sebgai sumber atau bahan belajar.[5]
Menurut Manfred Ziemek kata pondok berasal dari kata funduq (arab) yang berati ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok emang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalanya.  Sedangkan kata pesantren  berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan pe dan akhiran –an yang berti menunjukan tempat maka artinya adalah tempat para santri . terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant (manusia baik) dengakata tra (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Dalam kamus besar bahas Indonesia pesantren diartikan sebagai asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara istilah pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para santri biasa tinggal di pondok (asrama) dgn materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum bertujuan utk menguasai ilmu agama Islam secara detail serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dgn menekankan penting moral dalam kehidupan bermasyarakat.[6]
Sedangkan menurut Geertz, pengertian pesantren diturunkan dari bahasa india shastri yang berati ilmuwan hindu yang pandai menulis. Maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai  membaca dan menulis. Geertz mengannggap bahwa pesantren dimodifikasi dari pura hindu.[7]

B.       Sejarah pondok pesantren di Indonesia
Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengembangan agama islam di tanah air (khususnya dijawa) dimulai dan dibawa oleh walisongo maka model pesantren dipulau jawa juga mulai berdiri sendiri dan berkembang bersamaan dengan zaman walisongo. Karena itu tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pondok pesantren yang pertama kali didirikan adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi. Ini karena Syekh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 12 rabi’ul awal 822 H bertepatan dengan 8 april 1419 M dikenal juga sebagai Sunan Gresik adalah orang yang pertama dari sembilan wali yang tyerkenal dalam penyebaran agama islam di jawa.
Meskipun begitu tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pondok pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Beliau mendirikan pesantren di kembang kuning. Kemudian beliau pindah ke ampel denta  surabaya dan mendirikan pondok pesantren disana. Akhirnya beliau dikenal dengan sebutan sunan ampel.
Sedangkan kedudukan dan fungsi pesantren pada saat itu belum sebesar dan sekomplek sekarang. Pada masa awal pesantren hanya berfungsi sebagai alat islamisasi dan sekaligus emadukan unsur pendidikan, yakni : ibadah untuk menanamkan iman, tablig untuk menyebarkan ilmu dan amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Tentang kapan pesantren mulai muncul sebagai lembaga pendidikan islam di indonesia, tidak terdaoat kesepakaatan dikalangan para sarjana. Asal-usul pesantren dikaitkan dengan tradisi indonesia pra islam mandala, tempat pertapaan sekaligus pembelajaran bagi para calon pendeta. Pandangan lain mengaitkan asal usul pesantren dengan dengan desa perdikan dan ajaran tentang wakaf. Kiranya pertemuan budaya (cultural encounter) antara tradisi mandala, desa perdikan sebagai tradisi lokal-ajaran wakaf, ajaran islam tentang talab al ilm dan tradisi pembelajaran islam yang sudah berlangsung sejak awal perkembangan islam, merupakan faktor yang mendorong proses pelembagaan (institusionalized) pesantren.
Apalagi dikabarkan bahwa pembelajaran dalam islam yang mengambil bentuk halaqah sudah ditemukan pada masa samudera pasai dan melaka, dua buah kerajaan islam penting dan berpengaruh pada abad ke-13. Dipandang dari sudut ini keberadaan pesantren yang hanay dapat diidentifikasi setelah abad ke-18 jelas tidak dapat dipisahkan dari tradisi pembelajaran islam itu sendiri.[9]

C.       Pengertian Dari Pondok Pesantren Salafiyah
Secara etimologis kata salaf dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) berarti ‘’sesuatu atau orang-orang terdahulu, ulama-ulama terdahulu yang sholeh’’.[10] Abdul Mughits mengutip pendapat Irfa A.Hamid, secara terminologi khazanah islam, salaf berarti ulama generasi sahabat, Tabi’in dan Tabi’at At-Tabi’in yang merupakan kurun terbaik pasca Rasulullah.[11]
Pesanten Salaf adalah bentuk asli dari pesantren. Sejak pertama kali didirikan oleh Wali Songo, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف. Dari akar kata yang sama ada beberapa makna dari kata ‘salaf’ yang berbeda-beda.
Pondok pesantren salaf (tradisional), Pesantren salaf menurut Zamakhsyari Dhofier, adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan, yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Sistem pengajaran pesantren salaf memang lebih sering menerapkan model sorogan dan wetonan. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Disebut demikian karena pengajian model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang biasanya dilaksanakan setelah mengerjakan shalat fardhu.
Pesantren salaf, atau biasa juga disebut dengan pesantren tradisional. Tipelogi ini secara khusus akan dibahas lebih rinci dan akan diklasifikasi dengan jelas ciri pesantren dan pendidikan pesantrennya. Secara umum, biasanya karakter dan ciri pesantren salaf, meliputi :
a. Sangat terikat pada figur kiai atau sosok kiai menjadi figure central segala bentuk kebijakan yang dijalankan oleh para santrinya.
b. Sholat jama’ah lima waktu, menjadi bagian dari kebiasaan santri sehari-hari.
c. Senang melakukan istighotsah, dan
d. Kontruksi pola hubungan antara kiai, ustad, dan santri sangat erat serta saling bahu membahu.

D.       Karakteristik pondok pesantren salafiyah
Persyaratan pokok suatu lembaga untuk bisa digolongkan sebagai pondok pesantren harus mencukupi elemen-elemen pokok pesantren diantaranya : kiai yang mendidik, santri yang belajar, guru /ustadz, pengurus, pembelajaran kitab-kitab klasik.
1.      Kiai
Sebutan kiai sangat beragam, antara lain: Ajengan, Elang di jawa barat, Tuan Guru, Tuan Syeikh di sumatra. Ia adalah tokoh kharismatik yang diyakini memiliki pengetahuan agama yang luas sebagai pemimpin dan pemilik peesantren. Dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren Kiai merupakan figur sentral yang memiliki otoritas untuk merencanakan, menyelenggarakan, mengendalikan,seluruh pelaksanaan pendidikan.[12]
Menurut asal-usulnya perkataan Kiai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda :
a.       Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat umpanya’’ kiai garuda kencana’’ dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada dikeraton yogyakarta.
b.      Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
c.       Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama islam yang memiliki pesantren dan mengajarkan kitab-kitab islam klasik kepada santrinya.
2.      Santri
Santri adalah siswa yang belajar di pesantren, santri ini dapat digolongkan kepada dua kelompok :
a.       Santri mukim, yaitu santri yang berdatangan dari tempat yang jauh yang tidak memungkinkan dia untuk pulang kerumahnya, maka dia mondok (tinggal) diesantren. Sebagai santri mukim mereka memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
b.      Santri kalong, yaitu siswa-siswi yang berasal dari daerah sekitar yang memungkinkan mereka pulang ketempat kediaman masing-masing. Santri kalong ini mengikuti pelajaran dengan cara pulang pergi antara rumahnya dengan pesantren.
pada pesantren salaf atau yang masih tergolong tradisional, lamanya santri bermukim ditempat itu bukan ditentukan oleh ukuran tahun atau kelas, tetapi diukur  dari ktab yang dibaca.[13]
3.      Guru atau ustadz
Ustadz adalah santri kiai yang dipercayai untuk mengajar agama kepada para santri dan dibimbing atau di supervisi oleh kiai.


4.      Pengurus
Pengurus pesantren adalah beberapa warga pesantren yang bersatus bukan kiai, ustadz maupun santri. Tetapi keberadaannya sangat diperlukan untuk ikut serta mengurus dan memajukan pesantren bersama unsur-unsur pelaku lainnya. Namun, umumnya mereka bukan ustadz, santri senior dan alumni pesantren tersebut. Peran mereka tidak dibatasi pada manajerial, pembangunan fisik, dan hal non edukatif lainnya, tetapi juga ikut memberikan pelajaran agama, membimbing para santri dan memberikan pertimbangan keputusan kepada kyai.[14]
5.      Pengajaran kitab-kitab klasik
Menurut azyumardi azra kitab klasik atau yang disebut kitab kuning adalah kitab-kitab keagamaan yang berbahsa arab melayu, jawa atau bahasa-bahasa lokal lain di indonesia dengan menggunakan aksara arab yang ditulis oleh ulama di timur tengah atau ulama indonesia ssedniri.
Kitab kuning memiliki peran strategis didalam transformasi keilmuan dipesantren, bahkan ia merupakan referensi tunggal paling dini dalam tradisi intelektual islam nusantara karena dokumentasi keilmuan islam yang kebanyakan berbahsa arab.[15]

E.       Sistem pembelajaran di pondok pesantren salafiyah
Pola pendidikan dan pengajaran dipondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren maupun ciri-ciri (karakteristik) pondok pesantren itu sendiri. Dalam melaksanakan proses pendidikan sebagian besar pesantren di Indonesia pada umumnya menggunakan beberapa sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat tradisional.
Sistem tradisional adalah sistem yang berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederhana yakni pola pengajian sorogan, bandongan, wetonan dan musyawarah dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah ‘’kitab kuning’’.[16]
Secara garis besar metode pengajaran yang dilaksanakan di pesantren dapat dikelompokan menjadi dua sistem pengajaran. Dimana diantara masing-masing sistem memiliki kekhasan dan ciri khas tersendiri. Diantaranya :
1.      Metode wetonan (halaqoh)
Istilah weton berasal dari bahasa jawa yang diartikan berkala atau berwaktu. Pengajian weton tidak merupakan pengajian rutin harian, tetapi dilaksanakan pada saat-saat tertentu.[17]
Metode ini di dalamnya terdapat seorang kyai yang membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama lalu santri mendengar dan menyimak bacaan kyai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif.[18]
Termasuk dalam kelompok sistem bendongan atau weton ini adalah halaqah, yaitu model pengajian yang umumnya dilakukan dengan cara mengitari gurunya. Para santri duduk melingkar untuk mempelajari atau mendiskusikan suatu masalah tertentu di bawah bimbingan seorang guru.[19]
Sistem weton adalah sistem tertua di pondok pesantren menyertai sistem sorogan dan tentunya merupakan inti dari pengajaran disuatu pesantren. Dan sistem ini adalah sistem yang banyak dipakai diberbagai pondok pesantren.[20]
2.      Metode sorogan
Adapun istilah sorogan berasal dari kata sorog (jawa) yang berarti menyodorkan. Sebab secara bergilir antri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau badal (pembantunya).[21]
Dipesantren besar sorogan dilakukan dua atau tiga orang santri saja, yang biasanya terdiri dari keluarga kyai atau santri-santri yang diharapakan dikemudian hari menjadi orang alim. Dalam sistem pengajaran model ini seorang santri harus betul-betul menguasai ilmu yang dipelajarinya sebelum kemudian mereka dinyatakan lulus, karena sistem pengajaran ini dipantau langsung oleh kyai. Dalam perkembangan selanjutnya sistem ini semakin jarang dipraktekkan dan ditemui karena memakan waktu lama.
3.      Metode bandongan
Sistem pengajaran yang serangkaian dengan sistem sorogan dan wetonan adalah bandongan, yang dalam prakteknya dilaukakn saling kait mengkaitkan dengan yang sebelumnya. Dalam sistem bandongan ini seorang santri tidak harus menunjukkan bahwa ia mengerti terhadap pelajaran yang sedang dihadapi atu disampaikan, para santri biasanya membaca dan menerjemahkan kata-kata yang mudah.
Ketiga pola pengajaran ini berlangsung semata-mata tergantung kepada kyai, sebab segala sesuatunya berhubungan dengan waktu, tempat dan materi. Selain itu pengajaran (kurikulum) yang dilaksanakan dipesantren terletak pada kiai atau ustadz dan sekaligus yang menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di pondok pesantren. Sebab otoritas kiai sangat dominan didalam pelaksanaan  pendidikannya, selain dia sendiri yang memimpin pondok pesantren.[22]
Disamping itu, musyawarah (diskusi) juga sering digunakan sebagai metode penting dipeantren. Kiai atau santri senior memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar:proses pembelajaran banyak dilakukan dalam bentuk tanya jawab dan biasanya hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa arab. Ini merupakan sarana latihan bagi para santri untuk menguji ketrampilannya dalam memahami sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab islam klasik. Tradisi bahtsul masail (diskusi untuk memecahkan masalah) dilingkungan NU, yang berlangsung hingga sekarang ini, mirip pembelajaran musyawarah yang berangsung di pesantren.
Metode pemebelajaran lain yang sangat penting dalam konteks sistem pembelajaran tradisional islam, adalah hafalan (memorization). Dilingkungan pesantren menghafal merupakan metode pembelajaran yang sangat penting. Santri tidak hanya dituntut menghafal sebagian ayat-ayat al-quran tetapi juga mengahfal teks-teks dalam kitab-kitab klasik. Pada umumnya yang dihafal adalah kitab-kitab yang ditulis dalam bentuk puisi atau syair. Dalam tradsi pesantren kitab atat bahsa arab (nahwu) alfiyyah ibn malik merupakan kitab yang paling populer untuk dihafal. Kitab yang terdiri dari seribu bait syair tersebut seringkali menjadi tolak ukur kemampuan santri dalam  menguasai tata bahasa arab.[23]

 IV.            ANALISIS
Terdapat banyak pakar yang telah memberikan definisi atau penjelasan tentang pondok pesantren baik yang berasal  dari dalam negri maupun ilmuwan dari luar negri, sebut saja clifford geertz seorang ahli antropologi asal amerika yang banyak melakukan kajian dibidang agama, termasuk kajiannya terhadap pesantren di Indonesia. termasuk martin van bruinessen antropolog dari belanda yang banyak melakukan kajian terhadap pesantren dan pendidikan islam tradisional di Indonesia.  
Pesantren dengan sejarahnya yang panjang telah meberikan warna tersendiri bagi pendidikan islam di Indonesia. melihat sejarah perkembangannya, sejatinya pesantren memiliki waktu yang panjang untuk menancapkan pengaruhnya dan memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan negara. Sepak terjang pesantren dalam membangun citra di masyarakat telah terlihat hasilnya di masa sekarang. Pesantren menjadi salah satu pendidikan yang diperhitungkan kredibilitasnya.
Pesantren salafiyah adalah pesantren mayoritas di Indonesia, terdapat diberbagai daerah dan memiliki pengaruh yang cukup mumpuni dikalangan maasyarakat pada umumnya. Pesantren salafiyah dalam bentuknya adalah berbeda dengan pondok pesantren modern, prinsip-prinsip tradisional masih senantiasa dipegang dan diamalkan sebagai bentuk penjagaan terhadap budaya dan khazananh lokal keindonesian.Pesantren salafiyah telah menciptakan kultur dan tradisinya sendiri yang berbeda dengan pendidikan pada umumnya, kearifan lokal tetap  dijaga, tradisi-tradisi islam tetap tumbuh dan terpelihara didalam komunitas pesantren salafiyah.
Karakteristik pesantren terdiri dari kiai yang memilik kharismatik sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pesantren dan juga pesntren ditopang oleh unsur-unsur lain seperti para ustadz yang ikut serta dalam pelaksanaan pendidikan dipesantren, pengurus sebagai partner kiai dalam menjalankan program-program pesantren dan tentunya adalah para santri baik yang muqim maupun yang kalong. Semuanya membentuk sinergitas dan interaksi yang terjalin adalah interaksi yang menjunjung tinggi nilai andap ashor atau tata krama  antara santri dengan kiai maupun ustadznya. Interaksi antara santri dengan santri lain menghasilkan harmonisasi.
Metode pengajaran di pesantren memiliki tiga metode yang paling sering digunakan oleh pesantren salafiyah pada umumnya. Diantaranya adalah bandongan, wetonan, dan sorogan. Walaupun banyak kritikan dari berbagai macam pihak yang menilai bahwa pola pembelajaran di pesantren bersifat teacher centered atau berpusat pada guru sehingga membelenggu kekreatifitasan santri metode-metode tersebut tetap membudaya dikalangan pesantren.

    V.            KESIMPULAN
Pondok pesantren berasal dari kata pondok ‘’funduq (arab) yang berati ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok emang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalanya.  Sedangkan kata pesantren  berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan pe dan akhiran –an yang berti menunjukan tempat maka artinya adalah tempat para santri . terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant (manusia baik) dengakata tra (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Pondok pesantren merupakan pendidikan tradisionalis di Indonesia yang masih menggunakan kitab-kitab klasik karya ulama sebagia rujukan atau referensi.
            Pesantren telah berdiri sejak zaman walisongo, dibuktikan dengan adanya pondok pesantren yang pertama kali didirikan adalah pondok pesantren yang didirikan oleh syekh maulana malik ibrahim atau syekh maulana maghribi, walaupun begitu tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pondok pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah raden rahmat atau sunan ampel. Beliau mendirikan pesantren di kembang kuning.
            Karakteristik pesantren terdiri dari kiai, ustadz, pengurus, santri yang belajar adalah bagian penting dan harus ada dalam sebuag lembaga bernama pondok pesantren. Selain itu bangunan-bangunan penunjang lainnya seperti masjid adalah penting sebagai tempat pembelajaran. Dan juga pembelajaran atau kajian terhadap kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu adalah karakteristik khusus yang adaa di pindok pesantren salaf.
            Pondok pesantren salaf masih menganut metode tradisional dalam melakukan sistem pembelajarannya yaitu menggunakan metode bandongan, sorogan dan wetonan. Ketiga metode tersebut adalah yang menjadi ciri khas dari sebuah pondok pesantren salafiyah diseluruh Indonesia.

 VI.            PENUTUP
Demikian makalah yang telah kami susun  tentang pondok pesantren salafiyah dalam rangka untuk memenuhi tugas ujian akhir mata kuliah islam dan budaya jawa. Tentunya didalam pembuatan makalah masih ada kesalahan, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna perbaikan makalah. Semoga karya tulis ini membawa manfaat untuk kita semua. Aamiin


[1] Haidar  Putra Dauli, Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia,  (Jakarta :  Predana Media Grup,  ) hlm 61.
[2].Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, 1972.
[3] Abd. Mujib dan  Jusuf Mudzakir,.Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta :kencana,  2006)

[4] Sudjoko Prasodjo, Profil Pesantren,  (Jakarta:  Grasindo, 2014)  hal 104.
[5] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam , (Jakarta : Prenada Media Group ,2009)  hlm 286.

[6] Kamus besar bahasa indonesia
[7] Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren,  (Jakarta : Gema insani press, 1997)  hal 70.
[8] Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren,( Jakarta : Gema Insani Press, 1997) hal 70-71.
                                                                                        
[9] Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke20, (Jakarta : kencana 2012)  hal 79-80.

[10] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka : 2002) Hal. 982.

[11] Abdul Mughits, Kritik Nalar Fiqh Pesantren, (Jakarta: Kencana, 2008)  hlm. 126.
[12] Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan Pesantren ,(Semarang :  Pustaka Rizki Putra, 2002)  Hal 32.
[13] Haidar Putra Dauli, Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta : Predana Media Grup ) Hlm 64-65.
[14] Ahmad Muthohar,  Ideologi Pendidikan Pesantren , (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2002)  Hal 35.
[15] Ahmad Barizi,  Pendidikan Integratif,  (Malang : Uin Maliki Press, 2011) Hal 63.
[16] Binti Maunah,  Tradisi Intelektual Santri, (Yogyakarta: Teras, 2009) Hal 29.

[17] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : Rajawali  Press, 1999) Hal. 52.
[18] Muhaimin & Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Agama Islam (Kajian Filosofis Dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya), (Bandung: Trigenda Karya, 1993), Hlm. 300.
[19] Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, ( Jakarta : Gema Insani Press, 1997) Hal 83.
[20] Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2005), Hal 113.

[21] ______ Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2005),  Hal 111.
[22]  Binti maunah, Tradisi Intelektual Santri, (Yogyakarta: Teras, 2009)  hal 29-30.
[23] Arief Subhan, Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad Ke20, (Jakarta : Kencana 2012) Hal 87-88.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar