Kamis, 08 Januari 2015

Andai Saya Jokowi, Apa yang akan Saya Lakukan?



 Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi, akhir-akhir ini ramai diperbincangkan publik lantaran pencalonannya sebagai capres mendatang. Banyak pihak yang membicarakan hal ini, ada yang pro dan ada yang kontra. Mereka yang pro berpendapat bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang ideal, jujur, peduli, dan merakyat. Bahkan gaya “blusukan” ala Jokowi mampu membuatnya mencapai angka elektabilitas tertinggi dibandingkan dengan calon-calon yang lainnya.
Namun, tak sedikit juga dari masyarakat yang kontra atas pencalonan Jokowi sebagai presiden. Ada yang beralasan sepak terjang politiknya masih kurang, ada pula yang mengatakan ia hanya akan menjadi boneka Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Banyak sekali pendapat-pendapat yang bermunculan ihwal hal ini. Lalu, apa yang sebaiknya Jokowi lakukan? Menjawab pertanyaan ini, seandainya saya adalah Jokowi saya dengan tegas akan menjawab TIDAK.
Sebagai sosok yang dipercaya masyarakat, Jokowi harus memandang masalah ini dari segala sisi. Masa bhaktinya sebagai Gubernur DKI Jakarta harus ia rampungkan lebih dulu. Ini adalah salah satu wujud tanggung jawabnya untuk memimpin kota metropolitan itu. Jakarta adalah ibu dari kota-kota dan provinsi-provinsi lain di Indonesia, sehingga apabila tugasnya membenahi Jakarta berhasil, maka keberhasilan ini akan merembet ke provinsi-provinsi lain.
Selain itu, Jokowi juga harus memikirkan nasib Jakarta apabila ia tinggal “nyapres”. Kekosongan jabatan ini memungkinkan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama, untuk menggantikan jabatannya ini. Padahal, karakter Ahok yang ceplas-ceplos dapat menimbulkan banyak permasalahan. Selain itu, sebagai seorang yang beragama Islam, kita ayalnya dipimpin oleh pemimpin yang juga beragama Islam sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam sendiri.
Meskipun banyak masyarakat yang menginginkannya menjadi presiden, namun tak serta merta Jokowi langsung menerima mandat pencalonan diri itu. Ia harus memiliki pandangan yang visioner. Dukungan dari masyarakat sifatnya adalah sementara. Jika sekali saja ia melakukan kesalahan, tak menutup kemungkinan dukungan itu akan langsung berubah menjadi protes atau bahkan penentangan. Kita ambil contoh apabila Jokowi mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2019, apakah dukungan yang diberikan masyarakat akan sebesar sekarang?
Untuk itu, ada baiknya Jokowi merampungkan masa bhaktinya sebagai Gubernur DKI Jakarta lebih dulu. Adapun untuk mencalonkan diri sebagai presiden, bisa direalisasikan pada pemilu 2019 mendatang. Rentang waktu selama lima tahun ini bisa ia manfaatkan untung mengasah kemampuan berpolitiknya. Ini juga bisa menjawab anggapan masyarakat yang meragukan sepak terjang politiknya. Dengan begini, Jokowi tak merugikan pihak manapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar